Love Light

Standard

FF ini pernah saya kirim ke ffcnblueindo.wordpress.com dengan menggunakan nama penulis saya yang baru yaitu ‘hayputrii’ dan di posting pada tanggal 17 Januari 2013

coolight

Title: Cool Light

Author: @hayputrii

Rating: G

Genre: Romance

Length: Short Story

Main cast:

Kang Minhyuk

Choi Sulli

Other Cast:

CN Blue Member

Fx Member

2PM Member

Soo Joo Hyun

Choi Sooyoung

And another cast

Disclaimer: FF ini saya buat dengan perjalanan neuron dan impuls-impuls yang di anugrahkan Tuhan pada saya, dengan para makhluk ciptaan Tuhan sebagai pemainnya.

Note: Ini adalah fansfiction seperti yang lainnya, dibuat dengan cinta, dan dimaksudkan untuk dinikmati bersama. Dimohon untuk tidak copy paste dan mempublikasi ulang tanpa seizin penulis. Kalau mau di save boleh, asal semua keterangan diikutsertakan. Please leave your comment then let me know that my love message deliver into your heart. Gumawo.. happy reading ^^

Minhyuk POV

Dorm begitu sunyi, Yonghwa hyung mengurung diri di kamarnya, sibuk berkencan dengan seperangkat alat musik yang sering membuatku gila karena terlalu banyak tombol yang musti digunakan. Jungshin hyung sedang hangout dengan Sooyoung noona dan teman-teman SNSD nya. Jonghyun hyung, entah kemana orang itu, pasti dia asyik mengelilingi seoul dengan kameranya, bersembunyi dari keramaian dan menangkap momen-momen sederhana yang menjadi luar biasa melalui lensanya.

Aku? Aku terbaring di dorm kami yang kecil. Iya, di sini nyaman, tenang, damai. Tapi kalau sunyi begini aku juga bosan. Aku melirik layar televisi datar yang menempel menutupi dinding kami. Haruskah aku main game lagi? Ah, rasanya aku sedang tidak ingin berteman dengan benda mati. Come on Minhyuk ah! Kau drummer keren dengan seribu penggemar ingin berbincang denganmu, masa sih kau tidak bisa menemukan satu orang saja untuk membunuh waktu yang membosankan ini.

“Hai Minhyuk-ah! Kenapa kau masih berbaring di sini?”

Johwan hyung, manajer kami memasuki dorm dengan tangan di pinggangnya. Dia hyung yang baik, menejer yang cekatan, telaten, semua jadwa kami beres di tangannya. Tapi kalau dia sudah mendadak galak begini, horor juga rasanya.

“Aku bosan hyung, tak ada yang bisa kukerjakan.”

Johwan hyung menarik napas dalam, bersiap-siap menyemburkan kemarahannya. Pasti dia akan menyuruhku melatih drum lagi. Hallooo? Kurang mahir apa sih aku? Aku kan sudah membuktikan bisa tampil sempurna menjaga tempo 25 lagu enam jam nonstop menggebuk drum, itu prestasi luar biasa bukan?

“JANGAN BILANG KAU MELUPAKAN JADWAL PEMOTRETANMU JAM EMPAT SORE INI KANGMINHYUK! AKU SUDAH MEWANTI-WANTIMU SEJAK SEMINGGU YANG LALU!!!”

Aku bengong, serius? Pemotretan? Kapan?

Johwan hyung menggeleng geleng kesal dan melemparkan kunci mobil padaku,”Kau pergi sendiri sajalah, aku ada rapat dengan promotor di kantor sore ini.”

Kantor agensi kami memang bersebelahan dengan dorm.

Serius, aku tidak ingat sama sekali tentang pemotretan ini. Rasanya Johwan hyung memang menyebut-nyebut pemotretan sesekali, tapi rasanya itu bukan untukku saja. Bukankah kami selalu melakukan pemotretan bersama.

“Minhyuukkk aaahhhh! Apa lagi yang kau tunggu! Cepat pergi!”

Aku terkesiap dan otomatis beranjak, mengganti bajuku, dan melaju keluar, sebelum Johwan hyung mengeluarkan taringnya dan menghisap darahku sampai tetes terakhir.

~

Museum International Huwangso. Lama sekali tidak ke sini. Terakhir kali menginjakkan kaki di museum megah dengan bangunan Eropa yang pekat dan berisi ribuan benda sejarah Korea yang memiliki pertukaran kebudayaan dengan Eropa di masa lalu, ketika aku kelas 5 SD. Waktu aku masih anak laki-laki kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa, tapi tetep sih, dulu aku keren.

Beberapa kru majalah Glory mondar mandir di tengah ruangan, sibuk menyiapkan peralatan, beberapa lagi sudah siap di spot, dengan kamera dan berbagai benda yang sudah di tata cantik. Tema kali ini gold tampaknya, semua ornamen berwarna kuning keemasan.

Pandanganku tertuju pada pemotretan yang sedang berlangsung, rasanya aku tidak telat, ini kan baru setengah empat. Seorang model perempuan sedang berpose dengan anggun. Wajahnya tegas dan tanpa senyuman, angkuh dan elegan, tapi di matanya, terlihat kesedihan yang tidak dapat disembunyikan. Ooo, rupanya dia di minta memberikan ekspresi complicated seperti itu. Profesional sekali dia.

“Omooo… Ini dia si tampan yang sudah di tunggu dari tadi. Minhyuk-ah! Cepat ke ruang makeup sekarang!” Taejin hyung, make up artist yang sudah ku kenal baik memanggilku. CN Blue sudah beberapa kali menjadi model majalah ini. Saking seringnya, kami dan beberapa kru menjadi dekat dan sering pergi makan bersama.

“Kenapa kau baru datang?” Taejin hyung mengomel sementara dia memoleskan bedak setipis mungkin di wajahku.

“Jangan bilang macet!” Belum sempat menjawab, dia sudah mengoceh lagi.

“Kau tahu Minhyuk-ah. Kali ini aku sangat suka konsep pemotretannya. Kau tahu gold adalah warna favoritku. Sebenarnya aku lebih suka kalau Jonghyun yang menjadi model prianya, ketampanannya yang memikat itu akan cocok sekali dengan konsep ini. Tapi art konseptor bilang kau lebih cocok, kau memiliki karakter misterius yang nakal. Nakal huh? Itu benar sekali.”

Aku menaikkan sebelah alis, apa sih yang dibicarakan hyung satu ini?

“Tapi ya sudahlah, paling tidak model wanitanya, kau sudah lihat Choi Sulli, member Fx yang juga balerina itu, aku terkejut saat dia tampil tadi siang, dia seperti seorang dewi yang diturunkan langsung dari langit. Dia begitu perfect. Dan dia belum berhenti berpose sejak dua jam yang lalu, dan dia masih bisa mempertahankan ekspresi anggunnya itu. Coba saja dia tidak terlalu muda untukku, mungkin sudah kuajak berkencan. Sayang sekali.”

Choi Sulli? Euhmm… Aku pernah melihatnya beberapa kali. Ketika CN Blue dan Fx berada dalam satu program musik yang sama. Tapi aku tidak pernah memperhatikan. Dan, balerina? Benarkah dia balerina? Tubuh setinggi itu dan wajah sepolos itu bisa menjadi balerina?

“Kau merawat wajahmu dengan baik Minhyuk ah. Aku tidak perlu repot repot menyembunyikan bercak ini dan itu. Sudah. Haejin ah! Tata rambut Minhyuk sekarang, sebentar lagi dia harus sudah ready!”  Taejin hyung memanggil sepupunya yang juga bekerja di majalah ini, dia adalah hair stylist yang baru-baru ini memenangkan penghargaan sebagai hairstylist terbaik di Milan.

Haejin noona ini baik sekali, berbeda 180 derajat dengan oppa nya. Dia lebih suka tersenyum tanpa berbicara ketika menata rambutku, kadang dia menanyakan hal-hal sederhana yang tidak membuatku terjungkal seperti Taejin hyung yang terang-terangan mengatakan dia lebih suka Jonghyun hyung daripada aku. Atau Taejin hyung yang bilang aku adalah pria nakal.

“Hmmm… Sudah Minhyuk ah.” Haejin noona menatapku dengan leher dimiringkan, dan tersenyum puas. Aku menunduk dan mengucapkan terimakasih.

Aku berganti dengan kostum yang sudah di sediakan. Ketika berdiri di depan cermin, terlihat sosok pria jangkung dengan kemeja emas, dan jas hitam yang tidak di pakai namun menggantung di bahunya.  Sosok yang elegan. Sederhana simpel, namun berkelas. Baiklah aku siap bekerja!

Aku berjalan mendekat, Lee sunbaenim, fotografer kawakan yang hebat itu sedang memperbincangkan hasil pemotretannya dengan wanita tadi, di depan layar laptop. Wanita itu tampak serius mendengarkan komentar Lee sunbaenim dan mengangguk-angguk sekekali. Tidak lama kemudian Lee sunbaenim berbalik ke arahku. Tersenyum lebar dan hangat.

Pemotretan ini tidak sulit, sama seperti Sulli, aku hanya perlu memasang wajah angkuh dan mengangkat beberapa ornamen emas. Mudah, karena ekspresiku sendiri memang datar, struktur wajahku bukan struktur wajah tersenyum jika diam. Lebih ke dingin dan egois. Mungkin memang menggambarkan sifatku.

Setengah jam kemudian Lee sunbaenim sudah terlihat puas dengan hasil jepretannya. Aku mendekatinya untuk ikut melihat hasilnya di depan laptop.

“Minhyuk~ah, kau terlihat sangat nakal dan angkuh.” Lee sunbaenim tertawa dan menepuk-nepuk bahuku.

Aku tersenyum miris, sudah berapa orang yang mengatakan aku nakal hari ini?

“Baiklah, rasanya cukup dengan foto individual. Mari kita lanjutkan dengan couple set. Kau harus menunjukan keangkuhanmu yang sesungguhnya.” Lee subaenim mengangguk mantap ke arahku. Aku mengangguk sambil berpikir. Angkuh? Sesungguhnya? Entahlah, mungkin terlalu lama bekerja membuat Lee sunbaenim menjadi agak rancu.

Sosok itu keluar, Choi Sulli dengan rambut di sanggul dan gaun kuning yang mirip sekali dengan gaun pengantin, dia tersenyum dan tertawa mendengarkan seorang kru wanita yang membantunya menjaga buntut gaun yang lumayan panjang. Choi Sulli menatapku dan tersenyum. Menunduk dan menyapaku ramah.

Hilang sudah ekspresi sinis yang tadi kudapatkan di wajahnya, kali ini dia benar-benar loveable. Seperti boneka teddy bear lucu yang ingin kau bawa pulang.

Kami saling memperkenalkan diri. Dan satu jam kemudian kami sudah berpose layaknya sepasang kekasih, sepasang anggota kerajaan dengan wajah dingin dan angkuh. Aku menikmatinya, Sulli begitu profesional. Dia tahu bagaimana harus menempatkan diri dan kapan merubah posisi. Kami melakukannya dengan lancar, dan entah sejak kapan seluruh orang di dalam ruangan itu menonton di depan kami, ber-oh ria ketika kami berganti ekspresi.

Dan ketika Lee hyung mengatakan foto terakhir sudah selesai, semua orang bertepuk tangan dan tersenyum ceria, puas dengan hasil kerja mereka, dan foto yang didapatkan.

Aku menatap Sulli yang menarik nafas lega, dan tersenyum riang. Dia tidak tampak lelah sedikitpun. Dia terlihat gembira. Tidak lama kemudian dia sudah pergi ke ruang ganti, menyeret buntut gaun yang kutebak bisa mencapai berat dua kilogram itu.

~

Sulli POV

“Ne oenni, aku langsung ke sana.” Aku menutup telpon dan menyandarkan tubuhku ke kursi rias. Rasanya tubuhku sudah remuk, mataku berat, dan aku lelah. Namun keempat oenni ku yang cerewet itu sudah memintaku untuk ikut hangout bersama mereka. Di rumah Victoria oenni yang baru. Setelah menikah dengan Nickhun oppa, Victoria oenni jadi semkain giat menjadi ibu yang baik untuk kami. Segala kegiatan yang dia lakukan di dorm sekarang berpindah ke rumah mewah Victoria oenni. Entah kenapa Nickhun oppa tidak mengusir dengan segala kekacauan yang kami akibatkan. Mungkin karena member 2PM juga ikut mengacau kali ya, jadi impas.

Aku membayangkan sofa putih Victoria oenni yang lembut, siap untuk merangkul tubuh lelahku. Aku melompat bangkit dan berbalik, dan menemukan sosok jangkung itu di sana, tersenyum menatapku.

“Oh, Minhyuk ssi. Belum pulang?” Aku menyapanya ramah.

Dia menggeleng, senyumnya hilang.

“Wae?” tanyaku.

“Anniyo.” Jawabnya singkat.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Pamitku seraya membungkuk hormat.

Baru saja aku melangkah melewatinya, dia memanggilku,”Choi Sulli, boleh aku ikut?”

Aku tersentak, dan berbalik.

Kudapati matanya yang sipit itu menatapku dalam, berharap. Aku tersenyum dan mengangguk,”Tentu.”

“Kau bawa mobil?” tanyanya.

“Aniyo, aku naik taksi.”

“No, I’ll drive.” Dia melangkah pergi, dan sepucuk senyum kudapati mengembang di bibirnya.

~

“Omo omo omo!!! Sulli kecil kita pulang dengan membawa namja, namja yang tampan!” Taecyon oppa yang bersandar di dipan ruang keluarga Victoria oenni menyambutku dengan gurauan ketika aku dan Minhyuk masuk ke dalam.

Dipan itu ada di sisi ruang keluarga yang menyatu dengan dapur, tempat di mana Victoria oenni menghabiskan sebagian besar waktunya. Ruangan itu di batasi dinding kaca dengan kolam renang besar di belakang rumah.

Minhyuk melangkah santai ke arah Taecyon oppa dan mereka berhigh five ria, sementara aku menuang air putih di pantry. Victoria oenni yang mengenakan celemek ungunya tersenyum menetapaku.

“Ya…. Saengie oenni sudah tahu laki-laki rupanya.” Dia mencolek pipiku dengan adonan kue yang sedang di buatnya.

Aku tertawa kecil, terlalu lelah untuk melawan aksinya.

“Mana yang lain?”Tanyaku.

“Nickhun oppa mu sedang membeli lobak untuk kimchi, member 2PM yang lain baru saja pergi ke gym bersama oenni-oenni mu.”

“Mereka bilang hangout di sini, tau nya sudah di gym aja.”

Victoria oenni merengut,”Mereka tadi berkelahi, gara-gara Junsu dikalahkan Amber main panco, jadi mereka ke gym untuk membuktikan siapa yang lebih kuat berlatih.”

Aku mendengus mendengar kelakuan kedua grup fenomenal yang sudah menembus level internasional seperti mereka, masih mempermasalahkan hal-hal kecil. Tapi aku senang. Mereka bahagia melakukannya. Kebahagiaan mereka adalah keajaiban yang mengisi hari-hariku. Membuatku merasa sangat diberkati.

“Kalian sudah kenal lama? Kenapa tidak pernah bilang pada oenni?” Victoria oenni sudah memasukan adonan kuenya ke oven dan kini menatapku dalam.

“Baru kenal tadi oenni, dianya yang mau ikut ke sini. Entah buat apa.” Aku menatap Minhyuk yang sekarang sudah asyik memainkan gitar bersama Taecyon oppa, sepertinya mereka sudah saling mengenal lama.

Aku mengangkat bahu, dan bangkit,”Aku butuh istirahat oenni.”

Victoria oenni tertawa,”Bagaimana bisa kau bersikap seperti itu di depan pria tampan seperti Kang Minhyuk ha?”

Minhyuk yang merasa namanya di sebut berhenti memainkan gitarnya dan memandang kami.

“Kenapa aku harus menjaga sikapku di depan dia?” tanyaku.

Yang kuinginkan sekarang hanyalah istirahat yang pulas. Aku sudah tidak tidur sejak kemarin. Kemarin Fx latihan sampai jam empat pagi, kemudian aku harus wawancara majalah, syuting iklan, dan pemotretan bersama Minhyuk. Cukup membuat tenagaku terkuras habis. Dan sofa putih Victoria oenni ini adalah tempat paling sempurna untuk menampung tubuh rapuhku. Dan aku terlelap tidur.

~

Aku terbangun dengan wajah sembab, dan ruangan pink di sekelilingku jelas bukan tempat sofa aku tidur tadi. Aku duduk dan menunduk, apa yang terjadi? Kepalaku tidak pusing, aku merasa lebih baik, hanya saja seperti ada yang salah. Aku melihat ke jendela, hari sudah gelap. Aku turun dan mendapati Amber oenni, Luna oenni, Krystal, Victoria oenni dan Nickhun oppa menatap TV dengan wajah serius.

Mereka berbalik setelah mendengar suara kakiku menuruni tangga.

“Ya! Uri Sulli! Bagaimana bisa kau berpacaran tanpa memberitahuku!” teriak Krystal.

Aku mendelik, apa-apaan lagi ini.

Luna memukul Krystal pelan sementara Amber menatapku sambil tersenyum lebar,”Dia keren juga.” Ucapnya dengan cengirannya yang khas.

Aku mengernyit, rupanya oenni-oenniku yang kepo itu sedang menonton penampilan CN blue yang entah mereka dapat dari mana, di televisi layar datar ruang keluarga.

Aku menghembuskan nafas malas dan berjalan ke dapur, ketika pertanyaan itu muncul di benakku, aku berbalik.

“Oenni, kenapa aku bisa tidur di kamar atas, bukannya tadi aku tidur di sofa?”

Victoria oenni mengerucutkan bibirnya aegyo sebelum menjawab,”Oh, tadi kau tidur dengan tubuh terlipat di sofa,pasti tidak nyaman, jadi aku minta Minhyuk memindahkanmu ke kamar atas.”

Aku terdiam? Memindahkan?

“Pantes dia kuat mindahin kamu kaya lagi ngegendong bayi aja. Drummer toh, lengannya kuat sih.” Ucapan Amber oenni itu menjawab pertanyaanku, dan tiba-tiba wajahku memerah.

~

Sudah seminggu berlalu sejak Minhyuk datang ke rumah Victoria oenni, sejak dia datang kehidupku, sejak dia dengan lembut memindahkan tubuhku ke ranjang yang nyaman. Sudah seminggu aku merindukannya. Aku berusaha menyingkirkan perasaan itu. Tapi semakin aku berusaha menjauh, semakin aku menekan, semakin perasaan itu menyelimutiku dengan kehangatan. Rasa rindu, rasa ingin bertemu.

Akhirnya aku menghabiskan waktu luangku yang sangat sedikit itu dengan mencari banyak hal tentang Kang Minhyuk di internet. Aku lega, tampaknya dia tidak pernah punya skandal. Lega karena artinya dia artis yang sopan, lega karena artinya dia tidak memiliki hubungan dengan yeoja yang diketahui publik. Tapi, siapa tahu saja sekarang dia sudah punya pacar, yang dia sembunyikan dengan rapi.

Aku menghela nafas, ah, aku harus sia-siap, hari ini pemotretan pertama di pulau Jeju. Aku senang karena hari ini aku akan mengenakan banyak gaun pengantin. Iya, aku memang masih kecil. Tapi, bukankah anak kecil suka main pengantin-pengantinan. Mengenakan gaun yang indah. Dan perancang busanan yang satu ini adalah oenni favoritku. Nae Sooyoung oenni. Gaun rancangannya selalu indah dan memukau.

Aku beranjak dari ranjang, membuka gorden yang berat dengan perlahan, membiarkan matahari pagi Jeju yang ramah, menyapa hariku yang cerah.

~

“Ne oenni, aku sarapan, ini sedang makan.” Aku mengunyah roti dengan cepat sambil berusaha meyakinkan Victoria oenni bahwa aku hidup dengan layak walaupun jauh darinya. Oemma satu itu bahkan lebih cerewet daripada oemmaku.

“Iya, aku minum vitamin tadi malam, iya, akan kuminum lagi nanti malam. Ne oenni… Ne… Gumawo.. Bye.” Aku menutup telpon dan mendesah lega. Aku membawa secangkir teh hangat yang sudah disiapkan manajer oppa untukku. Dan sementara para kru menyiapkan setting untuk pemotretan, ada baiknya kalau aku berjalan di pinggir pantai, mencelupkan kakiku ke pasir putih dan air laut Jeju yang membiru jernih.

Jeju, pulau ini selalu menjadi pilihan nomor satu bagi masyarakat Korea. Jeju adalah kebanggan. Lambang cinta kami pada negeri ini. Satu dari sekian banyak aset yang kami jaga dan hargai. Aku memejamkan mata, mencoba menikmati semilir angin yang membelai lembut kulitku.

“Good morning, Godness.”

Aku terkejut, namun tidak berusaha lari. Perlahan aku membuka mataku, dan menoleh ke samping. Seorang pria jangkung dengan kemeja putih dan celana putih berdiri dengan senyum lebar, menatapku.

Jantungku hampir saja melompat dari rongganya,”Kang Minhyuk.” Orang yang mengisi pikiranku akhir-akhir ini. Keajaiban Jeju telah membawanya ke hadapanku.

“Minhyuk ssi”

Minhyuk tersenyum dan mengacak rambutku pelan,”Kau suka laut?”

Aku tersenyum, merasakan isi perutku melayang-layang, namja ini, kenapa dia membuatku gugup?

“Ne, aku suka menikmati apa saja yang bisa kunikmati.”

“Termasuk menjadi partner ku dalam pemotretan busana pengantin?”

Aku tersentak,”Mwo?”

Minhyuk tertawa lagi, kali ini matanya nyaris hilang, dan entah bagaimana itu membuatnya menjadi sangat adorable, seperti ingin dimiliki.

“Kau tidak tahu bahwa kau berpasangan denganku hari ini?” Tanyanya.

Aku menggeleng pelan, aku hanya mengangguk saat manajer oppa memintaku menandatangani kontrak ini, semua yang berkaitan dengan hal-hal lain diurusi manajer oppa. Tugasku hanya tanda tangan dan berpose.

“Pabo.” Ucapnya sambil menghela nafas,”padahal aku sudah menunggu hari ini tiba, kukira kau juga menunggu-nunggu sama antusiasnya denganku.”

Aku terpaku, dia menunggu hari ini? Menunggu untuk berpose denganku?

“Aku merindukanmu, Choi Sulli.” Ucapnya.

Sungguh, Jeju telah melakukan banyak hal pagi ini. Dia membuat pagi yang indah untukku, membawakanku seorang malaikat yang kurindukan, dan apa ini? Sebuah pengakuan rindu?

Aku tidak berkata-kata, tapi sepertinya rona merah di wajahku sudah menjawab semuanya.

“Sepertinya mereka sudah siap, ayo pengantinku, kita tidak boleh membuat usaha mereka sia-sia.” Minhyuk berjalan ke arah para kru yang sudah selesai menyiapkan setting, dan aku masih terpaku menatap punggung tegapnya yang berjalan menjauh.

Tuhan… Mimpi apa ini? Apa yang dia katakan? Dia memanggilku apa? Pengantinku…? Tuhan, jika ini benar mimpi. Jangan biarkan aku untuk terbangun.

~

“Yeoboooo!” Aku mengernyit mendengar suara itu. Aku mengenali suara itu. Itu suara pria yang akhir-akhir ini berada di playlist ipodku. Jung Yonghwa.

Minhyuk mengambil blazerku untuk menganggantungnya di dalam lemari di samping pintu. Ia hanya tersenyum saat melihat keningku mengernyit.

Aku melangkah masuk ke dalam paviliun itu, setelah pemotretan selesai, Minhyuk mengajakku ke sini. Dia bilang CN Blue akan tampil dalam sebuah konser malam ini, jadi mereka semua ada di sini. Di vila milik keluarga Yonghwa oppa.

Tapi kenapa yeobo? Apa diam-diam Yonghwa oppa punya istri simpanan?

“Aaaa… Sulli ya!” Mataku tidak bisa tidak melotot melihat siapa yang berada di balik kitchen set, mengenakan celemek pink, dan tersenyum dengan mata berbinar menatapku, Soo Joo Hyun oenni.

“Oenni!” Panggilku agak sedikit nyaring.

“Yeobo yaa… Tolong bantu aku…” Aku memalingkan wajahku, mendapati Yonghwa oppa yang juga mengenakan celemek biru di taman kecil dekat kolam renang, sedang sibuk memindahkan udang-udang dari dalam ember ke dalam teflon yang berada di atas panggangan. Namja gagah nan tampan rupawan itu takut udang?

“Minhyuk~a, tolong bantu hyungmu yang penakut itu, sup ini tidak bisa ditinggalkan,” Seohyun oenni menyuruh Minhyuk yang baru saja menyalakan TV, dan otomatis Minhyuk mendatangi Yonghwa oppa yang masih ribut berteriak-teriak karena udang-udang itu melompat penuh penderitaan. Atau mungkin mereka tertawa terbahak-bahak meilhat calon pemangsanya malah sedang ketakutan melihat mereka?

“Sulli, kenapa kau bisa ada di Jeju?”

Aku mendatangi Seohyun oenni dan duduk di depan pantry, sambil mengamatinya,”Harusnya aku yang bertanya, kenapa oenni ada di sini? Bukankah seharusnya SNSD sedang ada di Thailand?”

Seohyun oenni tersenyum,”Jadwal kami sudah selesai kemarin, aku pulang duluan karena Yonghwa sudah merengek-rengek ingin bertemu denganku.”

Aku mengernyit,”Bukankah episode WGM kalian sudah habis sejak bertahun-tahun yang lalu?”

Seohyun oenni menggeleng pelan,”Kau ini Sulli, terlalu sibuk dengan dunia modeling dan baletmu itu sih, semua orang diperusahaan juga tahu kalau aku dan Yonghwa berpacaran setelah kami bercerai di wgm.”

Aku mengernyit mendengarkan penjelasan rumit itu, pacaran setelah bercerai?

“Memangnya kaupikir kenapa aku tetap mengenakan cincin ini kalau Yong tidak membuat ikatan hubungan denganku?”

Aku terhenyak menatap jari manis tangan kiri Seohyun oenni yang masih mengenakan cincin perak WGMnya.

“Oenni.. Apa kau tidak takut fansmu..?”

Seohyun oenni tertawa,”Kau tidak percaya dengan fans? Mereka sudah dewasa sayang, mereka sudah mengerti bahwa idolanya pun berhak memiliki hidup pribadi masing-masing. Berhak merasakan apa yang manusia rasakan. Kebutuhan-kebutuhan dasar seperti cinta. Seperti yang kau dan Minhyuk rasakan misalnya.”

“Mwo?” Aku melebarkan mataku,”Oenni… Bukan begitu.”

Seohyun oenni tersenyum menggoda,”Jangan bilang kalian tidak saling memiliki perasaan. Minhyuk itu orang tertutup, dia introvert sekali, image lovely yang dimilikinya itu sebenarnya sangat jauh dengan sifat dasarnya yang dingin dan dewasa. Dia tidak pernah sekalipun membawa seorang yeoja ke keluarganya seperti ini, jika itu terjadi maka artinya dia sudah merasa nyaman dengan yeoja itu. Dia merasa kau layak untuk dijadikan bagian dari keluarga.”

Aku menatap mata Seohyun oenni yang berbinar, tampaknya dia sangat bahagia. Oenni ku ini memang terkenal dengan kelembutan hatinya. Dulu, kami kawatir dia tidak pernah bisa mengenal cinta karena hidupnya terlalu tertutup. Namun setelah Sooman ahjussi memintanya ikut wgm, dimana dia mengenal Yonghwa oppa. Dia berubah menjadi seorang dewi yang penuh cinta. Kupikir Sooman ahjussi sengaja memilihnya karena dia kawatir Seohyun oenni tidak akan pernah menjadi dewasa dalam berhubungan. Namun aku juga tidak menyangka guguma couple itu menjadi nyata. Kemana saja aku selama ini?

“Sulli, ayo ikut denganku,” Minhyuk tiba-tiba sudah menggenggam tanganku dan menarikku dari kursi.

“Pinjam sebentar ya Noona.” Ucapnya pada Seohyun yang tersenyum riang melihat kami.

“Ne… Kalau makanan siap kalian akan kupanggil.”

“Siap!” Ucapnya tanpa melepaskan genggaman tangannya di tanganku.

~

Minhyuk POV

Aku membawanya ke studio kami. Studio ini di rancang dengan detil oleh Yonghwa oppa. Keluarganya telah memberikan vila ini untuk kami tempati. Dan Yonghwa hyung mengubahnya menjadi tempat yang nyaman untuk kami tinggali jika kami ingin berlibur atau ada job di pulau Jeju.

Choi Sulli. Yeoja ini. Aku baru mengenalnya seminggu ini, bertemu dengannya dua kali karena pekerjaan, dan tidak saling menghubungi diantara waktu-waktu kosong. Tapi, selalu ada namanya dalam setiap hembusan nafasku. Dan dalam setiap tarikan nafas, aku semakin membutuhkannya.

Wanita ini kurus, tinggi dan sederhana, wajahnya polos dan sikapnya santun. Tidak ada yang menarik dari dirinya. Seperti wanita cantik kebanyakan, dia akan membosankan jika dipandang terlalu lama. Tapi untuk choi Sulli, aku ingin terus bisa memandangnya. Ingin bisa terus bersamanya.

Yeoja itu duduk manis di samping jendela besar, memandangku yang duduk di balik drumku, aku mengangkat tongkatku dan mulai menggebuk drum.

“Kenapa Minhyuk~ssi?” Bisiknya.

Aku terdiam, tentu dia bertanya-tanya. Mengapa aku membawanya ke sini, kenapa aku berada di sini bersamanya.

Tapi aku pun tidak punya jawaban. Ini refleks. Karena memang seharusnya begini.

Aku menggebuk drum, mengikuti melodi yang tercipta dengan sendirinya, dia menatapku, sabar, menunggu, menikmati. Perlahan dia berjalan menghampiriku yang masih duduk.

Aku memegang tangan kanannya, dan tangan kirinya mengangkat daguku, memintaku menatapnya.

“Aku tidak tahu begini rasanya bertemu orang yang begitu kau rindukan, gumawo…” Bisiknya.

Aku bangkit, dan mencium keningnya. Sederhana. Hanya ada kami, desiran ombak di belakang villa, Yonghwa oppa yang sibuk dengan udang-udangnya, Seohyun oenni yang menertawakan namjanya, aku, Sulli, dan cinta diantara kita berdua. Semua tahu, pada akhirnya, cinta yang kau perjuangkan, adalah cinta yang memang layak kau dapatkan.

~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s