The Great Escape part 3

Standard

FF ini pernah saya kirim ke smtownfanfiction.wordpress.com dengan menggunakan nama penulis saya yang dulu yaitu ‘ameonyq’ dan di posting pada tanggal 30 Juli 2011

the-great-escape-part32

 

Author:            Ameony

 

Main Cast:       Seo Joo Hyun

 

                        Cho Kyuhyun

 

                        Jung Yonghwa

 

                        Victoria Song

 

Other Cast:      Im Yoona

 

                        Lee Donghae

 

                        Eunhyuk

 

Cho Sulli

 

Kim Jaejong

 

Krystal Jung

 

Genre:             Romance, Friendship, And Family

 

Ide cerita ini original diilhamkan Tuhan pada author, jadi jangan copy paste atau menjiplaknya tanpa seijin author dan  admin ya…

 

 

 

Annyong chingu ya.. mianhae ameony lama postingnya. Setelah berbagai macam tes menyerbu sebulan ini, akhirnya ameony bisa kembali menulis. Kalau Chingu udah lupa ceritanya bisa baca lagi part sebelumnya.#mianhaeT_T#

 

Kali ini ameony sudah melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu, tapi tidak begitu dengan Seohyun. Saya tahu para wires bakalan pengen ngebunuh author kalau cuma baca sampai tengah part, kalian harus membacanya sampai habis sebelum menyimpulkan. *beritahu aku apa yang kau pikirkan setelah membacanya sampai habis, apa masih mau membunuhku? ^^* Rencananya FF ini akan berakhir di part 4.

 

Ameony berterimakasih pada chingu yang sudah membaca dan berkomentar di part sebelumnya. Juga pada  admin oennie yang sudah mau publish FF  ini.#peluuk

 

Kali ini segala jenis ke-mellow-an sudah diminimalisir. Ameony berusaha optimis dengan kisah cinta dan masa depan mereka. Mohon dukungannya ya chingu supaya endingnya bisa lebih bagus dari part ini. Semakin panjang komentarnya, semakin bagus. Gumawo chingu~ya… selamat menikmati. J

 

Author POV

 

Rasa sakit itu seperti koleksi sepatu di lemari kacamu, haknya yang runcing menancap di hatiku yang lembek dan berdebu.

 

#Before First Rain#

 

Yoona berlari riang menuju sebuah rumah kecil di sudut pasar, rambutnya yang dikepang dua juga melompat-lompat riang mengikuti goyangan tubuhnya.

 

“Seohyuuuuunnnn…” suara cempreng kecilnya menggema menembus udara sore di musim semi yang segar,”maiiinnn yuuukkk…”

 

Seorang gadis kecil mengintip dari jendela rumahnya yang kusam. Sosok riang sahabatnya berganti dengan wajah penuh amarah milik appa,”Jangan bermain di luar rumah! Diamlah di dalam!” appa tidak pernah memberikan alasan kenapa Seohyun tidak boleh bermain di luar, tapi itu adalah harga mati. Aturan appa adalah napasnya. Jika ia melanggar, napasnya akan berhenti. Tatapan tajam appa cukup membunuh semua kebahagiaannya. Lebih baik begini. Dalam status quo.

 

“Seooohyuuuuunnnn!!!” teriakan itu kembali menggema dari mulut kecil seorang Im Yoona. Seohyun duduk di bawah jendela, memeluk lututnya, terisak. Menangisi kesempatan yang tidak bisa didapatkannya.

 

~

 

#Before second rain#

 

Kyuhyun menatap Donghae dengan wajah Limited editionnya, kali ini versi memohon, dengan puppy eyes yang hanya timbul sekali dalam sepuluh tahun. Donghae menghela napas. Kali ini dia kalah lagi. Permintaan Kyuhyun adalah hal yang tidak bisa di abaikannya, walaupun dia sudah berusaha. Donghae menyerah kalah. Dia bangkit dan berjalan menghampiri Yoona yang sibuk bercanda dengan teman-temannya. Bercanda? Jangan harap Seohyun ada di sana. Seohyun bukan orang yang bisa bercanda. Donghae juga tidak mengerti kenapa gadis secantik Seohyun sama sekali tidak mempunyai selera humor. Donghae akan segera sadar kalau ia ingat bagaimana appa Seohyun pernah mengusirnya dari rumah mereka hanya karena Donghae disuruh ibu BP menjemput Seohyun dirumahnya. Wajah itulah yang diturunkan appa Seohyun pada anaknya.

 

Donghae menarik tangan Yoona seenaknya, membuat gadis itu protes akan sikap Donghae yang sedikit kasar,”Apa yang kaulakukan Hae?” seru Yoona dengan suaranya yang masih cempreng.

 

“Tolong bantu aku.” Ucap Donghae, matanya menatap tajam wanita di depannya. Sungguh Donghae tidak ingin memperlakukan Yoona seperti itu, tapi akan sulit membawa Yoona pergi dari segerombolan wanita yang selalu mempertanyakan hal-hal sepele.

 

“Mana ada orang minta tolong dengan cara begini?” seru Yoona marah.

 

“Ada! Aku!” seru Donghae seenaknya.

 

Yoona menghentakkan kakinya dan berbalik, tapi Donghae menahannya, dan memojokkannya ke dinding, mereka berada di bangunan paling ujung sekolah. Sepi. Yoona tahu walaupun Donghae bukan tipe cowo kurang ajar, bisa saja setan merasukinya. Jadi Yoona berusaha tidak memancing kemarahan pria itu.

 

“Tolong bawa Seohyun dalam study tour ke Busan besok.”

 

Yoona membulatkan matanya, mulutnya juga membentuk huruf O, Donghae ingin tertawa melihat ekspresi lucu Yoona, tapi dia tahu ini bukan saatnya untuk menertawakan wanita itu, atau dia tidak bisa mendapatkan keinginannya.

 

“Hae! Bilang ya sama Kyuhyun, jangan berharap Seohyun bisa datang ke acara seperti itu. Apalagi kalau dia sendiri, Mr. Cho Kyuhyun juga terlibat dalam acara itu. Seohyun tidak akan mendapatkan izin dari appa nya.”

 

“Aku tahu, makanya aku minta bantuanmu,”

 

“Apa yang bisa kulakukan hah?” tanya Yoona pada Donghae,”Melarikan Seohyun? Menyelundupkannya? Kau pikir aku petugas bea cukai apa?”

 

“Kau terlalu bodoh untuk bisa jadi petugas bea cukai Im Yoona, tapi kurasa kau cukup cerdik untuk bisa menyelundupkan Seohyun ke study tour besok.”

 

Ingin rasanya Yoona memukul pria itu dengan tumit sepatunya, tapi Yoona tahu dia yang terpojok sekarang. Donghae bisa melakukan apa saja padanya di tempat sepi seperti ini. Yoona tidak ingin mengambil resiko itu, jadi dia menghela napas dan berkata,”Akan kucoba.”

 

Donghae tersenyum. Senyum yang sangaaaaaat tipis. Dia juga berbisik,”Gumawo, Yoona~ssi” entah kenapa Yoona merasa Donghae tidak terlalu buruk untuk seorang pria yang bertitel kepala geng berandal di sekolahnya.

 

~

 

Seohyun tidak pernah bisa datang ke acara study tour itu. Usaha Yoona untuk menyelundupkan Seohyun gagal. Mereka tertangkap basah oleh appa Seohyun pukul 04.00 subuh di kebun belakang rumah mungil Seohyun. Seohyun dihukum. Sangat menggelikan jika hukumannya tidak keluar rumah selama seminggu, karena Seohyun memang tidak pernah keluar rumah selama lima belas tahun kehidupannya, kecuali untuk sekolah atau keperluan sangat penting lainnya. Seohyun anak pingitan.

 

Hukuman bagi Seohyun mungkin tidak berarti apa-apa bagi Yoona. Tapi bagi Seohyun itu adalah hukuman yang paling berat untuknya. Appa dan eomma tidak menghiraukannya selama setengah bulan, tidak menyahut ketika dia memanggil, tidak melayaninya berbicara, menganggap Seohyun tidak ada.

 

Tapi sekali saja Seohyun berani keluar rumah untuk memberontak maka Seohyun diancam tidak akan pernah bisa kembali kerumah itu. Yoona tahu, dia tidak bisa lagi membantu Donghae. Kyuhyun tahu Yoona sudah berusaha. Tapi Kyuhyun tidak tahu penderitaan perasaan yang dirasakan Seohyun. Kyuhyun akan terus berusaha, sampai dia bisa mendapatkan Seohyun. Dan Seohyun semakin tenggelam dalam perang antara keinginan hebatnya untuk bersosialisasi dan keinginan orang tuanya agar dia selalu sesuci melati yang baru merekah di musim semi.

 

~

 

#First Summer# POV Kyuhyun

 

London

 

 Ada ribuan jalan yang disediakan Tuhan untukku. Tapi aku memilih jalan ini untuk kutempuh. Jalan yang memisahkanku dengan satu-satunya wanita yang kucintai. Dewiku. Hidupku. Di kota ini, aku belajar untuk bernafas lagi. Memulai segalanya dari awal. Sulit. Apalagi dengan seorang kakak yang hampir gila dan seorang adik yang terlalu banyak kehilangan kasih sayang. Di London nan  eksotik ini, aku tidak hanya memperjuangkan hidupku. Aku juga memperjuangkan kehidupan dua bintangku, Jaejong dan Sulli. Dan bintangku yang satunya, kusimpan dia dalam suatu tempat dihatiku. Rapat. Berharap suatu saat nanti aku masih bisa menemukan kunci untuk membukanya.

 

~

 

Author POV

 

Kalian pasti tahu bagaimana akhir perjuangan Kyuhyun. Sang pangeran evil gagal mendapatkan goddess. Tapi bukan berarti Kyuhyun gagal mendapatkan cintanya. Kyuhyun telah berhasil merebut hati gadis itu sejak pertama kali Kyuhyun menatapnya. Saat Kyuhyun juga jatuh cinta pada gadis pendiam itu.

 

Kyuhyun pergi ke London, dan Seohyun yang terluka terkapar di kota kecil mereka.

 

~

 

7 Years Leter

 

#Second Summer#

 

Street Cafe London

 

Eunhyuk memandang layar laptopnya hampa. Dua detik lalu Donghae menghilang dari sana, setelah melaporkan setumpuk surat permintaan yang dilayangkan ke perusahaan mereka. Eunhyuk mencengkram kepalanya kuat. Dia pusing. Bisnis otomotif yang dibangunnya dengan Donghae memang berkembang pesat. Akibatnya dia dan Donghae kewalahan mengurus permintaan konsumen yang membludak. Mereka membutuhkan SDM2 terampil dan piawai membantu mereka. Selama ini Donghae dan Eunhyuk membagi tugas mereka. Secara tidak adil. Donghae mengurus permintaan di kawasan asia dan Australia, sedangkan Eunhyuk mengurusi kawasan Eropa, Amerika, dan Afrika. Eunhyuk tahu itu tidak adil, tapi dia tidak pernah keberatan atas pembagian itu, karena Eunhyuk tahu Donghae punya tanggung jawab atas Yoona dan Yoogeun. Sedangkan dirinya yang single bebas pergi kemanapun dia mau. Tiba-tiba Eunhyuk merindukan sahabat-sahabatnya dulu, Leeteuk, Ryeewook, Yesung, dan Kyuhyun.

 

Kyuhyun? Benarkah dia merindukan pria itu? Pria yang telah menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mencintainya? Eunhyuk tahu, satu-satunya alasan dia ingin bertemu Kyuhyun adalah untuk membunuhnya atas apa yang telah terjadi pada Seohyun.

 

~

 

#Third Summer# Seohyun POV

 

Rumah Seohyun, Seoul.

 

Kelam dan dingin, hari ini udara begitu pekat. Menggantung di paru-paruku yang semakin hari semakin sulit bertugas. Aku menghembuskan udara musim dingin perlahan. Mengatur lagi kesadaranku yang goyah. Seseorang mengetuk pintu, dan kudapati sosok pria itu di sana. Dengan mantel kerja cokelat hangat dan syal membungkus indah lehernya.

 

Pria itu tersenyum padaku, senyum paginya, menyibak semua kegelisahanku akan kabut musim dingin, menyibaknya, seperti keanehan yang kerap kali kutemui, dia anugerah. Matahari musim dinginku. Jung Yonghwa. Dia melamarku baru-baru ini. Aku akan menceritakan padamu bagaimana dia melakukannya. Hmmm… sebaiknya aku menceritakan dulu bagaimana aku mengenalnya.

 

Kalian mengenalku sebagai gadis gila. Itu yang akan kalian katakan jika bertemu denganku tujuh tahun lalu. Aku mati, kepribadianku hitam dan kelam. Aku tidak pernah tersenyum. Semua ini karena ulahku sendiri. Ulahku yang mencintai seorang pria terlalu dalam, sehingga ketika pria itu mencampakkanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

 

Pria itu bernama Cho Kyuhyun. Aku sakit, fisik dan jiwa karena kepergiannya. Aku tahu aku sangat merepotkan sahabat-sahabatku sejak Kyuhyun pergi. Mereka, Donghae, Yoona, Teukie, Hyukie, Wookie, dan Yesung tidak pernah marah karena perubahanku. Mereka tahu aku melakukannya karena Kyuhyun. Tapi mereka salah.

 

Aku berubah bukan karena pria itu. Tapi karena cintaku pada pria itu. Kewarasanku tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dia mencampakkanku. Aku menghabiskan malam-malam panjang untuk menangisi kepergiannya, sejuta hal yang tidak pernah kulakukan bersamanya-tapi sangat ingin kulakukan-, dan hari-hari yang harus kulalui tanpa dirinya. Semua hal itu menerobos masuk dalam diriku, merampas kewarasanku.

 

Aku takut, aku sulit bernapas, dan jantungku tidak bekerja dengan baik saat aku mengingatnya. Padahal segala hal yang ada di sekelilingku mengingatkanku pada pria yang selama dua tahun penuh mengejarku kemudian mencampakkanku tepat saat aku melepaskan segenap harga diriku. Lalu aku beradaptasi dengan situasi itu, aku menutup diri pada dunia, berusaha sesedikit mungkin berhubungan dengan dunia. Memblok semua hal yang bisa mengingatkanku tentang keberadaannya, lebih tepatnya, kenyataan bahwa dia pernah ada di sini. Kupusatkan pikiranku pada pelajaran. Tidak terlalu berhasil memang. Tapi toh aku berhasil mempertahankan alasanku untuk hidup.

 

Keenam sahabatku yang penyabar itulah alasan terbesarku untuk tidak menggantung diriku sendiri dengan kabel telepon atau mengiris nadiku dengan silet. Mereka menghabiskan waktunya untuk berada di sisiku. Bergantian. Memastikan aku tidak melakukan perbuatan yang bisa mencelakakan diriku sendiri. Aku curiga mereka punya jadwal yang terorganisir dengan baik. Aku mencoba mengusir mereka pada awalnya. Bagaimanapun mereka adalah elemen yang menghubungkanku dengan segala ingatan tentang Kyuhyun. Tapi mereka menolak dan bersikeras berada di sampingku. Aku menyerah dan membiarkan mereka. Akhirnya kusadari bahwa mereka adalah sayap-sayap hangat malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk melindungiku dari rasa sakit itu. Memang tidak bekerja sempurna menutupinya, apalagi menyembuhkan rasa sakitku, tapi mereka membantu. Kenyataan bahwa mereka ada untukku membuatku merasa lebih baik. Lebih sanggup bertahan.

 

Mukjizatlah yang membuat kami bertujuh dapat melanjutkan kuliah di kota yang sama, Seoul. Tuhan berkeras membuatku bertahan hidup. Aku kuliah di Fakultas Kedokteran, dan bekerja sambilan di sebuah streetcafe. Disitulah pertama kali aku bertemu Jung Yonghwa. Dua bulan setelah kepindahanku ke Seoul.

 

Siang terik, matahari bersinar cerah, tapi udara tetap sejuk, di sepanjang jalan tempat cafe itu berada berdiri pohon-pohon besar yang melindungi orang-orang dari panasnya matahari. Aku, Eunhyuk, dan Yoona sibuk menghidangkan makanan pada orang-orang yang datang, sedangkan Ryeeweok sibuk bergulat mengolah makanan di dapur. Donghae dan Teukie oppa sedang kuliah. Mereka dapat shift malam di cafe ini.

 

Suara gitar yang lembut mengundangku untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Itulah pertama kalinya aku melihat Yonghwa. Kali itu juga dia menatapku. Tepat dimataku. Dari seberang jalan. Dia bersama 3 orang temannya bermain musik di seberang cafeku, di bawah pohon besar yang rindang.

 

Orang-orang berhenti untuk melihat mereka, mengerumuni mereka, orang-orang di cafe mengalihkan pandangannya pada empat pria dengan seperangkat peralatan band yang sederhana di seberang jalan itu. Mereka tidak terlihat lagi karena kerumunan itu. Tapi aku tetap berdiri di sana. Memandang ke arah kerumunan itu. Merasakan suara Yonghwa merasuki setiap sel dari diriku, seperti menyusuri pembuluh darahku, tidak meraih jantungku, tapi membuatnya berdegup tenang. Mengimbangi irama gitar yang dipetiknya. Sarangbit, Love light. Itu lagu yang dinyanyikannya di siang panas nan terik itu. Di situlah aku menemukan lightku, cahayaku, hanya lilin kecil, tapi lembut, indah, dan memesona -tidak memabukkan, tidak juga menyembuhkan lukaku- tapi cukup untuk membuatku terbangun dari tidur panjangku. Dengan cahayanya, Yonghwa membantuku bangkit untuk kembali berani membuka mataku dan melihat dunia, sekaligus mengajariku untuk tersenyum.

 

Aku baru berani kembali ke kota kecilku setahun kemudian. Tepat di hari ulang tahunku. Aku membawa serta Yonghwa, menelan semua kemungkinan terburuk-appa mungkin saja membunuhnya- karena Yonghwa bermarga Jung, dan menurut pemikiran appa yang amat sangat tradisional, dia percaya siapa pun yang bermarga Jung adalah para aristokrat yang terlalu kaya sehingga pantas untuk di benci. Tapi kenyataannya berbeda, semua ketakutanku tak terbukti, appa menyambutnya dengan senyuman, walaupun dia tahu Yonghwa adalah pria dari keluarga berada, dia menerima Yonghwa dengan kasih sayang yang hangat, membuatku terpana.

 

Tapi bagiku, makna keberadaan Yonghwa bukan itu, bukan untuk merebut hati appa. Bagiku, Yonghwa adalah peganganku ketika aku goyah. Aku tidak dapat menutupi semua kesedihan dan kekecewaan yang kuhadapi ketika melihat semua kenangan tentang Kyuhyun menyerbu hebat hanya dengan berada di tempat di mana dia pernah berada dulu. Dimana dia memperjuangkan cinta terlarangnya untukku. Aku menangis, mendekap erat dadaku yang sesak. Pelukan Yonghwa lah yang membuatku bertahan menghadapi kenyataan. Dia membiarkanku menangis. Menangis hingga aku lelah. Kemudian dia menuntunku untuk menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa Kyuhyun telah pergi, meninggalkanku.

 

Setahun kemudian aku kembali ke kota itu, masih bersama Yonghwa. Perlahan, aku mulai bisa menata emosiku. Aku bisa melewati SMA ku tanpa air mata, tapi masih sulit bagiku untuk tersenyum. Semua kenangan bahagia di SMA itu tertutupi oleh kepedihanku akan kepergian Kyuhyun.

 

Ditahun ketiga Yonghwa menuntunku ke sekolah itu. Sekali lagi, dengan sabar dia menghadapiku yang rapuh, aku masih rapuh.

 

Di tahun ke empat, aku kembali ke sana, dan Yonghwa berhasil membantuku berdiri tegak menghadapi kenangan-kenangan itu, bahkan aku bisa bermain basket di lapangan sekolah itu, tentu dengan pertandingan tak imbang bersama Donghae dan Yoona.

 

Di tahun kelima rasa sakit itu masih ada, kota itu masih pekat oleh kenangan. Tapi aku tak takut lagi. Yonghwa membeli sepetak lahan kebun sweet potato.

 

Ditahun keenam, luas lahan kami bertambah sepuluh kali lipat. Aku benar-benar excited memanen guguma dan mengadakan pesta kebun bersama keluarga dan sahabat-sahabatku.

 

Di tahun ketujuh, tepat dua hari yang lalu, Yonghwa melamarku di sana, di tengah lahan guguma yang dipenuhi salju putih. Di bawah kerlip lampu hias yang mengedip iri padaku. Yonghwa seperti sejuta kalinya, menghormati keputusanku untuk memikirkannya dulu, dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Begitulah Yonghwa padaku, menungguku, menghargaiku.

 

“Pagi Hyun…” sapanya lembut.

 

“Pagi.” Jawabku, senyumnya membuatku kembali kuat. Aku tidak mengelak dengan kenyataan bahwa setiap malam, dalam kesepian yang menyelimutiku, bayangan Kyuhyun masih jelas berlari-lari di mataku, kadang dalam tampilan yang jelas, kadang kabur, tapi semua itu menyakitiku, membuatku rapuh. Ya! Bahkan setelah tujuh tahun, aku masih belum bisa melupakannya. Dan setiap hari selama tujuh tahun itu, senyum Yonghwa lah yang bisa menutupi kepedihanku, meredamnya hingga malam dan kesunyian kembali menyeret-nyeretku dalam kenangan akan Kyuhyun.

 

“Berapa operasi hari ini?” tanya Yonghwa sambil meraih tasku, sementara aku mengunci pintu rumahku.

 

“Dua. Satu operasi empat jam di mulai pukul 08.00 hingga pukul 12.00, dan pukul 13.00 aku terbang ke Jepang untuk operasi kedua yang diperkirakan memakan waktu enam jam.” Jelasku panjang lebar.

 

Yonghwa berdiri tegap, menatapku masih dengan senyumnya,”Berjuang Bu Dokter.” Ucapnya.

 

Aku mengangguk,”Pasti!” jawabku.

 

Yonghwa mengantarku kerumah sakit, sebelum berangkat ke kantornya. Dia menahanku sejenak sebelum aku turun dari mobilnya.

 

“Hyun, sesulit apapun harimu, pastikan bahwa kau yakin aku selalu ada untukmu.” Ucapnya lembut. Dia menatapku, dalam. Bukan dengan tatapan gombal, hubungan kami lebih dari sekedar cinta monyet dengan bumbu-bumbu kegombalan. Hubungan ini adalah penguatan, lebih kepada dia yang memberiku kekuatan.

 

“Aku akan mengingatnya Yong~” janjiku.

 

Yonghwa mengangguk dan membiarkanku pergi. Bergulat dengan malaikat maut hari ini, lagi, untuk yang keseribu kali.

 

~

 

# Fourth Summer# *Kyuhyun POV*

 

London Street

 

Langit London tidak pernah secerah ini, aku melangkahkan kaki dengan ringan, menyambut Victoria Noona yang berdiri anggun di depan cafe di pusat kota. Vic Noona menatapku dengan matanya yang bulat cerah, bagian tubuhnya yang paling kusuka.

 

“Ini akan jadi hari yang melelahkan.” Ucapnya tepat ketika aku sampai di hadapannya.

 

“juga menyenangkan.”timpalku yakin.

 

Victoria nuna terkekeh melihat emosi kuat yang meluap-luap membentuk semacam selubung gejolak, seperti nebula2 matahari yang meletup2 hebat disekitarku,”Kau bersemangat sekali Kyu.” Ucap Vic nuna dengan senyum agak manyun khasnya yang aegyo.

 

“Pasti! Inikan hari penting! Sejarah dalam hidupmu, hidupku juga.” Kyuhyun mengangguk yakin,”Ayo Nuna! Kita jelajahi semua toko yang menyediakan perlengkapan pernikahan di penjuru London! Kita selesaikan semuanya hari ini, aku sudah tidak sabar!”

 

Aku meraih lengan Victoria nuna dan melangkah cepat. Menyambut hari yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku, hari ketika aku menyambut masa depanku, sekaligus harus berhadapan lagi dengan masa laluku.

 

~

 

Author POV

 

Wedding Shop London Street

 

Victoria melangkah pelan, kedua tangannya mengangkat sisi gaunnya agar tidak terinjak. Dia sendiri penasaran dengan tampilannya kali ini, namun dia segera tahu bagaimana hasilnya, karena Kyuhyun telah memberikan jawabannya. Tanpa kata. Kyuhyun menatap Victoria lekat, tidak berkedip, seulas senyum kekaguman merekah di wajahnya, matanya berbinar, efek gaun ini jauh melebihi delapan gaun lain yang telah Victoria coba sebelumnya.

 

“Kenapa kau diam saja? Apa komentarmu Kyuhyun~a?” tanya Victoria setengah merajuk. Jengah juga dia dipandangi seperti itu.

 

Kyuhyun melangkah mendekati Victoria, sebuah senyum evil menghapus senyum kekaguman yang beberapa detik lalu menghiasi wajahnya, semakin membuatnya berhak menyandang predikat namja paling memesona, “Perfect.” Bisik Kyuhyun di telinga Victoria.

 

Wajah putih Victoria bersemu merah, merona. Entah mengapa Kyuhyun merasakan hatinya sedang merayakan hal itu dengan letupan kebahagiaan yang dinikmatinya. Victoria bahagia. Saat ini. Bersamanya. Itu yang paling penting.

 

~

 

Seseorang melihat pemandangan itu dari dinding etalase kaca toko di yang memisahkan jalan dengan toko di depannya. Baru saja dia merasakan gejolak untuk membunuh namja itu, dan sekarang gejolak itu semakin menyembur dahsyat dari dalam dirinya. Ingin rasanya ia memecahkan kaca itu dan menerjang namja yang sedang berbisik mesra dengan yeoja cantik di depannya. Tapi dia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Hasrat sekejap. Eunhyuk menggenggam jemarinya kuat, mencoba menahan emosinya. Tepat ketika dia ingin meninggalkan tempat itu, namja yang dilihatnya tadi berbalik, mata mereka bertemu. Namja itu mengenalinya. Tapi dia tidak tersenyum padanya. Senyum tidak ikut serta dalam gejolak dendam dan pengkhianatan.

 

~

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya, keluar dari toko yang menjual gaun pengantin, salah satu toko terbaik di kota London. Eunhyuk menatapnya tanpa ekspresi. Kyuhyun menghampirinya, dan tepat ketika Kyuhyun berhenti di depan Eunhyuk, sebuah senyum hangat mengembang di wajah sahabat lamanya itu.

 

“Kau semakin tampan Kyu.” Masih dengan gaya nyengir Eunhyuk yang dulu. Kyuhyun mendesah lega. Sahabatnya masih mengenali ketampanannya. #huuueeek

 

“Begitulah…” jawab Kyuhyun ringan, senyum evil mengembang di wajahnya.

 

“Kau juga terlihat sangat bahagia.” Lanjut Eunhyuk., matanya beralih dari Kyuhyun ke sosok wanita cantik bergaun pengantin yang sibuk berdiskusi dengan pegawai toko di dalam sana.

 

Kyuhyun mengangguk,”Ya. Aku bahagia hyung.”

 

Eunhyuk tahu, dia tidak bisa membunuh Kyuhyun, ataupun hatinya. Karena Kyuhyun pun telah memilih untuk mempertahankan hidupnya. Melihat bagaimana Kyuhyun sekarang, Eunhyuk tahu Kyuhyun lebih berhasil mempertahankan hidupnya daripada Seohyun yang hidup dengan tersaruk-saruk dalam kesedihannya.

 

~

 

“Bagaimana kabar Seohyun?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kyuhyun.

 

“Bagaimana aku harus menjawabnya.” Ucap Eunhyuk pelan. Bayangan Seohyun yang sering terbangun di tengah malam dengan keringat deras mengucur dan wajahnya yang ketakutan membayangi Eunhyuk.

 

“Dia baik-baik saja kan hyung?” tanya Kyuhyun lagi, khawatir.

 

“Kurasa, itu tidak bisa di sebut baik-baik saja.” Jawaban itu membuat jantung Kyuhyun berpacu lebih cepat. Ada apa dengan Seohyun?

 

“Apa kau pernah berpikir bahwa kau telah membunuh sosok dewi dalam dirinya?” tanya Eunhyuk. Pertanyaan itu membuat kening Kyuhyun berkerut.

 

“Apa maksudmu dengan membunuh sosok dewi?” tanya Kyuhyun.

 

“Dia tidak pernah sama seperti dulu, sejak kau pergi meninggalkannya. Dia berubah dari seorang gadis lembut dan memesona, menjadi mayat hidup yang tersiksa dan terluka.”

 

Kyuhyun menatap Eunhyuk tajam. Berharap Eunhyuk hanya bercanda. Mengerjainya di pertemuan pertama setelah tujuh tahun tidak bertemu. Tapi tidak ada kebohongan di mata pria itu. Eunhyuk mengatakan yang sebenarnya, entah mengapa Kyuhyun merasa ingin mencabik dirinya sendiri sekarang. Kotak yang di simpannya rapi tujuh tahun lalu, kotak yang tidak pernah di tengoknya, kini kembali terbuka. Kotak itu menyeruak dan mengeluarkan ledakan dahsyat yang perlahan menelusuri setiap sel dalam dirinya, jiwanya meronta, cinta itu menggelegak dalam dirinya. Cinta seorang Cho Kyuhyun pada Seo Joo Hyun.

 

“Tapi kau tidak perlu khawatir. Seohyun sudah menemukan prianya. Dan sepertinya kau juga sudah menemukan wanitamu.” Eunhyuk memandang wanita yang sudah mengganti pakaian pengantinnya dan sekarang berjalan menghampiri mereka.

 

Kyuhyun ingin bertanya lebih banyak. Tapi kehadiran Victoria membuatnya menahan semua hasratnya. Dia tidak ingin nunanya tahu masalah ini. Masa lalu yang kini hadir membentang, dihadapannya.

 

~

 

#Fifth Summer#

 

Shusi Resto Tokyo

 

Yoona melempar tasnya begitu saja di samping kursinya, dan dia duduk di depan Seohyun. Mereka berada di sebuah cafe di Tokyo. Yoona sedang menjalankan sebuah proyek desain di apartemen yang baru di renovasi di kota ini. Yoona bekerja sebegai desainer untuk interior ruangan. Tidak jauh berbeda dengan Donghae yang lebih berfokus pada desain mobil-mobil mewah. Hanya saja bisnis Donghae lebih luas dari itu. Perusahaannya bekerja sama dengan produsen mobil-mobil mewah dunia.

 

“Jadi kau sudah memberikan jawaban untuk Yonghwa?” tanya Yoona langsung. Padahal dia baru saja datang.

 

Seohyun menatap sahabatnya itu sejenak dan menggeleng, tatapannya beralih pada sushi di depannya,”Belum.”

 

“Bagaimana sih kau ini Seo, lelaki tidak bisa menunggu terlalu lama.” Yoona memasang wajah cemberutnya. Yoona tidak habis pikir bagaimana Yonghwa bisa sabar menghadapi Seohyun.

 

“Bagaimana aku bisa menjawab kalau aku tidak tahu jawabannya.” Seru Seohyun sebal. Dia juga pusing memikirkan hal ini.

 

“Kau masih belum tahu jawabannya?!” Yoona naik darah,”Kau mencintainya kan Seo?”

 

Seohyun menundukkan wajahnya, dia tidak tahu, apakah dia cukup mencintai yonghwa untuk yakin bahwa pria itu akan menjadi suaminya.

 

“Seo, menurutku, kau lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu daripada hidup dengan orang yang kau cintai tapi tidak mencintaimu. Aku sangat amat yakin bahwa Yonghwa mencintaimu.”

 

“Jadi, lebih baik dicintai daripada mencintai?” tanya Seohyun.

 

“Ya. Dengan begitu kau bisa hidup tenang karena dia akan mencurahkan semua perhatiannya padamu.”

 

“Tapi kita tidak bahagia.” Lanjut Seohyun.

 

“Kau tidak bahagia bersama Yonghwa?” tanya Yoona sarkastis,”Kau lebih mudah tersenyum jika bersamanya daripada jika bersamaku, atau Donghae, atau Leetuk oppa.”

 

“Entahlah Yoong, aku tidak ingin terburu-buru.”

 

“Seo, kau sudah 24 tahun. Kau sudah bisa memutuskan mana yang terbaik bagimu.”

 

Seohyun menatap Yoona dalam. Ya, seharusnya begitu. Sayangnya, dia tidak punya cukup kemampuan untuk menentukan hal ini. Lebih mudah baginya melakukan belasan operasi dalam satu Minggu daripada menjawab pertanyaan 4 kata dari Yonghwa. ‘Would you marry me?’

 

“Ehm.. Yoong, kau bilang lebih baik dicintai daripada mencintai. Apa kau hidup dengan Donghae karena dia mencintaimu, tapi kau tidak?”

 

Yoona tertawa melihat kepolosan sahabatnya itu,”Tidak Seo. Aku hidup dengannya karena kami saling mencintai. Option itu ada dalam hidupmu juga, kalau kau bisa menyadari perasaanmu yang sebenarnya. Siapa yang kau cintai? Yonghwa atau ada orang lain.”

 

Orang lain? Orang yang tidak pernah ingin Seohyun pikirkan selama tujuh tahun ini. Orang yang dia coba bunuh dari hatinya, sayangnya orang itu sudah menguasai hatinya, sehingga ketika Seohyun membunuh perasaannya itu, dia malah menyiksa hatinya sendiri. Siksaan itu meninggalkan luka dan terus menyiksanya, tapi perasaan itu tidak pernah benar-benar mati. Orang lain, Cho Kyuhyun. Perasaan itu muncul lagi, denyut nyeri luka yang tak pernah bisa disembuhkan. Yonghwa hanya membuatnya melupakan luka itu, Yonghwa tidak pernah bisa menyembuhkannya. Luka ini tak tersembuhkan.

 

Seohyun menghabiskan makannya dalam diam sementara Yoona sibuk mengadukan sahabatnya ini pada Donghae lewat telepon.

 

~

 

#Sixth Summer#

 

Hospital Garden, Seoul.

 

Awan bergumpalan di langit biru cerah. Seohyun menggenggam erat tangan Yonghwa sementara mereka menapaki jalan kecil di taman belakang rumah sakit.

 

“Oppa, maukah kau menungguku seminggu lagi?” Seohyun melemparkan pertanyaan itu. Berharap Yonghwa masih sabar menghadapinya.

 

“Aku sudah menunggumu selama tujuh tahun penuh, tidak masalah jika aku harus menunggu tujuh hari lagi.”

 

Seohyun tersenyum, mungkin benar kata Yoona, lebih baik hidup dengan orang yang mencintaimu, daripada dengan orang yang kau cintai tapi menyiksamu sepanjang hidupmu. Apa enaknya hidup tersiksa? Seohyun menatap Yonghwa, memantapkan hatinya untuk memilih.

 

~

 

#Seventh  Summer#

 

Kyuhyun House, London

 

Kyuhyun masuk ke dalam rumah megah yang ditinggalinya bersama Sulli dan Jaejong, rumah yang letaknya satu komplek dengan keluarga besarnya di London. Sulli terlihat sedang sibuk membenarkan pita besar yang melilit pinggang Krystal.

 

“Hi Crissy…” Kyuhyun menyapa Krystal yang sibuk berkomentar dengan cara Sulli mengikat pitanya. Krystal terlihat menawan dengan gaun putih gading yang membalut tubuhnya sempurna.

 

“Hi Kyuhyun Oppa.” Sapanya tanpa menoleh pada Kyuhyun.

 

“Fashion show lagi?” tanya Kyuhyun. Kyuhyun menjatuhkan dirinya di atas sofa.

 

“Selesai.” Sulli tersenyum lebar melihat hasil karyanya.

 

Krystal merengut, dia sebal kalau Sulli sudah menjadikannya boneka percobaan seperti ini.

 

“Ne oppa.” Sahut Krystal sebal.

 

Sulli menyeringai,”Siapa bilang? Aku mendandanimu sebegini cantik bukan buat main-main Cryssy.” Ucap Sulli.

 

Krystal mengerutkan keningnya bingung. Sejauh ini, Sulli selalu menjadikannya boneka percobaan, bahan praktek, Sulli yang kuliah di fakultas design menjadikannya manekin berjalan untuk mencoba baju-bajunya. Krystal sebal di suruh pakai baju ribet begini. Krystal lebih nyaman dengan kaus atau kemeja kedodoran andalannya. Tapi siapa yang bisa menolak puppy eyes Sulli yang menggemaskan, yang diakui Krystal bisa melumpuhkan saraf-saraf emosinya, membuatnya rela-rela saja jadi bahan percobaan. Mata yang sama yang dimiliki Kyuhyun. Tapi Krystal bingung kenapa mata itu tidak dimiliki Jaejong, mereka kan saudara.

 

“Siap?” sebuah suara membuat Krystal berbalik.

 

Jaejong berdiri di depannya dengan sebuket mawar merah, dan pria itu tersenyum padanya.

 

“Apa ini oppa?” tanya Krystal.

 

“Berkencanlah denganku.” Ucapan Jaejong itu membuat Krystal terhenyak. Kencan? Dengan ahjussi galak ini? Tapi Jaejong tampan sekali malam ini.

 

Sulli gemas dengan loading Krystal yang sangat lambat, jadi dia mendorong Krystal, membuatnya jatuh dalam pelukan Jaejong. Krystal menyeimbangkan tubuhnya dan bersiap menerkam Sulli. Tapi tangan Jaejong menahannya,”Nanti saja marahnya, malam ini kau bersamaku.”

 

Krystal tidak tahu harus berkata apa, ada seribu pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. Yang dia lakukan malah terpaksa mengikuti Jaejong yang mencengkeram lengannya erat dan menyeretnya keluar.

 

“Pulangnya jangan terlalu malam hyung!” teriak Kyuhyun sambil menyeringai,”Crissy semakin ganas saat bulan muncul.”

 

Ingin rasanya Krystal melemparkan sepatu hak runcingnya pada Kyuhyun, tapi dia dalam dekapan Jaejong sekarang.

 

“Tenang saja Dongsaengie, dia aman malam ini.” Seru Jaejong.

 

Sulli melihat kepergian sahabat dan kakaknya dengan senyum bahagia. Dia senang Jaejong mencintai Krystal, dia senang oppanya normal. Dia juga senang, sahabatnya dicintai orang yang benar. Krystal berbalik dan menghampiri oppanya yang satu lagi. Dia melihat oppanya datang dalam keadaan muram. Walaupun sekarang Kyuhyun tersenyum, dia tahu ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Kyuhyun.

 

“Kau kejam sekali Sulli.” Kyuhyun memeluk Sulli yang duduk di sampingnya.

 

“Wae oppa?” tanya Sulli heran.

 

“Seharusnya kau bilang dulu pada Krystal kalau Jaejong Hyung menyukainya, jadi dia tidak shock seperti tadi.” Kyuhyun menjawil hidung Sulli.

 

“Aaaah… biar surprise oppa!” Sulli terkekeh senang.

 

“Bagaimana kalau Cryssy mengamuk tadi?”

 

“Tidak akan oppa. Dia jinak kalau ada Jaejong oppa, dia kan takut sama Jae oppa. Hihihi….” Sulli senang sekali mengerjai sahabatnya itu. Tapi dia jauh lebih senang karena sahabatnya akan menjadi kakak iparnya.

 

“Dasar kau ini, jahat sekali pada sahabatmu sendiri.” Kyuhyun menjitak kepala Sulli pelan.

 

Sulli tersenyum dan menatap mata Kyuhyun, dia melihat guratan kesedihan di sana,”Lalu siapa yang menjahati oppa ku sampai dia sedih begini?” Sulli menyentuh pipi Kyuhyun, mengusapnya lembut.

 

“Sedih? Aku tidak sedih.” Kyuhyun mengelak.

 

Sulli menatap Kyuhyun, tatapan itu lembut dan menenangkan,”Aku mengenalmu seumur hidupku oppa. Aku tahu apa yang kau rasakan, walaupun aku tidak tahu apa penyebabnya. Nah, maukah kau memberitahuku apa yang membuatmu sedih kali ini?”

 

Kyuhyun menunduk, tidak ingin menatap Sulli, tidak ingin Sulli semakin membaca kesedihannya. Tapi ini adiknya. Bagian dari dirinya. Yang memahaminya. Kenapa dia harus menyembunyikan ini pada Sulli. Sulli sudah cukup dewasa untuk memahami.

 

“Kau masih ingat Seohyun?” tanya Kyuhyun.

 

Sulli mengangguk,”Aku ingat orang pertama yang merebut hatimu dariku oppa. Aku tidak bisa melupakannya.” Sulli terkekeh,”Ada apa dengannya? Kau bertemu dengannya?”

 

Kyuhyun menggeleng, dia menceritakan pertemuannya dengan Eunhyuk tadi. Menceritakan semuanya.

 

Sulli mendengarkan dengan sabar, ketika Kyuhyun sudah selesai bercerita, Sulli tersenyum lebar.

 

“Kau boleh mengambil semua koleksi gaunku kalau aku salah, tapi aku yakin kalau aku benar. Kau masih mencintai Seo Joo Hyun  kan oppa?” Kyuhyun tidak terkejut, dia tahu Sulli memahaminya lebih dari siapapun. Sulli lah tempatnya menangis jika dia butuh meluapkan emosinya.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab. Sulli sudah tahu jawabannya. Tapi apa yang dikatakan adiknya selanjutnyalah yang membuatnya tersentak. Membuatnya merasa limbung sekaligus dipenuhi energi aneh yang meletup-letup hebat dalam dirinya.

 

“Kejarlah Seohyun oennie, oppa! Menurutku dia layak untuk diperjuangkan, setelah semua hal yang kaulakukan ataupun yang ‘tidak’ kau lakukan padanya.”

 

 #apakah Kyu akan mengejar Seo untuk yang kedua kalinya? Apa Seo masih punya cukup hati dewi untuk bisa memaafkannya? what do you think, chingu?

One thought on “The Great Escape part 3

  1. Dulu di smtff sampe part ini juga? Aku lupa hampir semuanya. Inget2 cuma yang diceritain di part ini. Tetep bagus aja nulisnya.

    Idk sih cuma aku seokyu shipper dan kupikir ini ff seokyu. Ya kalo aku maunya seokyu berakhir bersama dan bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s