Sebuah Kado dari Tuhan

Standard

Kemarin adalah salah satu puasa paling berat dalam hidupku. Di tengah hari yang terik itu, aku harus mengendarai sepeda motor, meliuk-liuk di antara debu dan mobil-mobil raksasa yang mengepulkan asapnya dengan sombong. Dan kemarin juga, berbagai macam makanan lezat tersedia di depanku sebagai hidangan makan siang. Tapi karena aku puasa, aku menahan semua godaan itu. Dan aku bertahan sampai azan Magrib berkumandang.

Tuhan Maha Adil. Tuhan tidak pernah berbohong pada hamba-Nya. Dia tidak pernah mengkhianati hamba-Nya. Malam itu, Tuhan langsung memberiku hadiah atas keberhasilanku menghadapi cobaan berat dalam berpuasa. Tidak muluk. Hanya sebuah mimpi. Tapi mimpi itu istimewa. Mimpi malam itu menerobos penghalang yang selama dibangun antara aku dan Nini *sapaanku pada Nenek*.

Nini sudah pergi ke pangkuan-Nya hampir setahun yang lalu. Malam itu Nini menghubungiku. Menyapaku. Di mimpi itu aku dan Nini telpon-telponan, Nini menceritakan banyak hal padaku. Hal-hal yang tidak kuingat. Tapi aku tahu, apa yang Nini ceritakan adalah sesuatu yang membuatnya bahagia. Aku tidak bisa mengingat suaranya dengan jelas, tapi aku masih mengingat semangatnya, kebahagiaannya, powernya saat menceritakan hal itu. Dia menceritakan tempat dia berada saat itu. Suatu tempat yang dari bagaimana Nini mengungkapkannya adalah tempat yang luar biasa indah, nyaman, dan damai.

Nini juga bercerita tentang Kai *panggilanku pada Kakek*. Yang ada di tempat itu bersamanya, berada dekat dengannya. Tapi Kai tidak berbicara padaku, tapi dari cara Nini bercerita padaku, Kai juga sangat bahagia. Aku ingat, dalam mimpi itu aku ingin pergi menemui Nini di tempat itu. Naik sepeda. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak sampai di tempat itu. Apakah aku sempat berangkat atau tidak. Yang pasti aku tidak bertemu Nini atau Kai.

Tapi itu semua sudah cukup. Allah memberitahuku melalui mimpi itu. Bahwa Nini dan Kai baik-baik saja. Jauh lebih baik dari baik. Mereka baik. Mereka terdengar muda dan sangat sehat dan sangat bahagia. Aku bahagia. Aku bersyukur Allah mau memberitahuku.

Hal ini juga mengingatkanku pada satu hal. Mungkin tempat yang Nini ceritakan padaku adalah surga, tempatnya dan Kai sekarang berada. Atau itu adalah alam baka yang menyerupai surga. Dari apa yang pernah kudengar, sebelum kita semua dibangkitkan di hari akhir, dan semua amal kita dihitung, sebelum kita berakhir di surga dan neraka, kita akan berada di alam baka, tempat jiwa kita tinggal sementara raga kita masih terkubur.

Alam baka juga mempresentasikan di mana kita akan berada kelak di Yaumul Akhir. Jika kita tergolong orang yang selamat, beriman dan bertakwa, tidak pernah mengingkari perintah-Nya maka kita akan dijamu dan dilayani para malaikat. Tinggal di tempat yang merepresentasikan surga. Tapi kalau selama hidup kita cukup congkak untuk menantang-Nya dengan melanggar semua larangannya, dan mengindahkan perintahnya, maka kita berakhir dengan siksaan berat di tangan para malaikat kubur.

Bisakah aku menyimpulkan bahwa Nini dan Kai berada di tempat yang indah itu karena mereka golongan orang-orang yang selamat. Aku tidak pernah mengenal Kai. Beliau meninggal dua tahun sebelum aku dilahirkan. Tapi, papa dan mama serta acil-acil dan pamanku sering bercerita kalau Kai adalah muslim yang taat, yang tidak pernah ketinggalan solatnya dan selalu baik pada orang lain. Terlalu baik, sehingga mau dijadikan budak oleh saudaranya sendiri.

Kai tidak sempat melihat kesuksesan anak-anaknya. Kai tidak sempat menikmati hidup yang berkecukupan. Tapi mereka selalu berkata bahwa Kai bahagia dengan hidupnya. Kai tidak pernah mengeluh dengan kesulitan yang dihadapinya. Menghidupi 11 anak, dan setia pada satu istri yang dinikahinya saat sang istri masih berumur 11 tahun. Mereka bercerita kalau Kai tidak menyentuh Nini sebelum Nini mengalami apa yang semua wanita alami. Kai mencintai Nini dengan tulus, hingga akhir hidupnya. Dan saat kami harus menguburkan Nini pun, tempat yang dirihoi Allah adalah sepetak tanah tepat di samping kubur Kai. Bahkan saat orang-orang menggali tanah untuk menyiapkan kuburan Nini, cangkul mereka mengenai papan di dalam kubur Kai. Mereka tidak terpisahkan. Bahkan saat maut bekerja. Aku juga mengharapkan cinta seperti itu. Itukah yang namanya cinta sehidup semati? Kenapa mereka tidak pernah menceritakan bahwa cinta itu bisa menjadi begitu indah?

Nini. Aku pernah tinggal bersama Nini. Aku tahu bagaimana dia menyayangiku. Dia tidak pernah menyuruhku melakukan pekerjaan rumah kalau aku sedang belajar. Dia benar-benar tidak pernah menyuruhku melakukan pekerjaan rumah. Dia melakukannya sendiri. Dengan kondisinya yang sudah tua. Mungkin aku terlalu bodoh untuk memahami kasih sayang Nini di usia 14 tahun.

Nini juga mengajarkan pada kami, anak-anak cucunya untuk selalu berbagi. Nini adalah orang paling pemurah yang pernah kukenal *bersama Mbah Ci ku*. Nini selalu suka memberikan sesuatu pada orang lain. Apa saja. Makanan. PaKaian. Apa saja. Nini tidak pernah memikirkan balasan apa yang dia dapat. Dia selalu ikhlas. Walaupun dia tidak pernah menunjukkan itu, karena dia tidak menceritakan perbuatannya. Kami hanya melihatnya.

Dia juga selalu berjualan dengan harga murah, tidak tega menolak kalau orang menawar dengan harga yang kelewat murah. Dia menjualnya begitu saja. Kerap membuat jengkel acilku yang membantunya berjualan. Tapi itulah Nini. Mungkin itulah kenapa orang-orang lebih suka memanggilnya Marwah daripada nama aslinya Marwati. Karena Nini terlalu nggak tegaan, terlalu ‘pemurah’.

Aku tidak sempat berbakti pada Nini. Selama tinggal dengannya dulu, aku malah merepotkannya, aku sangat manja padanya. Tapi Nini tidak pernah mengeluh, tidak pernah mengusirku, Nini selalu memperhatikan makanku, apa aku sudah makan atau belum. Bahkan, walaupun Nini tahu aku sudah dapat jatah mingguan dari orang tuaku nun jauh di mato, Nini tetap memberiku uang saku setiap pagi. Nini duduk di beranda, mengamatiku memakai sepatu. Menungguiku sampai aku berangkat. Aku lupa bagaimana rasanya mencium tangan Nini yang dulu menjadi ritual sebelum aku berangkat sekolah.

Tapi aku masih ingat senyumnya. Aku masih ingat tawanya. Aku masih ingat caranya meminta kami mengambilkan gigi palsunya saat dia sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku masih ingat bagaimana dia menatapku. Bagaimana dia mencintaiku. Cucunya yang nakal. Yang hanya memikirkan belajar. Yang jarang menemaninya. Terlalu sibuk dengan kehidupanku sendiri. Aku baru sadar, betapa aku merindukan Nini. Merindukan perhatiannya. Merindukan kasih sayangnya.

Hadiah Tuhan malam tadi cukup membuatku tenang. Paling tidak aku tahu Kai bahagia. Aku tahu Nini bahagia. Aku tahu mereka berdua bahagia. Bersama. Cinta sederhana tapi paling sejati yang pernah kukenal. Aku mengetahuinya. Aku juga mengharapkannya. Semoga Allah memberiku cinta seperti yang dimiliki Kai dan Nini.

Dan jika aku boleh mimpikan hal yang sama, aku ingin bertemu dengan salah satu Ibu ku. Ibu ku yang beruntung itu, satu-satunya anak Kai dan Nini yang dimakamkan tepat di samping mereka. Ibu ku itu yang pertama kali menyusul Kai dan Nini di antara ke sepuluh saudaranya. Aku merindukannya dan ingin tahu bagaimana keadaannya. Apa dia juga bahagia?

Note:

Saat aku menceritakan mimpi ini pada mama, aku membuatnya menangis.

Maaf Mama. Aku tahu Mama juga merindukan Nini. Tapi percayalah. Apa yang Mama lakukan saat Nini masih hidup sudah cukup. Mama sudah melakukan apa yang seharusnya seorang anak lakukan untuk orang tuanya. Akulah masalahnya. Aku belum berbakti. Pada Nini, pada Mama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s