This is The Real Baksos!

Standard

 

Saya ingat sekali malam apa itu. Malam minggu dan final idol. Tapi saya malah meringkuk di suhu 20 derajat kamar oyi dengan selimut tebal. Tidur terlalu dini, untuk mempersiapkan diri esok hari. Sms jarkom mengatakan jam 6 sdh harus ada di kampus Bjm. Padahal kemarin saya hanya tidur tiga jam. Akhirnya saya mengorbankan idol untuk memenuhi hak tubuh saya istirahat. Esok paginya saya dan adis pergi menggunakan revi (revo bleki) saya yang gagah berani menyusuri jalanan yang lengang menuju Gambut. Kami menunggu di depan mesjid Gambut. Setelah itu kami mengiring dua taksi kuning yang mengangkut teman-teman HIMA dari kampus BJM.

Sempet salah belok dua kali

 

Nama desa itu Sungai Kupang, terletak jauh di dalam Gambut. Jauh, tapi indah. Sawah terhampar luas di sisi jalan, hanya di batasi oleh awan yang biru erah, menantang kami untuk bersemangat menyongsong hari.

Setibanya di sana, setelah melewati tanah kuning yang licin, dan tanah kapur putih yang sangat licin dan harus di tempuh dengan berjalan kaki, kami tiba di sebuah madrasah yang kami sewa untuk acara bakti sosia. This is true bakti sosial. Jauh, dan warganya welcome.

Ada 100 kuota pengobatan gratis, dan ada 15 anak yang di sunat, (akhirnya Cuma 14 karena 1 orang anak terlalu takut dan tidak jadi). Ada 7 dokter yang ikut serta, dr. Didik, dr. Bakhri, dr. Husairi yang stand by di pos Sirkumsisi. Para dokter wanita, dr. Lena, dr. Annisa, dr. Inna, dan dr. Nelly yang stand by di pos Pengobatan.

 

Kami, para mahasiswa, berbagi tugas, ada yang menjaga pos tanda vital, untuk mengukur berat, tinggi badan, dan memeriksa tekanan darah. Ada yang berjaga di depo seperti ka Rina dan Ka Naysia, juga ada yang stand by di sirkum. Kebetulan saya dan Ka Wahyu berjaga di pos sirkumsisi, kami bertugas melakukan anamnesa dan inform concern pada keluarga pasien yang mau di sunat.

Acara di buka oleh sambutan dari kepala desa, kemudian di buka secara resmi oleh dokter Didik.  Kepala desa bercerita kalau 90 % masyarakatnya adalah petani. Dan satu-satunya pegawai di desa itu adalah kepala desa itu sendiri. Dokter Didik berharap suatu hari nanti ada anak asli desa Sungai Kupang yang bisa masuk PSPD sehingga ada dokter yang bisa mengabdi di daerahnya sendiri.

Setelah itu saya yang hari itu di daulat ka Kingkin buat jadi MC mempersilahkan masyarakat untuk melakukan registrasi. Teman-teman HIMA dan para dokter sudah siap memberikan pelayanan. Nggak ada satupun yang bayar, semuanya gratis, baik jasa maupun obat. Yang melakukan sunat dapat peci dan sarung gratis. Juga snack dan obat.

Saya menyukai desa itu, udaranya bersih dan asri, masyarakatnya ramah. Saya berharap kualitas kesehatan di desa sungai Kupang bisa meningkat.  Mungkin pengobatan dan sunatan gratis yang kami lakukan tidak bisa mencapai tujuan itu. Masyarakat desa, pemerintah dan segala jajaran harus bergerak untuk mencapainya. Dimulai dari kesehatan dan pendidikan. Saya yakin suatu saat tujuan itu bisa tercapai.

Terimakasih untuk masyarakat Sungai Kupang yang telah menerima kedatangan kami. Semoga kami bisa kembali ke sana lagi untuk melakukan bakti sosial lagi. Dan semoga apa yang telah kita lakukan menjadi berkah. Amin…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s