Grand Burn

Standard

FF ini pernah saya kirim ke ffcnblueindo.wordpress.com dengan menggunakan nama penulis saya yang baru yaitu ‘hayputrii’.

gbcnb

Title: Grand Burn

Author: @hayputrii

Rating: G

Genre: Romance, Family

Length: Short Story

Main cast:

Kang Minhyuk

Lee Jonghyun

Jung Krystal

Im Yoona

Other Cast:

CN Blue Member

SNSD Member

Disclaimer: FF ini saya buat dengan perjalanan neuron dan impuls-impuls yang di anugrahkan Tuhan pada saya, dengan para makhluk ciptaan Tuhan sebagai pemainnya.

Note: Sebuah fanfiction yang saya sajikan dengan cinta untuk para Boice and Sone, and every pepole who enjoying kpop. Oh yeah, thats true, I wish this story can touch you, can bring gladness on you, can make you feel the beauty of this life. Because every person have right to love and being loved. Pleasure to read your comment after reading.

 

Yoona POV

Pagiku di mulai dengan secangkir kopi dan puluhan surat dari penggemar. Pagi sekali, ketika tidak ada yang terbangun, kecuali Seohyun, aku melompat dari tempat tidur, mencuci wajah dan menyikat gigi. Kemudian memasukkan surat-surat penggemar ke dalam tas selempang berwarna coklat muda, menggunakan masker, topi, dan sweeter, kemudian berlari kecil menyebrangi apartemen, ke sebuah jalan yang familiar. Di sisi jalan berjajar toko obat dan makanan kecil, kemudian tepat di sudut, di persimpangan, ada sebuah cafe yang buka di saat ayam pertama berkokok. Aku masuk, duduk, dan menghirup wanginya kopi latte pahit yang diberi cream coklat lezat. Kemudian aku akan membaca setiap surat sampai matahari menyapa dari bukit kecil di sisi kanan cafe. Aku akan mengamati setiap anak yang berangkat sekolah, setiap ibu yang membawa keranjang belanjaan dengan sepeda, dan setiap ayah yang mengemudikan mobil mereka, dengan dasi yang belum terikat sempurna. Setiap pagi sejak setahun yang lalu. Di cafe itu, tak ada yang mengenalku dan menggangguku. Karena cafe kecil ini di sediakan untuk setiap mereka yang tidak sempat sarapan atau mereka yang memang ingin menikmati pagi. Mereka yang tidak sempat memperhatikan seorang perempuan yang menikmati pagi.

Hanya Jihyun ahjussi, pemilik cafe yang sudah siap sedia dengan kopi nya ketika aku tiba, berhadiah senyum tulus yang membuka pagiku. I love my life.

Tahun tahun ini terasa berat, persaingan girlband terus saja meningkat, tapi kami memang selalu di atas. Sooman oppa yang bekerja keras menjaga relasi dan semua kru oppa dan oenni yang memiliki jam tidur sama minimnya dengan kami, menjaga agar kami selalu terkonsep dan tersajikan dengan sempurna. Tidak mudah menjadi nomor satu, lebih sulit lagi mempertahankannya. Dan kenyataan bahwa aku adalah nomor satu dalam packaging yang di branded kan dalam Girls Generation membuatku harus bekerja lebih keras dari yang kupikir bisa. Aku menikmatinya, karena aku menikmati pagiku. Setelah surat-surat itu selesai kubaca, aku akan menuliskan rasa syukurku atas hari kemarin dan hari ini. Bisa berlembar-lembar sampai aku pegal, atau bahkan hanya dua baris berisi ‘aku bersyukur Taeyon oenni menerima cinta Leeteuk oppa, walaupun pria itu sempat menyakitinya, aku berharap mereka menghasilkan anak-anak yang lucu dan bisa kuculik kapan saja aku mau’. Itu hari di mana Teuki oppa melamar Taeyon oenni, di bawah langit malam penuh bintang, di atas atap gedung SM Entertaiment, di hadapan semua kru dan member, dengan sebuah lagu ‘ Lucky’ yang diiringi oleh petikan lembut gitarnya.

Setelah selesai dengan diary syukurku, aku akan menikmati lima menit yang berharga lagi, memandangi matahari yang masih ramah dengan cahaya putih lembutnya, memvisualisasikan kebahagiaanku hari ini, pemotretan cover album kami yang berjalan lancar, Sunny yang tersenyum ceria menggunakan topi kuning terang, Seohyun dengan kelembutan dan keibuan yang membuat setiap pria menginginkan untuk menikahinya. Life is too perfect to be complain. Aku bangkit, membayar kopiku dan berjalan pulang. Kemudian apapun yang terjadi hari itu, seburuk apapun kondisi yang harus kami hadapi, sepadat apapun jadwal kami, aku baik-baik saja.

Jonghyun POV

Cuaca yang sangat bagus, udara segar, dan dedaunan hijau yang melambai riang. Aku mengamati Minhyuk yang masih terfokus pada handphonenya. Pasti Krystal masih tidak bisa dihubungi. Aku tidak mengerti dengan mereka. Bagaimana dua orang keras kepala itu bisa bersatu dalam hubungan cinta. Atau Bagaimana mereka tetap bertahan walaupun setiap hari seperti perang dunia. Dan di pojok sana, Yonghwa hyung sedang menyiapkan sarapan untuk kami. Kimchi yang dikirim oleh ibu mertuanya, Eomma Seohyun. Setiap hari kulkas tak lagi kosong. Dipenuhi makanan kiriman ibu mertuanya yang sangat perhatian. Aku bersyukur untuk Yonghwa oppa. Bisakah aku seberuntung dirinya? Mempunyai istri yang pengertian, keluarga yang mencintai, dan fans yang selalu bangga padanya. Tapi Yonghwa hyung memang pantas untuk dibanggakan. Lihatlah. Dia bersinar. Seterang bintang dikejauhan angkasa. Tapi dia begitu nyata. Dia sukses dalam drama, musik, menyanyi, membuat lagu, pembawa acara, dicintai di variaty show. Aku beruntung hidup bersamanya.

Sedangkan Jungshin masih saja melatih jari jemarinya di atas bass. Aku tidak mengerti juga dengan yang satu ini. Entah Sooyoung atau Luna yang ada di hatinya. Tapi dia selalu berusaha ada untuk mereka berdua. Aku juga tidak bisa memilih yang mana yang lebih baik untuknya. Hanya saja, aku ingin Jungshin bahagia. Siapapun pilihannya. Saat semua telah mendapatkan cintanya masing-masing, atau hampir mendapatkannya seperti Jungshin. Aku masih bergeming. Tidak tergoda untuk memulai suatu hubungan. Walaupun agensi kami yang sangat baik mengizinkan. Walaupun eomma dan appa sudah merongrongku berkali-kali. Tapi aku tidak peduli. Belum berminat. Hidup ini terlalu indah untuk diwarnai dengan sakit hati cinta. Jadi gitarku yang tak pernah complain cukup untuk menemaniku.

“Makanan siap…” Yonghwa hyung melepaskan celemeknya dan kami melepaskan diri dari apa yang kami pegang. Duduk di pantry kecil itu berempat. Berdoa dan makan dalam diam.

“Krys belum ketemu?” tanya Yonghwa hyung pada Minhyuk.

Lelaki itu hanya mengangguk, aku meringis. Dongsaengku itu begitu terluka. Terlihat dari guratan wajahnya yang membuatnya nampak menjadi sangat tua.

“Kau sudah menghubungi menejernya?” tanya Jungshin.

“Sudah,” jawabnya singkat.

“Hmmm… Sooyoung juga tidak tahu. Hyung, kau sudah bertanya pada Seohyun?” tanya Jungshin pada Yonghwa hyung.

Yonghwa mengangguk,”Ne, tapi mereka juga tidak tahu. Jessica tidak berhenti menangis sejak tadi malam. Sekarang dia demam. Orang tua mereka datang dari Amerika hari ini, mereka ingin mencari sendiri di mana Krystal. Polisi juga sudah melakukan pencarian, tapi karena dalam keadaan tertutup begini, jadinya agak susah.”

Aku mengerti, mencari seseorang yang menghilang namun tidak ingin orang-orang tahu dia hilang itu sungguh nyaris mustahil. Namun kepergian Krystal memang harus disembunyikan. Krystal menghilang setelah berkelahi hebat dengan Minhyuk pagi kemarin. Minhyuk marah karena Krystal terus-terusan memaksakan diri untuk makan terus-menerus.

“Hyung, setelah jadwal kita selesai hari ini aku ingin ikut mencari krys bersama polisi. Bolehkah?” tanya Minhyuk. Bibirnya terkatup.

Yonghwa hyung menepuk pundaknya,”Lakukan Hyuk~ah. Kami akan mendukung apapun yang kau lakukan. Temukan dia, dan lakukan apa yang seharusnya lelaki lakukan.”

Minhyuk mengangguk. Namja ini kuat. Aku tidak tahu apa yang kulakukan jika kekasihku hilang. Mungkin aku tidak bisa sekuat Minhyuk.

~

Yoona POV

Aku tiba saat Seohyun mengganti kompres di kening Jessica. Gadis itu antara tidur atau tidak. Matanya menutup, tapi mulutnya masih menggumamkan nama Krystal. Aku menyentuh Seohyun, meminta untuk menggantikannya. Seohyun menyingkir dan menyerahkan kompres kepadaku.

“Sicca ah.. Kita akan menemukannya. Adik kecilmu itu pintar, dia tidak akan melakukan tindakan macam-macam. Percayalah padanya.” bisikku.

Jessica tidak membuka matanya, namun air mata masih mengalir di pipinya.

Aku mendesah, aku tahu ini berat. Namun bersikap seperti Jessica tidak akan menyelesaikan masalah. Aku pernah mengalami hal yang lebih berat. Ditinggalkan ibuku. Ibu kandungku sendiri. Kurasa, sudah saatnya aku melakukan sesuatu. Mungkin membantu, mungkin tidak. Tapi aku harus bertindak.

Akhirnya kami tampil di acara musik itu hanya berdelapan. Seohyun, Tiffanny, Sunny, Yuri, Hyeoyoon, langsung pulang setelah acara untuk menjaga Jessica. Sementara aku dan Taeyon oenni berkumpul bersama member CNBlue. Kami harus memiliki rencana untuk membantu pencarian. Minhyuk dan Yonghwa sudah bergabung bersama polisi untuk mencari. Sementara Sooyoung dan Jungshin juga pergi ke tempat yang pernah Krystal kunjungi bersama para member Fx yang lain. Akhirnya Taeyon oenni memintaku dan Jonghyun, gitaris CNBlue untuk mencari petunjuk dari diary Krystal yang diserahkan Victoria oenni padaku.

Aku membuka diary itu, nihil tak akan ditemukan apa-apa di sini. Isinya hanya lirik-lirik lagu kesukaan Krystal. Tentu saja anak satu itu tidak akan menuliskan perasaannya di sebuah buku. Namun di halaman terakhir aku melihat sebuah lagu yang memiliki gambar bintang di atasnya. Byul. Lagu yang dinyanyikan Minhyuk untuk sebuah soundtrack drama.

“Byul…” bisikku sambil mengelus lambang bintang itu dengan jemariku.

Jonghyun yang berdiri di sisiku tiba-tiba mendekat, ia mengamati diary di tanganku.

“Apakah artinya lagu ini sangat berarti buat Krystal?” tanyaku.

“Minhyuk pernah bilang, dia sampai bosan mendengar suaranya sendiri karena lagu ini selalu menjadi playlist di mobil ketika mereka pergi berdua. Krystal suka lagu ini.”

“Pergi? Kemana?” tanyaku.

“Biasanya mereka ke bukit tinggi di sisi kota, atau ke atas gedung di Samdong, Krystal suka dengan ketinggian, dia bilang itu membuatnya dekat dengan bintang.”

~

Jonghyun POV

Aku menatapnya dengan bingung, Yoona memandangiku dengan kening berkerut,”Bagaimana kau bisa tahu selengkap itu.”

Aku mengangkat bahu,”Dari Minhyuk.”

Yoona menatap semakin tajam,”Jadi kalian menggosipkan kami para wanita?”

Aku terhenyak, kenapa dia meledak? Apakah salah jika sahabatmu menceritakan tentang kekasihnya, hal-hal yang wajar dan biasa?

“Bukankah kalian juga menggosipkan kami? Jangan bilang tidak. Aku menonton semua episode WGM Seohyun dan Yonghwa hyung.”

Yoona merengut dan bersedekap.

“Sudahlah, kita harus cepat bergerak.”

“Kemana?” tanya Yoona.

Aku mengangkat bahu, aku benar-benar tidak tahu kemana harus mencari Jung Sojung kekasih Kang Minhyuk itu.

“Byul..” bisik Yoona lagi.

Aku meliriknya, kenapa dia terus mengulang-ulang kata-kata itu. Tiba-tiba dia terlonjak dan menjetikkan jarinya yang lentik.

“Ayo kita pergi!” Dia berjalan dengan cepat keluar ruangan, meninggalkanku yang bertanya-tanya akan sikapnya yang berubah secepat Power Ranger.

~

“Kenapa sih kau harus membawa-bawa gitar berat itu?” tanya Yoona sambil bersedekap, menungguku memasukkan gitarku ke bagasi Lexus hitamku.

“Karena saya gitaris nona, bukan idol seperti anda.”

Yoona memajukan bibirnya,”Kau juga idol. Siapapun yang terjun dalam dunia musik Korea adalah idol.”

Aku tersenyum,”Aku lebih suka di sebut musikus daripada idola. Musikku akan dinikmati sepanjang masa, sedangkan idola akan mati saat dia tak lagi mempesona dan menarik untuk dilihat. Saat kulitmu sudah mulai keriput, mereka akan meninggalkanmu.”

“Aku memang akan ditinggalkan Jonghyun~ssi, tapi aku telah meninggalkan kenangan dalam benak mereka.”

“Yang dengan cepat akan mereka lupakan.”

“Ya! Kau kenapa? Ingin sekali melihatku menderita.”

Aku hanya berlalu ke arah pintu depan, dan menyalakan mobil. Yoona berjalan ke pintu penumpang depan dengan kesal dan membuka pintunya.

“Berhentilah berwajah masam atau kau akan cepat keriput dan ditinggalkan.” ucapku.

Mungkin Yoona ingin sekali melayangkan sepatunya ke arahku, namun dia hanya diam dan bersedekap. Sekarang fokusnya adalah Krystal, kami harus menemukannya. Sebelum Jessica menjadi gila.

~

Yoona memintaku menyetir ke sebuah rumah sakit di tengah kota. Aku mengernyit tapi menuruti perintahnya. Gadis ini semacam mempunyai kekuatan superior untuk selalu dituruti. Aku tahu, ada sebuah kekuatan yang membuatnya berbeda. Buktinya saat Taeyon menanyakan siapa yang ingin ikut mencari Krystal, dia dan Sooyoung mengajukan diri pertama kali.

Kami sampai di rumah sakit besar itu, Yoona mengenakan topi dan syalnya, melindungi wajahnya agar tidak dikenali orang-orang. Aku tidak berusaha seperti Yoona, karena tidak banyak orang yang mengenalku. Sejauh ini aku masih bebas ke mana-mana. Berbeda dengan Yonghwa hyung yang akan membuat orang berteriak oetoriya jika melihatnya berkeliaran di jalan-jalan. Mungkin ada bagusnya juga orang bersikap begitu padaku, mereka akan meneriakkan arigato, gumawo, bukankah itu lebih baik? Kkeke aku kembali fokus mengikuti Yoona yang melangkah panjang-panjang, mudah saja karena kakiku jauh lebih panjang darinya. Ia berbelok ke poli anak.

“Permisi..” Yoona menyapa perawat yang berdiri di balik meja resepsionis.

Perawat itu mendongak dan malah menatapku dengan mulut terbuka lebar.

“Permisi..” ucap Yoona sekali lagi.

Perawat itu menatap Yoona yang hampir seluruh wajahnya tertutup topi dan syal. Rupanya perawat itu tidak mengenali bahwa perempuan yang mengajaknya biacara adalah image dari SNSD, girlband nomor satu di negeri ini.

“Iya Nona?”

“Saya ingin bertanya, sekitar satu tahun lalu ada anak bernama Lee In Byul yang lahir di sini. Apakah anda tahu di mana alamatnya?” tanya Yoona.

“Maaf anda siapa?” perawat itu bertanya sambil terus menatap berharap padaku.

Yoona terdiam, pabo, anak ini pasti tidak menyiapkan jawabannya,”Kami paman dan bibinya, kami ingin mengunjunginya, tapi kami tidak bisa menghubungi orang tuanya, jadi kami bertanya pada Anda.” ucapku meyakinnya.

Perawat itu tersenyum lebar menatapku,”Ooo iya, setahun lalu ada bayi yang bernama Inbyul yang lahir di sini, ibunya tiba-tiba melarikan diri dua hari setelah melahirkannya, jadi kami mengirimnya ke panti asuhan Egihan di Busan.”

Aku mengangguk, dan memberikan senyum terbaikku,” Terimakasih atas bantuan anda.”

“Sama-sama oppa.”

Aku kemudian menarik Yoona yang dari tadi hanya terpaku.

“Permisi,” panggil perawat tadi.

“Ne?” tanyaku sambil berbalik.

“Apakah anda berdua… suami istri?”

Aku tersenyum dan merasakan tangan yang kugenggam menghangat,”Apakah tampak seperti itu?” tanyaku.

Perawat itu hanya tersenyum agak kecewa.

Aku mengangguk,”Sekali lagi, terimakasih,” sambil sedikit membungkuk, kemudian menarik Yoona pergi dari sana.

~

“Perawat itu suka padamu.” ucap Yoona ketika kami sudah di dalam mobil yang melaju meninggalkan rumah sakit.

“Perempuan mana yang tidak?” tanyaku.

Yoona tertawa dan memukul pundakku ringan,”Kau pede sekali tuan gitaris.”

Aku tersenyum sambil terus menyetir. Kami melaju ke Busan, hari sudah mulai gelap.

“Dia mengira kita suami istri.” ucapnya lagi.

“Kenapa? Kau suka dia menganggap kita begitu?”

Yoona tertawa lagi,”Aku kasihan melihat wajahnya yang kecewa, lain kali jangan mengerjai orang seperti itu.”

“Kasihan atau cemburu?” tanyaku.

Wae? Kenapa aku harus cemburu?”

“Karena dia menatapku, dan tidak menatapmu.” jawabku.

Yoona mendengus,”Memetik gitar bisa meningkatkan rasa pede hingga over dosis tampaknya.”

“Kau bisa melakukan penelitian.” jawabku.

“Penelitian?”

“Iya, dengan begitu kau akan menatapku setiap hari, bukankah kau suka menatapku, Im Yoona?”

Yoona mendengus sebal dan melemparkan pandangannya ke langit orange dan padang yang menghiasi perjalanan kami. Dia pasti berharap untuk menemukan Krystal secepat mungkin.

Yoona menceritakan padaku kenapa dia mengajakku kerumah sakit. Setahun yang lalu saat menengok Kyuhyun yang sakit di rumah sakit, Krystal dan Yoona melihat seorang bayi yang ada di dalam box bayi. Krystal langsung jatuh cinta pada bayi itu. Karena mata bayi itu berwarna biru. Krystal jadi rajin mengunjunginya. Dan mereka berdua memberi nama bayi itu In Byul. Tapi di hari kelima, Krystal tidak menemukan bayi itu lagi. Bayi itu sudah di bawa pergi. Mereka berdua tidak pernah kembali ke rumah sakit itu atau mencari tahu. Karena buku diary tadi, dan lagu Byul tadi, Yoona berinisiatif mencari Byul. Mungkin saja Krystal di sana. Menemuinya.

~

Yoona terbangun dari tidurnya, ketika aku memarkirkan mobil setelah mengisi bensin. Aku ingin beristirahat sejenak. Yoona melirikku dengan matanya yang mengantuk. Aku menyerahkan sebotol jus jeruk yang baru kubeli di supermarket.

“Sudah dimana kita?” ucapnya sambil mengambil jus jeruk itu.

“Satu jam lagi kita sampai.” jawabku.

Yoona mengangkat bahunya pelan, membenarkan posisi tidurnya,”Minhyuk.. Apakah benar-benar tidak suka kalau Krystal makan terlalu banyak?”

Jonghyun mengangguk,”Minhyuk tahu kalau Krys makan terlalu banyak dia akan sakit saat dance. Dia tidak ingin Kryssy sakit.”

Yoona menarik nafas dalam,”Jadi itu alasannya.”

Aku mengangguk,”Minhyuk bukan lelaki bodoh yang menjaga pola makan pacarnya agar pacarnya selalu terlihat cantik di depannya, dia punya alasan yang lebih baik.”

“Sangat baik.” bisiknya.

Tiba-tiba aku melihat air mata sudah mengalir di pipinya, Yoona memalingkan wajah dan menghapus air matanya. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya.

“Im Yoona…” panggilku pelan.

Yoona tidak menatapku, dia masih bersikeras menatap langit hitam di luar jendela.

Aku berjuang keras agar tidak menyentuhnya lagi, jadi aku menunggu.

“Dulu… Aku pernah berada di posisi seperti Krystal. Tidak sama persis memang. Tapi aku tahu rasa sakitnya.” dia bercerita dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, namun berusaha di tahan.

“Aku mencintai seorang pria. Seorang namja yang telah ada dihidupku selama sepuluh tahun. Namja yang menyemangatiku setiap hari. Bertahan di tengah siksaan menjadi traine. Suatu hari saat kupikir dia menyukaiku, dia malah mencampakkanku. Changmin oppa menolakku karena aku terlalu kurus. Kemudian dia berpacaran dengan Sooyoung oenni yang seksi. Sampai Sooyoung oenni mengetahui aku mencintai Changmin oppa. Dia memutuskannya. Aku tahu rasanya dibenci karena bentuk tubuhmu. Aku tahu rasanya diabaikan karena kau tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Aku tidak pernah bisa menjadi berisi. Sebanyak apapun makanan yang kumakan. Krystal hanya terlalu kecil untuk memahami bahwa Minhyuk punya alasan yang baik. Harusnya dia tahu dia memiliki namja yang mencintainya apa adanya. Bukan sepertiku, diabaikan, dan ditinggalkan.”

Aku tak sanggup lagi mendengarnya, jadi yang kulakukan adalah mendekapnya dalam pelukanku, membiarkannya menangis di dalam dekapanku.

Langit hitam berbintang menjadi saksi, bahwa menjadi hebat dan bersinar belum menjamin kau akan mendapatkan segalanya. Seperti Yoona yang harus kehilangan cinta karena bentuk tubuhnya. Seperti Krystal yang terlalu kecil untuk memahami besarnya cinta. Seperti Minhyuk yang berjuang untuk mencari kekasihnya. Seharusnya kita bersyukur, untuk semua yang kita miliki, sejelek apapun, sekurang apapun, kita telah diciptakan istimewa. Menjadi produk yang tiada duanya. Bersinar seperti kilauan bintang di langit malam.

~

Aku menutup telponku, suara Minhyuk yang serak karena kelelahan dan kawatir baru menghilang dari sana. Mereka masih mencari, sama sepertiku. Aku tahu Minhyuk tidak tidur dari kemarin. Dia pasti khawatir, seperti kami, lebih daripada kami.

Yoona sudah tenang, kini dia menyanggul rambutnya, dan menawarkan diri untuk menyetir. Aku menolak mentah –mentah dan mulai menyalakan mesin mobil, memulai lagi perjalanan kami.

“Apakah Seohyun sudah memberikan jawaban?” tanyaku pada Yoona.

“Jawaban apa?” tanyanya bingung.

“Kau tidak tahu?” tanyaku.

“Apa?”

“Benar-benar tidak tahu?” tanyaku lagi.

Yoona menggeleng dan memiringkan wajahnya menatapku, omo, mata itu begitu memikat. Jadi ini yang membuatnya menjadi favorit banyak orang.

“Hyung melamarnya tiga hari yang lalu?”

“Mwo!” Yoona benar-benar terperanjat. Dia menutup mulutnya.

“Kau serius?” tanyanya padaku.

“Seohyun tidak bilang apa-apa?”

Yoona menggeleng,”Dasar magnae itu, Bagaimana bisa dia menyembunyikannya dari kami?”

“Kau yakin, dia tidak menceritakannya pada siapapun? Bagaimana kalau dia hanya tidak bercerita padamu?”

Yoona memukul pundakku lagi. Aku terkekeh.

“Aku akan sangat bahagia jika mereka menikah.” bisiknya pelan. Matanya berbinar.

Aku tersenyum melihatnya, aku suka melihat keceriaan mewarnai wajahnya lagi. Wajahnya begitu pink, begitu cerah, begitu dewi.

“Kita akan menjadi ipar?” tanya Yoona.

“Tergantung.” jawabku.

“Apa?” tanyanya.

“Apa dongsaengmu menerima lamaran hyungku atau tidak.”

“Aku berharap Seohyun tidak bertindak bodoh dengan menolaknya. Omo, Jung Yonghwa yang hebat itu, ani ani, Seohyun harus menjawab ya.” wanita itu menjadi ribut sendiri.  Aku terkekeh.

“Yoona…” panggilku.

“Hm?”

“Kalau Yonghwa hyung melamarmu, apakah kau akan menjawab ya?” tanyaku.

Yoona menelengkan kepalanya,”tergantung.” jawabnya.

“Tergantung apa?”

“Apa dia bisa menciptakan lesung pipit sepertimu.”

Aku tersentak, ooo, rupanya Yoona telah membalas permainanku.

“Jadi kau berharap dilamar lelaki yang berlesung pipit sepertiku hah?”

“Tidak juga.” jawabnya.

“Lalu..”

“Dia juga harus punya dada yang lebar dan hangat untuk menampung tangisanku.” jawabnya.

“Hey, apakah ada laki-laki yang membiarkan kausnya dilumuri cairan hidung perempuan yang menangis karena dicampakkan lelaki lain?” ucapku semakin membuatnya kesal.

Yoona memukul pundakku kali ini agak keras,”Kau tahu Im Yoona, jika aku menikah denganmu, aku akan melakukan oprasi patah tulang setahun tiga kali.”

“Wae?” tanya Yoona.

“Kau tidak sadar sudah berapa kali memukulku hari ini?” tanyaku.

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum riang,”Aku tidak memukulmu Lee jonghyun… Lalalalallaa…”

Omooo kekanakan sekali, aku diam dan kembali menyetir. Yoona menyalakan DVD di mobilku, dan alunan lagu arigato segera mengisi udara di dalam mobil, dan suaraku mengalun merdu, diikuti Yoona yang tampaknya sudah hapal benar lirik lagu itu.

“Kau menulis lagu ini untuk seseorang?” tanya Yoona.

Aku menggeleng.

“Bohong.” ucapnya.

“Memangnya kenapa kalau aku menulis lagu untuk seseorang?” tanyaku.

“Tidak. Aku penasaran saja. Bagaimana rasanya diciptakan sebuah lagu. Seperti Seohyun yang selalu menjadi inspirasi untuk Yonghwa.” jawabnya polos.

Aku hanya diam. Perempuan ini kesepian. Perempuan ceria dan superior ini mengharapkan kehadiran seseorang untuk mengisi hidupnya.

“Hey! Ini tempatnya!” Yoona mencengkram lenganku seraya menunjuk sebuah panti asuhan yang lumayan besar, berdiri di sisi kota.

Aku memarkirkan mobil di depannya, Yoona menarik nafas dalam,”Semoga usaha kita membuahkan hasil.”

~

Perempuan itu terlihat kurus dan menyedihkan, cantik seperti patung pahatan yang dipahat terlalu banyak, tipis dan rapuh.

Krystal duduk di samping keranjang bayi. Ada banyak keranjang di sana, namun dia terpaku pada satu keranjang. Tangannya menggenggam tangan kecil bayi itu. Seperti meminta kekuatan, atau berbagi kekuatan. Matanya sayu dan sedih. Bibirnya pucat dan kering. Yoona melangkah perlahan menghampirinya. Sedangkan aku berdiri menunggu dan mengamati di sisi pintu mereka. Yoona memanggil Krystal pelan.

“Kryssy.”

Krystal menoleh, sangat pelan, dan mereka berpelukan. Krystal menumpahkan semuanya pada Yoona. Dan aku tepekur di sana, mengambil handphone di saku celana, menekan tombol nomor empat dan meletakkannya di telinga.

“Kami sudah menemukan Krystal, Hyuk~ah.”

Desahan lega di seberang sana, adalah kelegaan luar biasa, dan aku tahu, itu adalah kelegaan seseorang yang mengetahui keberadaan orang yang dicintainya.

~

“Mereka menyebutnya ventrikel septal defek. Penyakit kelainan juantung bawaan. Aku sudah tidak normal oenni, aku akan mengalami penurunan kualitas hidup, aku menjadi tidak nafsu makan dan cepat lelah, itulah kenapa aku makan banyak, aku ingin melawan penyakit ini.” Krystal dan Yoona duduk di bangku taman di samping gedung panti asuhan. Sementara aku mengamati mereka, bersandar di kap Lexus hitamku.

Yoona membelai lembut rambut gadis itu,”Kau boleh sakit sayang, tapi kau harus tetap kuat.”

“Bagaimana aku bisa kuat jika orang yang kucintai tidak menginginkan aku hidup.”

“Apakah kau bilang pada Minhyuk tentang penyakit ini?”

Krystal menggeleng pelan,”Aku tidak ingin dia menganggapku lemah. Dia akan meninggalkanku oenni… Seperti Byul yang ditinggalkan eommanya.”

Yoona menggenggam tangan Krytsal,”Seseorang yang mencintaimu tidak akan meninggalkanmu hanya karena kau lemah, dia akan berdiri di sampingmu, menguatkanmu.”

“Ibuku, ibu Byul, memilih untuk pergi karena mereka menyerah. Namun, orang yang mencintamu tidak akan menyerah sayang. Kau tahu betapa Minhyuk menjadi gila mencarimu seharian ini. Dia tampak seperti orang sekarat, tapi dia terus mencarimu. Dia bisa saja memilih meninggalkanmu, tapi lelaki yang akan meninggalkanmu tentu tidak mencarimu sekeras itu bukan?” ucap Yoona.

Krystal menunduk,”Aku sakit oenni. Bagaimana bisa dia mencintai orang sakit yang lemah sepertiku?”

“Bukankah ‘Forever I will love you’, seperti yang dia nyanyikan untukmu?” tanya Yoona.

Krystal terdiam, lagu itu, dia selalu suka mendengarnya, lagu itu membuat hatinya hangat. Dia ingin percaya dengan semua yang dikatakan Minhyuk dalam lirik itu, hanya saja penyakit ini melemahkan kepercayaan dirinya.

“Jung So Jung…” sebuah nama memanggilnya, suara itu, kehadiran itu, seperti bintang di malamnya yang gelap.

~

Minhyuk POV

Apa yang terjadi pada Krystal-ku? Kenapa dia menjadi kurus begini? Aku melajukan mobilku dengan kecepatan gila-gilaan, mengebut sendirian, meninggalkan Yonghwa hyung dan Seohyun yang mengikutiku di belakang. Entah sampai kecepatan berapa aku melaju, hanya saja aku bersyukur Tuhan tidak menghukumku karena melaju gila-gilaan. Aku berjanji tidak akan segila tadi, asalkan Krystal tidak bersikap seperti ini lagi.

Aku menghampirinya yang duduk dengan badan yang lemas, Yoona nuna bangkit dan meninggalkan kami berdua.

Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya,”Wae?” tanyaku.

Krystal melepaskan tangannya,”Mian,” bisiknya.

Aku menunduk,”Aku yang minta maaf kryssi, aku yang melarangmu macam-macam.”

“Tidak mengapa, Yoona oenni sudah mengatakan padaku alasanmu yang sebenarnya, hanya saja aku telah berbeda Hyuk.”

Aku menatapnya, membelai pipinya, dia menyingkirkan tanganku,”Aku sakit. Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.”

Aku menatap Krystal,”Tidak ada wanita yang lebih pantas untukku, selain kau Jung so jung. Jangan mencoba membuat alasan.”

“Tapi aku tidak akan bisa sehat seperti dulu, aku akan menjadi kurus dan tidak telihat menarik.”

“Peduli apa aku dengan penampilanmu, aku memilihmu karena dirimu seutuhnya so jung, bukan hanya sebagian dari penampilan fisikmu. Mengapa sulit sekali untukmu mempercayaiku?”

Aku frustasi, dia tidak tahu Bagaimana berantakannya hidupku seharian ini tanpanya. Tidak sampai dua hari dia meninggalkanku, tapi rasanya aku sudah hampir mati. Bagaimana bisa dia menolakku seperti ini.

“My eyes will look at only you. Would you also look at only me?” tanyaku, dengan sepenggal lirik dari lagu yang paling disukainya.

Krystal mengangguk, dia meletakkan tangannya di atas tanganku, dan aku memeluknya erat. Erat. Sangat erat. Aku tidak akan membiarkannya seperti ini lagi. Aku akan menjaganya, sesakit apapun dia, seberantakan apapun penampilannya, dialah bintangku, dan akan menjadi seperti itu selamanya.

“Be with me always. For long time.” bisik Krytal dalam dekapanku.

“We can be each other’s star” bisikku sambil mengecup puncak kepalanya.

~

Yoona POV

“Misi selesai,” ucapku sambil mengamati mereka berdua, Minhyuk dan Krystal yang berpelukan di sisi taman.

Aku merentangkan lenganku lebar, kemudian menutup mulutku yang menguap. Ketika aku berbalik, aku mendapati Jonghyun yang menatapku lekat.

Aku menatapnya dengan tatapan bertanya.

Jonghyun tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum dan memerkan lesung pipitnya yang indah, jantungku memompa darah lebih cepat, anehnya tanganku terasa membeku. Tiba-tiba, dia meraih tanganku, menggenggamnya, dan memasukkannya di kantong jaketnya. Dia menarikku mendekat, dan entah bagaimana, aku meletakkan kepalaku di pundaknya yang hangat, dan tegap. Dan rasanya semuanya menjadi benar,”Kau menyukainya Im Yoona?” tanyanya.

Aku tidak mengatakan apapun hanya menggumam pelan,”Hmm.”

“Aku jauh lebih menyukainya, tetaplah seperti ini, untuk waktu yang lama.” Bisiknya. Dan tiba-tiba aku tahu, aku jatuh cinta pada pria ini. Jatuh perlahan dan dalam pada pria yang menemaniku, satu hari, dan aku mendapatkan satu impianku. Lelaki yang menjagaku, menemaniku, mencandaiku, menghangatkanku.

~

Semua orang di Dorm sedang sibuk mencoba gaun masing-masing. Ya kami bersembilan sedang mencoba mempaskan gaun yang akan kami kenakan pada pernikahan magnae Seohyun. Akhirnya yeoja itu menerima lamaran Yonghwa. Entah bagaimana bahagianya kedua orang tua mereka, penantian mereka selama ini telah terwujud, akhirnya pesta pun akan diadakan secara meriah, namun tetap elegan dan friendly. Sangat khas Seohyun dan Yonghwa.

Krystal sudah menjalani oprasi keduanya, dokter bilang dia akan segera sembuh. Ya, orang tua Krystal membawanya ke Amerika untuk melakukan pengobatan. Dan sekarang si bodoh berdua itu, ya Kryssy bersama Kang Minhyuk, malah betah sekali di Amerika, sampai saat ini mereka belum pulang juga. Jessica heboh menelpon adiknya agar segera pulang, karena dia juga harus mempaskan gaun untuk pesta itu.

Aku memutar-mutar handphone ketika benda itu bergetar di tanganku.

From: Jong Hyun pabo

‘Hai kurus, sedang apa? Melamunkanku kah?’

Aku tertawa membaca sms itu, kami memang sering berhubungan sejak kejadian Krystal itu. Sering pergi keluar berdua. Aku tidak takut lagi dengan menyembunyikan wajahku. Aku merasa aman bersama Jonghyun. Kami mengunjungi cafe-cafe yang kami suka. Menemaninya mengambil foto dengan canon kesayangannya keliling kota. Melakukan apapun yang kami suka. Makan eskrim, duduk-duduk di taman, membaca di perpustakaan, mengunjungi panti asuhan.

Beberapa netizen kerap memergoki kebersamaan kami, awalnya terjadi banyak konfrontasi di internet. Tapi akhir-akhir ini aku malah dikejutkan dengan banyaknya forum-forum yang mendukung kami. Semakin sedikit orang yang tidak suka pada kedekatan kami. Dan semakin banyak orang yang mendukung kami.

To: Jong Hyun pabo

‘Melamunkanmu? Seperti tak ada pekerjaan lain saja.’

Aku mengirim tombol sent. Orang ini memang perlu diberi pelajaran untuk mengendalikan rasa pedenya itu.

“Oenniiiiii!” tiba-tiba aku merasa seseorang memelukku dari belakang.

Aku berbalik dan mendapati Krytal yang tampak sehat dan berbahagia memelukku, dibelakangnya Minhyuk berdiri membawakan tas ungu Krystal. Tampak lucu, bingung melihat dorm yang berantakan, namun tampak sangat bahagia. Sangat sangat bahagia.

“Kau baru pulang Kryssyyyy! Bagaimana bisa kau pergi begitu lama, gara-gara bersama Minhyuk di sana kau jadi lupa waktu!” ucapku sambil mengetuk kepalanya pelan.

Krystal terkekeh,”Oenni sehat-sehat sajakan?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Kemudian dia memanggil Minhyuk yang menyerahkan tas yang dipegangnya kepada Krystal, Krystal mengeluarkan bingkisan,”Oleh-oleh dari Amerika.” Ucapnya ceria.

“Yeobo…”ucap Minhyuk tampak seperti teguran.

Krystal terkekeh,”Bercanda yeobo. Oenni, ini titipan dari seseorang.”

Aku menerima bingkisan persegi panjang kecil itu. Sementara Krystal menyandar di dada Minhyuk yang asyik memainkan rambut Krystal.

“Terimakasih.” Ucapku,”tapi dari siapa?” tanyaku.

Belum sempat Krystal menjawab, dia dan Minhyuk sudah ditarik oleh para oenni yang meminta mereka mencoba gaun dan jas yang sudah disiapkan.

Aku membuka bingkisan putih itu, sebuah ipod. Aku mencari headsetku, menyalakan ipod itu, hanya ada satu lagu di sana. Aku menyentuh tanda play.

Listen to my story
I saw a falling star
And I made a wish upon the tiny spark, then
My heart belongs to you forever, forever more
I hope my wish can be heard to the sky…

 

Do you know the story of you and me
That is shining in this world?
Unchangingly always by my side
Your heart is making me shine

 

Hey, look at the night sky
Do you know why that glitters?
Our minds become a star with one accord
Glitter in the night sky. And like your mind, baby.
And it is shining somewhere tonight


I hope that this feeling
Can continue shining on forever
Yes, I hope that your and my feelings
Will surely become a single star
I sing a song with all my heart, my heart

I wish I could see a starlit night
With you all the time… with you forever

Rasanya aku mengenal suara itu, aku baru saja hendak menelpon seseorang ketika orang yang kumaksud malah lebih dulu menelponku.

“Kau suka lagunya?” tanyanya cepat saat aku mengangkat telpon.

“Hmmm?” tanyaku.

“Bagaimana rasanya mendengarkan lagu yang dibuat khusus untukmu?” tanyanya.

Aku tersentak, dia menulis lagu ini untukku. Aku tidak menjawab apa-apa. Tubuhku membeku. Dia benar-benar menulis sebuah lagu untukku???!!!

“Apakah sama menyenangkannya dengan perasaan yang kurasakan ketika aku menulisnya?” tanyanya.

Dia benar-benar menulis lagu untukku. Untuk seorang Im Yoona. Lee Jonghyun! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau bersikap manis dan membuatku jatuh cinta?

“Aku tahu kau terpesona oleh keahlianku tapi, Im Yoona, kau membuat pulsa ini terbuang sia-sia. Cepat lihat ke jendela.” ucapnya.

Aku berjalan pelan ke jendela, mendapati pria itu tersenyum bangga, dengan lesung pipi di kedua pipinya, bersandar di Lexus hitamnya dan menatapku. Hanya menatapku.

“Turunlah, aku merindukanmu.” ucapnya hangat.

“Tunggu,” ucapku cepat,”Apakah aku sudah pernah bilang bahwa kau mengagumkan Lee Jonghyun.” Kali ini dia yang terdiam mendengar keterusteranganku.

“Dan Lee Jonghyun, kurasa aku mencintaimu.” Ucapku.

Dia menghela nafas dan menatapku jahil,”Buatlah aku percaya dengan mengatakannya langsung di depanku. Atau bagaimana kalau kita mengunjungi orang tuaku malam ini dan kau mengatakan itu di depan mereka!”

“Lee Jonghyun!!!” teriakku sebal.

Namun dia hanya tertawa sambil terus menatapku,”Cepatlah turun, tega sekali kau membuatku menunggu, Nona Im.”

Aku tersenyum dan menutup telpon, mengambil jaket yang ada di atas sofa dan berjalan cepat keluar.

“Im Yoona! Mau kemana kau? Kau belum mencoba gaunmu!!!” Jessica oenni berteriak memanggilku.

“Nanti saja oenni, aku sedang sibuk!” teriakku sambil membuka pintu dan kabur.

“Dasar anak itu, kalau semua orang di grup ini menikah dengan anggota CNBlue, lalu aku harus menikah dengan siapa?” desahan Jessica oenni di balik pintu membuatku terkikik. Entahlah oenni. Aku tak tahu. Yang jelas aku bahagia. Lee Jonghyun, namja burning yang menyebalkan itu mencintaiku, adakah yang lebih membahagiakan daripada itu? Aku melangkah menghampiri namja tinggi, tegap, dan gagah itu. Yang segera menyambut hangat jemariku. Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan dengan menyerah. Seperti bintang dilangit, bersinarlah, teruslah bersinar, entah kau tak dinikmati di siang hari, tapi ada malam ketika orang-orang mengagumi, melihatmu, menikmatimu.

~

Like it? Dislike it? Pleasure to read your comment.😉

Lyric dari www[dot]kpoplyrics[dot]net

3 thoughts on “Grand Burn

  1. DAEBAK😄
    Keren eon.. Dikemas dengan apik.. Aku suka sama ceritanya..😄
    Berat memang tidak dicintai hanya karena faktor fisik. Menyakitkan.
    Tapi eonnie bisa mengemas dengan rapih bahwa di dunia ini tetap ada orang yang mencintai diri kita dengan tulus murni dari diri kita bukan karena fisik..
    Aih, terharu bacanya.. Cerita Krystal-Minhyuk bener bener nyentuh.. :’)
    Dan aku juga seneng JongYoon bisa bersatu.. Ah so sweet..😄
    Lanjut bikin FF yang keren lagi ya eonnie!😄
    Fighting!’O’)9

  2. Maaf, mau nanya nih.. Kira” boleh gak saya izin share semua FF yang ada di blog Eonni ini ke blog saya?
    Maaf sebelum’a kalau saya kurang sopan🙂

    Gomawo ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s