Keheningan dan Sahabat yang Gagal

Standard

Ini dalah saat paling sulit dalam sejarah persahabatanku dengannya. Aku bukanlah malam yang diharapkan datang melingkupi matahari yang lelah. Atau bulan yang dirindukan kelembutannya. Sekali lagi, aku hanyalah angin dan keheningan yang dititahkan untuk mengabdi.

Dia, sosok yang sempurna yang selalu membuatku menghela napas. Tuhan, kenapa bukan aku yang berada di sana, menjadi dirinya. Kenapa bukan aku yang tinggi semampai dan berbodi bagus. Kenapa bukan aku yang berkulit putih sepucat mayat. Kenapa bukan aku yang memiliki orang tua yang

memperhatikanku sedemikian rupa. Orang tua yang saling mendukung? Ibu yang menyediakan sarapan untuk bapak dengan senyum. Bapak yang menemani ibu belanja ke pasar pagi-pagi? Kasih sayang orang tua dan materi, aku tidak mengelak. Aku iri. Iri pada dia yang memiliki seorang kakak. Yang bisa berbagi apapun dengan kakak, kalau dia ingin. Dan adik, yang walaupun menyebalkan, tapi dia tampan, lebih dari itu dia sedang belajar menempuh jalan tertinggi keagungan Tuhan untuk otak manusia, hapal kitab-Nya.

Lalu, dia, dengan segala kesempurnaannya, hadir dengan sesuatu yang tidak di miliki siapapun, keikhlasan untuk berbagi dan memberi. Dia membagi untukku, nyaris semua yang dia miliki. Tuhan, malaikat surga mana yang kau kirimkan padaku?

Namun, dari tahun dan detik yang kami tapaki, aku menyadar satu hal. Lyly ini tidak memiliki kepercayaan diri. Dia telah tenggelam akan ketidakmungkinan. Dengan segala potensi yang ada, dia mengelak untuk tumbuh dan berkembang. Dia memilih untuk mengalir kemana arus membawa. Di sisi lain, dia sekuat baja dalam mepertahankan egonya itu.

Bersamanya adalah pelajaran hidup yang berharga. Kebahagiaan dan rahmat serta keajaiban untukku.

Lalu aku melakukan kesalahan. Aku menolak untuk menerima lelaki yang ia cintai. Aku menolak untuk menerima bahwa lyly-ku mencintainya. Aku menolak lyly ku harus diambil oleh pria itu. Pria yang kupikir tidak bertanggung jawab atas kehidupannya. Bagaimana bisa dia bertanggung jawab atas kehidupan seorang malaikat, jika dia sendiri tidak bisa bertanggung jawab atas hidupnya. Aku menolak. Menolak untuk menerimanya.

Penolakanku adalah sebuah keheningan. Aku tidak tertarik dengan ceritanya tentang pria itu. Tidak tertarik atas hubungan mereka. Hari-hari kulalui dengan mengkhawatirkan keadaan lyly-ku. Kemana ia? Apa yang ia lakukan? Apakah dia baik-baik saja?

Seseorang mengatakan padaku untuk menyingkirkan kekhawatiranku dan memikirkan hal yang lebih penting, masalah-masalahku sendiri. Tapi dia tidak tahu, dia, lyly, adalah kakak yang tidak pernah aku miliki, sahabat yang selalu memiliki tahta sendiri dalam hidupku, tidak mungkin untuk menyingkirkannya.

Kupikir dengan keheninganku semua akan baik-baik saja, kupikir akan tiba saatnya lyly memahami. Namun ternyata Tuhan menghadirkan kejutan lain. Orang yang mencampuri urusan ini. Orang yang membuat masalah ini semakin complicated.

Entah kenapa aku berpikir ini adalah yang Tuhan inginkan. Ini cara Tuhan untuk memberi tanda bahwa memang hal ini perlu dipikirkan secara serius. Namun perlahan aku sadar. Hidup Lyly bukan hidupku. Dari awal, dia punya kehidupan sendiri. Punya pilihan sendiri. Saat ini aku gagal sebagai sahabat.

Keheninganku, sungguh aku tidak mengatakan apapun tentang dirinya dan lelaki itu. Rupanya ia salah mengerti. Mungkin ini akibat kesalahanku. Karena aku tak mampu menjelaskan.

Aku tak sanggup menatap matanya dan mengatakan bahwa bukan aku yang mengatakan hal itu. Tapi aku juga tak sanggup menatap matanya dan mengatakan bahwa aku tidak melakukan apa-apa untuk mencegah orang lain mengatakannya.

Sekarang, aku hanya bisa berdiri, dan menatap malam dengan segala kericuhannya. Maaf kan aku. Maafkan aku telah menjadi sahabat yang buruk. Atau mungkin aku memang tidak pernah bisa menjadi seorang sahabat. Aku berusaha, dan gagal. Kegagalan terbesarku adalah meluikainya karena ketidakterimaanku atas cintanya pada lelaki itu. Karena keheninganku. Karena aku yang tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya.

Maaf. Maaf. Maaf.

Sungguh, aku ingin melihat senyum mu lagi, senyum dengan tatapan matanya yang juga kumimpikan. Yang bukan menjadi milikku.

~Orang yang gagal

 

 

3 thoughts on “Keheningan dan Sahabat yang Gagal

  1. kamu tidak gagal..
    hanya saja, saat ini keberhasilanmu sedang diuji oleh Tuhan
    seperti kata dia yang menganggap dirinya dewasa,
    “pasti dibalas oleh Allah kok”
    dan itu harus kamu tanamkan juga
    dia, lyly, hatinya bukan milikmu, bukan milik lelaki yang ia cintai juga
    hatinya masih milik dirinya sendiri, yang sedang diambang memahami untuk ia bagi denganmu dan dengannya
    mungkin dia juga sedang memahami tentang kondisi di dalam skenario saat ini
    waktu bisa menjawab nantinya
    bukan untu memunculkan siapa yang benar atau siapa yang salah
    siapa yang menang dan siapa yang kalah
    tapi nanti, waktu akan mengatakan mana yang lebih baik dan mana yang tidak akan mengubah apapun
    dia sedang berkembang untuk menyamakan diri dengan bunga di tamannya
    dan kamu sudah berusaha memahami itu
    bukan salahmu untuk tidak bisa hadir sebagai kupu-kupu di taman itu
    karna sekali lagi, waktu yang menentukan
    bersedihlah,
    bukannya aku kejam untuk menyuruhmu bersedih
    namun, akan sangat janggal kalau kamu justru tidak sedih
    karna dengan hadirnya setiap tetes kesedihan yang kamu miliki saat ini akan menyiratkan bahwa kamulah sang udara yang menemaninya di setiap waktu yang ada, walaupun tidak terlihat namun terasa..
    sekian dari saya,
    terima kasih

  2. well yeah, Im here, tapi tak dilihat.
    thanks for make me cry dewi.
    ini adalah proses. terimkasih telah mengingatkan.
    dia bukan milikku.
    hatinya bukan milikku.
    cintanya bukan milikku.
    kehidupannya bukan milikku.
    aku pengen wi, jika tdk mampu jd udara, aku ingin menjadi tanah, tempatnya berpijak, tempatnya tumbuh, menjadi nutrisi baginya, aku ingin berarti untuknya.
    ternyata dia tidak menginginkan hal itu, mungkin. bahkan aku tdk ckup berharga untuk hanya menjadi segenggam tanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s