Telepon di Pagi itu

Standard

Pagi belum berlalu. Aku masih sibuk menyikat selop-selop kaca yang dihadiahkan sahabat padaku. Mama sibuk memilih menu sarapannya, berkutat antara undang asam manis sisa kemarin siang atau jamur tepung yang tidak kriuk-kriuk lagi. Teleponku berdering, Pakde ku. Kakak sulung ayah meneleponku. Hal yang jarang terjadi. Mamah yang mengangkat, kemudian di serahkan padaku.

Pakde bertanya kemana aku akan melanjutkan perjalananku ini? Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku masih menunggu, jawabku. Di mana harapan terbesarmu? Tanya pakde lagi. Aku tertegun. Di mana? Aku benar-benar tidak tahu. Kemudian kalimat demi kalimat menohok dalam hatiku. Pakde ingin aku mengambil jalanku, memiliki harapanku, mewujudkannya. Tapi tidak. Tidak ada kesempatan untukku.

Aku hanya ingin mendapatkan ridho Allah dalam kehidupan yang singkat ini. Menjumputi sedikit-demi sedikit bekal untuk akhirat yang kekal. Aku ingin berbakti pada kedua orang tuaku. Sudah dua universitas yang menerimaku. Keduanya salah satu yang terbaik di negeri ini. Bukan. Bukan paling bergengsi. Tapi yang menjamin masa depanmu.

Universitas pertama sudah menerimaku sejak bulan februari. Letaknya di Ibukota, di kawasan industri dengan hampir 3000 perusahaan. Aku bebas memilih jurusan, selama itu masih dalam lingkup sosial. Management? Accounting? International relation? Ada ribuan perusahaan yang siap menampung. Memperkerjakan bahkan sebelum aku lulus. Dan aku mendapatkan hampir 2/3 beasiswa. Tapi kasih sayang orang tua yang luar biasa padaku membuatku harus melepaskan kesempatan itu. Padahal itu adalah mimpiku. Bussiness woman dengan cakupan bisnis international. Tidak mustahil karena perusahaan yang bercokol di kawasan itu hampir semuanya adalah perusahaan multinasional. Tapi aku tetap gadis kampung yang harus memiliki mimpi yang lebih simple. Yang nggak terlalu muluk. Walaupun pintu ke dunia mimpi sudah terbuka untukku. Aku masih tidak bisa melangkah ke dalamnya. Ayah ibu terlalu memelukku erat.

Universitas yang kedua menggratiskan semua biaya pendidikan untukku. Hidupku ditanggung sepenuhnya. Jadi, walaupun ayah dan ibu tidak mengirimiku uang saku, aku tetap bisa hidup. Letaknya di Bintaro. Aku memang baru lulus ujian tahap awal. Masih ada tes kesehatan, wawancara, dan psikotes. Ya! Aku tidak tahu, apakah aku akan berlabuh di sini. Atau di tempat lain.

Masih ada harapan-harapan lain. Harapan Ibuku agar aku menjadi dokter atau bidan. Harapan ayahku agar aku masuk STAN. Aku hanya ingin meweujudkan mimpi-mimpi mereka. Aku memendam mimpiku terlalu dalam hingga aku kehilangannya. Aku kehilangan mimpi-mimpiku. Aku lupa seperti apa bentuknya.

Ayah Ibuku bukan pakde. Jika ayahku pakde, mungkin aku sedang menunggu cemas apakah UGM menerimaku di jurusan Hubungan Internasional atau Sastra Inggris. Tapi aku bahkan tidak mendaftar. Tidak ingin tahu apa yang terjadi di sana. Aku berlari dari hidupku untuk memenuhi mimpi-mimpi orang tuaku.

Hei, aku tidak mengeluh. Kadang hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan. Hei, aku tidak ingin menjadi pelayan dunia. Aku tidak ingin bahagia dalam sekejap, kemudian menghabiskan hidupku di akhirat dengan menyesalinya. Aku ingin meraih ridho Tuhanku melalui orang tuaku. Biarlah Tuhan yang menatanya untukku. Dimana aku akan berlabuh. Jika di Bintaro aku bisa mengeksplore bahasa Inggrisku melalui pendalaman ilmu bumi, dengan senang hati aku menjalaninya. Jika dokter memberiku kesempatan untuk menyelamatkan banyak orang, aku akan menjalaninya. Jika Bidan memmbantuku melahirkan bayi-bayi lucu pembawa rahmat bagi bumi, aku akan melakukannya. Dimana Tuhan meletakkanku, biarlah dia yang mengaturnya. Aku percaya pada-Nya. Sepenuhnya.

Dan, yah. Tuhan punya rahasianya sendiri. Mas Alip. Kakak sepupu laki-lakiku. Satu line denganku. Siapa sangka dia yang tidak pernah peduli dengan berita, kriminalitas, atau kasus-kasus yang diangkat para wartawan ke TV, Tuhan memberinya jalan untuk kuliah Hukum.

Masku yang hanya peduli dengan bola kulit bundar keras, Voli. Akan kuliah di Semarang di jurusan Hukum? Siapa yang tahu? Tuhan punya rencananya sendiri. Dia yang setinggi tiang listrik kesetrum, aku Cuma sebahunya, dia bahkan lebih tinggi dari Minho, menjadi atlet klub Voli di kota itu, hidupnya ditanggung klub, dan dia mendapat beasiswa untuk kuliah hukumnya.

Siapa yang tahu, pria yang berbagi air susu ibu denganku, yang menghabiskan lima tahun pertamanya berdua denganku akan memiliki jalan seperti ini. Ya! Aku tahu! Dia cerdas! Tapi aku sudah terlalu jauh, jarak di antara kami melebihi jarak tempat tinggal kami yang hanya terpaut lima kilometer. Aku di ufuk barat, dia berdiri tegap di ufuk timur. Aku merindukan cara dia membuatku iri dulu. Dia yang pendiam dan disayangi buleku, dia yang anak penurut. Aku yang pemberontak dan cerewet. Aku merindukannya.

Biarlah Tuhan yang mengatur segalanya untuk kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s