Bye Bye Kampus Bjb

Standard

 

Satu tahun telah berlalu, rasanya baru kemarin saya menginjakan kaki di kampus itu. Menatap bingung dan mencari-cari ruang periksa kesehatan. Tersenyum canggung pada dokter yang memeriksa kesehatan. Dan tersesat. Ya, seperti keadaan saya yang lusuh dan tak tau arah. Begitulah saya melangkahkan kaki, menapaki hari di kampus ini.

Fakultas kedokteran universitas lambung mangkurat program studi pendidikan dokter banjarbaru, kampus itu tidak pernah saya lirik selama 16 tahun ini, tidak pernah tahu di mana keberadaannya, namun satu tahun terakhir kampus ini adalah hidup saya.

Kampus ini adalah rumah yang sedia menampung, meneduhkan dengan kesejukan, ruangannya luas, kelas kami tercinta ‘Ruang Farma’ bahkan terlampau luas menampung kami yang berjumlah 105. Ruang teater yang gelap selalu membuat saya mengantuk dan tidak fokus. Ruang praktikum dengan suasana yang kental dengan ruangan tua, terlalu lama digunakan, terlalu tua, namun tuanya adalah kebijaksanaan, yang mengalir bersama udara di ruangan itu. Saya hirup, saya alami tanpa dihayati.

Ruang anatomi yang menjadi ruangan suci bagi para penghapal sobotta, dan biasa saja bagi hamba sahaya seperti saya. Laboratorium histologi menjadi favorit saya, karena bakat menggambar ‘abstrak’ saya akhirnya menemukan jodohnya. Dan ketepatan dalam melihat di antara lensa-lensa yang bercahaya kuning, melihat organisme yang ratusan kali lebih kecil daripada debu. Yang terabaikan namun ada. Disana kami mencari, menemukan, menggambar, bingung,tertawa, bernyanyi, menggombal, konsultasi hati, dan curhat. Saya suka histologi.

Lalu ada embrio, mata kuliah yang saya yakini sulit. Proses perubahan bentuk, waktu, dan darah. Semuanya terlibat menjalin hubungan yang abstrak, namun masih dapat di pahami bagi mereka yang tekun. Saya rasa saya tidak termasuk di dalamnya.

Sekarang, dua semester yang saya ragukan itu telah terlewati. IP saya memang tidak seperti yang saya harapkan, kurang maksimal. Namun, semua pengalaman, ilmu, dan perjuangan, tawa, tangis, air mata, bahagia, haru, takut, ragu, kecewa, semua perasaan itu lebih bernilai daripada sekedar angka.

Kampus Banjarbaru pun harus kami tinggalkan. Semester 3 nanti kami pindah ke Banjarmasin. Di kampus yang baru, yang lebih megah dan kokoh. Semoga saja semangat dan hasrat semakin membara untuk mengiringi kami menjalani long live study.

105 Pendidikan Dokter 2011 Di Hati Selamanya. Ya… selamanya…

 

One thought on “Bye Bye Kampus Bjb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s