September Jingga

Standard

 

Aku menatap sayu pada lembaran jingga yang mencium bumi jogja di malam bulan september. Ada sebilah kenangan yang mengoyak kulit ini perlahan, kemudian menaburkan garam kepedihan di atasnya. Tapi toh aku kecanduan, untuk terus mengupas, semakin dalam, semakin megingat, semakin menikmati luka. Sementara tiga perempuan separuh baya terus menggoreskan ujung camping bersepuh lilin di kain batik di atas pangkuan mereka. Ada ketenangan dan kekuatan. Kecermatan yang tidak pernah kumengerti. Rapat, seperti kecermatannya.

Namanya Jaron, dokter ortopedi yang menguarkan kehangatan musim semi beraroma madu di pusat kota jogja. Aku mengingatnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Dia lebih muda dariku. Hanya beberapa bulan. Tapi dia satu tingkat diatasku dalam hal angatan, dan seribu tingkat atas penguasaan ilmu. Dia menjadi asisten berbagai macam mata kuliah yang termasuk kataegori ‘mengerikan’ seperti hal-hal yang mengharuskanmu belajar dari mereka yang telah tiada ‘jiwa’ nya.

Dia mahir dalam mengingat lekukan atau titik kecil dalam bagian tepi tulang iga mu, yang bahkan tidak pernah kaupedulikan ada di sana. Dia tahu vena dan arteri apa yang memperdarahinya, apa fungsinya, dilewati apa saja, dan di inervasi oleh saraf apa saja. Bagiku, kemampuan itu luar biasa. Membuatku hanya bisa membuka mulut ternganga selama berjam-jam karena kekaguman yang membuncah padanya.

Lalu kekaguman itu naik setingkat, perlahan-lahan menjamah ke hati. Tunggu. Dimana definisi hati. Di sini aku di ajari hati adalah tempat di mana tubuh mengolah zat-zat kecil yang mengalir di tubuhmu dan memperbaharuinya ata menyingkirkannya ketika tidak di perlukan. Hati ‘hepar’ tidak sedikit pun memiliki kancah dalam hal perasaan. Perasaan adanya di bagian tertinggi dari tubuhmu. Tersimpan rapat dalam tengkorak keras cranium yang melindunginya dari siapapun yang ingin membacanya, mencurinya, atau mengintipnya sekalipun. Dia ada di bagian tengah otakmu. Dan perasaanku itu tersimpan rapi disana. Selalu mendapatkan sari dari senyumnya, atau hanya sekedar keberadaannya.

Dia tidak pernah tahu, tidak pernah mau tahu. Apakah aku memikirkannya. Mencarinya di setiap kuliah tambahan. Mengharapkan kehadirannya.

“Kau akan tahu di mana dia menginervasi kalau kau melihat barangnya, bukan orang yang mengajarkannya.” Tapi Kian tidak tahu, aku bisa mengingat semuanya nanti di rumah. Aku hanya ingin menikmati keberadaannya di sini. Saat ini.

Seperti Kian yang mengingatkanku untuk tetap waras, seperti itu pula Heysa mengacuhkan perasaanku dan keanehanku. Bagi Heysa yang penting adalah aku di sana. Mendengarkannya. Heysa semacam teman yang ingin kau melakukan apapun untuknya, tapi malas menanggapi apa yang kau katakan. Saran master psikologi yang kugemari orang macam ini harusnya di hindari. Tapi aku toh tetap ada di sana, siap mengiyakan jika dia meminta.

Semakin hari semakin aku gila karena keberadaan Jaron. Semakin Kian menegur dengan cara terhalus sampai melemparkan guyton seberat sejuta ton ke kepalaku, mungkin aku sudah mati kalau dia benar-benar melakukannnya. Semakin Heysa dingin dan tak peduli. Semakin tak terkendali perasaan ini.

Waktu berlalu begitu lambat hingga aku berada di titik di mana tak ada yang bisa kulakukan selain mencari keberadaannya di waktu kosong antar dua mata kuliah. Hari itu aku menemukannya. Duduk di tangga nomor satu dengan wajah tanpa dosa dan mengantuk. Tidak ada keberanian untuk mendekatinya, namun aku toh tetap berjalan mendekat.

“Hai, Raina.”

Itu adalah suara yang kuharapkan ketika aku menatap matanya, ketika dia mendongak untuk melihatku. Namun tidak ada kata. Hanya pria yang menunduk dan tepekur. Dingin. Seperti es di freezer yang tidak di sentuh selama tiga bulan. Menyatu dengan refrigatornya.

Aku berdiri di sana, membiarkan angin kencang yang meniup rok panjangku, dan ujung jilbabku, menyampaikan perasaanku. Bahasa angin lebih bisa ia terima. Bahasa angin adalah cara paling aman untuknya. Aku hanya berdiri dan menatapnya. Sekian menit berlalu. Dia bangkit. Dan pergi. Meninggalkan aku dengan kata yang tersangkut di tenggorokan. Yang tidak pernah di getarkan oleh plica vocalis, namun dihantarkan angin menuju dia, menuju Jaron. Bukan telinganya, bukan hatinya, tapi perasaannya.

credit pic: Gusti Ellvian N. R  (pulau Datu, KalSel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s