Sekotak Takdir Bulu Hidung Kerbau

Standard

Setelah birthday party kecil bareng temen sekelas saya di SMA, saya baru sadar, kepingan hidup saya yang hilang itu sangat berkilau. Saya memang tidak mengamati mereka satu persatu. Saya melihatnya dalam sebuah gambaran besar. Seperti ketika kalian mengambil teropong mainan dan mengarahkannya ke langit malam hari yang dijejali bintang.

Sebulan tidak mendengar suara mereka membuat saya sedikit tersentak. Berapa banyak lagi yang harus saya ingat? Mengapa hal-hal kecil dari mereka sangat mudah membuat saya tersenyum? Saya menjadi bingung, terkikik sendiri pada akhirnya. Pertanyaannya muncul, dimana saya bisa membeli sepaket yang isinya The Rasconema komplit *tanpa hantu2 gaje yang suka bikin beberapa dari kami kerasukan*?

Ya. Seperti mereka bilang, hidup terus berlanjut. Tapi kelanjutan hidup saya tidak akan pernah sama lagi. Tanpa mereka. Tanpa mereka saya sulit tersenyum. Hiburan saya satu-satunya adalah mengobrak abrik tulisan di mbah google, nyuci piring, dan ngomelin adik. Tapi hidup juga tidak berakhir.

The Rasconema itu sekarang seperti lukisan hamparan sawah membentang yang dibelakangnya menjulang tinggi gunung-gunung kekar, bodyguard, siap menjaga sawah itu, dan ada langit biru yang cerah, ada petani-petani imut dengan topi camping cantik yang kuno, ada kerbau-kerbau gemuk yang melenggang dengan wajah cengo. Lukisan itu aslinya nempel di dinding perpus, menutupi hampir seperempat sisinya, membentang dari lantai menyentuh atap.

Saya merindukannya. Lebih merindukan lagi metafora yang saya gambarkan darinya. Setiap dari kami mengambil bagian di sana. Mungkin saya adalah sebatang padi, segumpal awan putih di langit biru jernih, atau pohon yang ada di kaki gunung, atau di puncak, atau bahkan saya hanya bulu hidung kerbau yang tidak terlihat, atau bahkan tidak terlukis. Entah bagaimana saya pernah ada di sana. Pernah menjadi bagian darinya.

Saya memaksa optimis bisa memiliki teman-teman seperti mereka lagi. Tapi saya tahu tidak akan ada yang persis seperti mereka. Setiap bagian dari mereka. Bahkan tidak akan saya temukan lagi senyum keliatan gusi dari pasangan Mami Reni atau papi ozan, dan nggak akan ada yang bisa membentak lebih tegas daripada Bundo. Setiap sisi kehidupan mereka seperti cermin empat arah di mata saya dua bulan lalu. Tapi sekarang cermin-cermin itu sudah dipecah dengan satu kata yang saya nggak pernah ngerti maknanya . Pengukuhan. Kata dasarnya ‘kokoh’ bukan? Lalu seharusnya kita harus kokoh. Harus tegak berdiri. Diatas kaki kita sendiri. Tapi hari ini saya masih menggantung di pinggang mama. Memeluknya erat. Saya tidak tahu dengan makhluk-mahkluk the Ras yang lain. Apakah mereka benar-benar kokoh. Tahun depan sebaiknya namanya ‘pelepasan’ saja. Lebih real. Yah, sedikit dramatis. Paling td\idak unsur hiperbolanya tidak ekstrim.

Hidup terus berlanjut. Ada peri the ras yang bertanggung jawab atas dirinya dan keluarganya, tapi saya bukan dia. Saya ingin seperti dia. Tapi jalan yang saya pilih tidak di restui papa. Pekerjaan yang saya pilih tidak hina, tapi dipandang rendah masyarakat sekitar. Padahal duitnya banayak. Tapi seperti kata papa. Saya akan kembali ke dapur. Setinggi apapun saya terbang, saya akan tetap berakhir dengan kesibukan rumah, melayani suami dan merawat dan yang lebih penting mendidik anak-anak saya. Saya tetep harus pintar nyuci baju, piring, masak, bersih-bersih rumah. Sebanyak apapun pembantu yang dimiliki, masakan istri lebih dihargai oleh suami. Mungkin papa berpikir terlalu jauh. Tapi itulah papa. Dan kita tidak pernah tahu kan kemana kita akan pergi? Tuhan punya rencana. Kadang itu berupa kejutan. Sekotak takdir manis, pahit, atau masam, kita tidak pernah tahu. Tiba-tiba terhidang di meja kehidupan.

The Rasconema tidak pernah berakhir di sini. Kami belum mati. Belum ada acara pemakaman. Mungkin tidak akan pernah. Walalupun kami menjadi santap siang para mikroba sedalam dua meter dari permukaan tanah, The Rasconema tetap hidup, bukan hanya dalam hati saya, tapi lebih jauh lagi, dalam jiwa saya. Terlalu sulit melontarkannya ke segitiga bermuda. The Rasconema bukan boneka donal bebek dengan kaki panjang yang terjulur lemas di gudang rumah kayu mbah. The rasconema adalah sekotak kenangan, berisi 31 orang yang tertawa lepas kepada saya tiap hari, menjeritkan tangis pilunya bersama, dan senyum lepas mereka, saya harap jika Tuhan meridhoi saya masuk ke surganya yang mulia, saya bisa menemukan senyum itu lagi. Seikat senyum itu saya simpul erat dalam hati. Jika saya tak lagi bisa mengingatnya, saya akan tetap tersenyum karenanya. Karena ketigapuluh orang ini, bagian dari jiwa saya.

*nggak nangis*🙂

semoga jalan yang setiap dari mereka pilih akan membawa ketigapuluhsatu makhluk ini tersenyum seperti ini dan bersama seperti ini, jika tidak di alam fana ini, dalam keabadian yang dijanjikan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s