A Letter To You

Standard

Teruntuk: lelakiku yang tak menyukai puisi cinta🙂

Dari selembar halaman putih ini, ijinkan aku untuk mengungkapkan beberapa hal. Hal-hal yang menjadi moment terbaik dalam hidupku, hal-hal yang indah, pedih, dan bermakna. Hal-hal yang terjadi karena satu alasan, karena cinta. Dan alasan yang nyata itu berasal dari kamu, ya, kamu wahai cintaku, my one and only.

Jika aku harus menghitung waktu, waktu-waktu bersamamu adalah yang paling terasa. Ada kilatan kepedihan dan haru bahagia. Nyaris lima dari hitungan bulan kita lalui bersama. Walaupun kata ‘bersama’ yang kutorehkan tidak berarti seperti biasanya. Kau ada dalam hidupku dengan begitu istimewa, kau menunggu, sabar, menunggu, berpaling, dan kembali menatapku. Hingga di puncak kegelisahan itu, kau nyaris melepaskan semua perjuanganmu, kau menyerah setelah bertahun-tahun, aku tidak menyalahkanmu sayang. Itu adalah salahku, yang menyiakan cintamu. Namun saat ini aku sadar, kau terlalu berharga, dan kau pantas diperjuangkan. Selayak-layaknya perjuangan cinta.

Hari itu begitu pilu, ketika kau menawarkan perpisahan. Kepedihan menorehkan lukanya yang hingga kini tak kunjung sembuh. Hingga aku berlari, aku berjuang, meraihmu, menggapaimu, mempertahankanmu. Sejuta maaf dan penyesalanku. Dan begitu murah hatinya Tuhan padaku ketika Ia mengetuk pintu hatimu, memberiku kesempatan untuk memperbaiki. Untuk kembali mencoba. Kali ini aku tidak mencoba untuk mencintaimu, tapi aku mencoba untuk membuatmu jatuh cinta padaku, lagi. Apakah egoku terlampau tinggi karena itu? mungkin. Namun yang kulakukan hari itu adalah membuang jauh sauh egoku, jauh hingga kedasar samudra penyesalan, aku menjatuhkan harga diriku, agar kau kembali. Agar kau mau berjuang lagi bersamaku. Itu mungkin berasal dari balasan atas kesabaranmu selama ini, tapi kupikir itu karena aku mencintaimu, dan aku tak mampu berdiri tanpamu.

Sekarang aku tak pernah menyesali hari itu, hari ketika aku menghampirimu. Hari ketika aku meperjuangkanmu. Aku malah akan benar-benar menyesal jika aku tidak menghampirimu, tidak memperjuangkanmu.

Kini sayangku, terimakasih atas kesempatan itu. terimakasih atas cintamu dan kesabaranmu. Segala yang ada dalam dirimu. Tidak ada yang mau kurubah.  Aku mencintaimu apa adanya. Selama ini aku menyangsikan semua kerelaan yang di ucapkan para pujangga, para seniman, dan pencipta lagu itu. tapi kamu telah mengenalkanku pada perasaan itu, pada kalbu yang tersusupi rasa nyaman. Rasa nyaman yang telah berubah menjadi rasa cinta.

Sayangku, mari kita berjuang bersama, bersama senyummu yang selembut embun di pagi yang hangat. Bersama semangatmu yang secerah matahari. Bersama kepercayaan dirimu yang seagung rembulan. Berjuang untuk meraih keridhaan-Nya dalam cinta-Nya yang suci dan abadi. Terimakasih atas segalanya.

Aku mencintaimu, Fadhlillah Ghali Farand.

Love HRP.

One thought on “A Letter To You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s