Dari Milky Couple sampai Kegagalan yang Direncanakan

Standard

Okey. Aku tidak akan menunggu kilat menyambar untuk menulis hari ini. Deruman suara traktor yang menggilas batu-batu kasar bahan dasar aspal berbaur membentuk irama gaduh dengan ratusan orang di pasar yang membagi penghasilan mereka di depan rumahku. Udara siang ini panas. Kamarku pengap. Harusnya aku menutup jendela rapat-rapat. Debu berterbangan di mana-mana. Papah mengomel karena mobilnya berubah menjadi mempelai bergaun debu setebal dua centi. Yang kulakukan adalah membuka jendelaku lebar-lebar. Membiarkan matahari menerobos masuk dan bercengkerama riang dengan udara di kamarku, di situlah tercipta udara pengap yang kucoba singkirkan dengan kipas angin butut. Tapi tetap saja. Panas membuat otakku mampet.

Malas, kulihat lagi drama dream high yang sudah kutonton puluhan kali dengan urutan episode yang acak. Aku selalu terpukau dengan chemistry unik yang diciptakan Kim Pil Sok dan Jason. Selalu semburat pink mewarnai hatiku saat melihat akting sederhana yang memukau milik IU dan Wooyoung. Apakah mereka memang benar-benar jago akting atau pasangan ini memang real sehingga bisa menampilkan chemistry yang dalam seperti itu? Bagiku, chemistry yang mereka cipatakan jauh melampaui chemistry yang terjalin antara Suzy dan Ok Taecyon, atau Suzy dan Kim Soohyun.

Ah,,, semoga saja Milky couple beneran real.

Apa yang kupikirkan pagi ini adalah aktivitas papa yang kata mama terlalu crowded. Yup. Papa emang libur hari ini. Tapi papa lebih suka menghabiskan hari liburnya di tempat kerja. Papa tipikal orang dengan jiwa sosial tinggi, tapi kadang membingungkan. Papa selalu bersemangat menghandle proyek-proyek sosial yang biasanya tidak memberikan hasil apapun untuknya pribadi. Dari papa aku belajar untuk ikhlas. Tapi, tidak dengan cara menasihatiku panjang lebar tentang keikhlasan. Papa hanya menjalaninya, melakukan apa yang dianggapnya benar, dan kami, anak-anaknya, meneladani. Tidak heran, dulu mama sering memergoki adikku yang nomor dua membagikan uang recehan yang ada di rumah kepada teman-temannya. Mama bilang berbagi itu baik, tapi tidak asal. Kita juga harus tahu, siapa yang  lebih membutuhkan, apa kebutuhannya, kalau uang yang kita beri itu cuma buat foya-foya. Buat apa?

Keluarga kami tidak kaya. Sangat sederhana. Papa dan mama hidup dari menolong orang lain. Aku tahu bagaimana rasanya menikmati jeri payahmu sendiri. Dulu, aku mendapatkan uang dengan mendebat banyak orang. Tapi papa dan mama mencari uang dengan memberi pelayanan pada orang lain. Aku berpikir, benarkah sudah jalanku? Gairahku?

Terlalu banyak pertimbangan untuk melangkah. Toh aku harus melangkah kan? Kemana pun arahku sekarang, itulah yang akan kujalani nanti. Aku tidak akan menyesal. Aku berjanji. Tidak akan menyesalinya.

Papa bilang kegagalan itu harus menjadi kegagalan yang direncanakan. Mwo? Apa itu? Ya! Reaksiku juga begitu waktu pertama kali papa mengatakannya. Dalam perbincangan perjalanan 40km kami papah bilang kegagalan yang direncanakan itu adalah kegagalan yang kita dapatkan setelah kita berusaha keras untuk meraih sesuatu. Tidak masalah kalau kita gagal. Karena kita sudah berusaha. Ya! Aku pernah mengalaminya. Tidak ada penyesalan sama sekali. Karena aku memang sudah berusaha semampu, sekeras yang kubisa. Jika saat itu aku belum berhasil, tidak masalah. Aku bisa mencobanya lain kali. Tapi aku sudah tahu kesalahan-kesalahan yang kubuat dulu, tidak akan kuulang lagi. Kegagalan itu pembelajaran. Itu bukan lagi kalimat tanpa makna. Aku bisa merasakannya, dalam setiap denyut jantungku.

Aku bersyukur hari ini Tuhan masih memberiku kehidupan. Papa yang selalu memberi banyak inspirasi tak terbatas, Mama yang sangat amat menyayangiku, membagi senyumnya walaupun aku membalasnya dengan menekuk wajahku, mama tidak pernah lelah menyayangi, aku mencintainya. Dan dua adikku yang luar biasa cerewet tapi nggak pernah menolak kalau kusuruh-suruh, dan yang paling penting bisa kujahili sepuasnya. Wkwkwkwk… *typicalevilsister*

Terimakasih untuk matahari yang bersinar hari ini.

Terang bulan super manis dari adikku De yang lebih mencintai high hells pink nya daripada aku.

Cinta yang melimpah ruah di sekitarku.

Kehangatan malam yang menyelimuti hatiku.

Terimakasih Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s