Sehat itu mahal

Standard

Beberapa menit sebelum 3-3-13 berlalu.

Hari ini minggu, aku bangun pagi-pagi dan menyiapkan diri dengan perlahan, kemudian  berjalan kaki ke kampus. Hari ini jalanan baik sekali. Udara segar. Tidak ada kemacetan. Karena ini hari minggu.

Aku berjalan naik ke lantai empat bersama sahabatku, olip. Hari ini dia mengenakan rok sasirangan lucu, rasanya warnanya orange, atau merah. Aku lupa. Lift mati, jadi kami berjalan melewati tangga.

Sampai di lantai empat Cuma ada Aldo si ketua acara yang datang.

Hari ini aku tidak berbicara di forum. Aku tidak mengerti. Mungkin karena aku ingat apa yang ayah bilang. Kendalikan. Atau aku lelah dengan ‘putri bodoh yang bicara keras tanpa melakukan apa-apa.’

Aku asyik dengan suasana, melupakan ketua himaku yang sangat baik. Aku mengajaknya mengedit proker. Tapi kemudian aku malah meninggalkannya sendirian.

Kemudian jam 11. Aku makan siang bersama zaid sungha dan the queen of shoes ‘mama’ aldis. Aku suka sambalnya, aku lapar. Jadi aku makan dengan cepat. Satu jam kemudian aku makan lagi, satu kotak lagi. Kemudian aku solat bersama ketua hima dan wakil 1. Aku ketiduran di musola. Sebelumnya aku ‘cigukan’ rasanya sangat tidak nyaman.

Bangun, aku bangkit dari musola, dan kembali ke lantai empat. Kepalaku pusing dan aku berbaring di depan kelas. Kemudian aku ke kamar mandi untuk muntah. Cayi menemukanku di sana dan mengantarku pulang ke kos. Aku tidak sempat izin dengan siapapun, bahkan dengan ka Latif yang kata Adis memintaku tinggal. Kepalaku rasanya di tusuk pisau, sakit sekali.

Kemudian Cayi mengantarku pulang naik motor Iyo. Sampai di kos aku tertidur. Aku bangun jam 6, berharap kondisiku baik. Tapi malah memburuk. Aku bangun, berguling, berjalan, dan tetap pusing. Aku muntah empat kali.

Aku minum obat dan kumuntahkan sendiri. Aku memikirkan diriku dan cita-citaku. Memikirkan orang-orang yang akan menjadi ‘pasien’. Dokter seperti apakah aku kelak, jika saat ini saja aku tidak bisa menangani diriku sendiri?

Adis , Rivana, dan Olip datang.seperti biasa tawa mereka mengundang. Aku merasa lebih baik. Sweet. Mereka membawakanku makanan. Ayam goreng sayap. Aku tidak berminat menyentuhnya karena sebelum muntah, makanan itulah yang kumakan dengan lahap. Tapi tetap saja, ada banyak nasi kotak yang tersisa, dan Ata yang makan siang denganku saja, membongkarkan dua kantong plastik besar untukku dan tidak menemukan sayap. Ata juga sweet, dia baik sekali.

Kemudian mereka merawatku seperti anak kecil. Membuatkan air gula, karena aku menolak minum oralit. Hello? Aku tidak diare, aku ‘vomit’. Kemudian seperti gadis kampung biasa, obatku hanyalah ‘dikerok’. Adis yang hidup nya dikelilingi modernitas, dengan sangat baik setuju untuk mengerokku. Berkata bahwa dia pernah mengerokkan ayahnya dan menggambar rumah di punggungnya.

Tugasku tidak berjalan dengan baik hari ini. Aku gagal. Tumbang. Sakit. Tapi aku bersyukur punya teman-teman yang memperhatikan. Tuhan begitu baik mengirimi mereka untuk berada di sisiku. Aku beruntung hidupku diletakkan di dekat mereka. Mereka adalah calon penyembuh sejati. Hari ini kami belum bisa menulis resep dan meminta orang ke apotek. Tapi mereka menyembuhkanku dengan cinta, dengan tawa, dengan kehadiran, perhatian yang indah, sederhana, namun berarti. Terimakasih semuanya.

 

One thought on “Sehat itu mahal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s