Sebuah Pengakuan

Standard

Gambar

 

Ini untuk teman yang kau tinggalkan,

Teman yang namanya tak kau ingat,

Teman yang menyeka air matamu,

Dan meraih tanganmu untuk di genggam,

Ketika yang lain melangkah pergi,

Tidak ada awal, hanya ada akhir.

 

Kepadanyalah kau berpaling,

Dialah yang kau panggil teman.

Dia tertawa bersamamu, dia menangis bersamamu,

Yang merasa bahwa adalah tugasnya,

Untuk mengingatkan betapa bernilainya dirimu,

Dan bahwa kau punya hati yang cantik

 

Ketika yang lain hanya bisa melihat,

Tampilan luarmu.

Mereka melihat gadis gemuk berkawat gigi,

Tanpa memedulikanmu mereka melangkah pergi.

Tapi di ada untuk berbisik kepadamu,

Ketika yang lain tak peduli.

 

Dia simpan rahasiamu di hatinya,

Rahasia yang bisa kau ceritakan kepadanya.

Kau tidak pernah sendirian,

Tapi kini dia sendiri, karena kau telah meninggalkan

Dia untuk berbagi tawa dengan yang lain,

Sambil berlarian dengan bebas.

 

Waktu telah melembutkan tubuh dan wajahmu,

Tapi dialah yang tahu keanggunanmu

Saat mereka yang kini kau sebut teman

Tidak melihat awal.. hanya akhir.

-C. S. Dweck (Chicken Soup For The Soul  IV-Kencan Pertamaku-)

 

Dear you,

Maaf untuk menjadi kurang ajar dan meninggalkanmu sendirian. Maaf karena tidak bisa memaksa diriku mematuhi peraturan waktu dan menumpuk tugas-tugas di saat seharusnya aku bersamamu. Maaf karena tidak bisa menjadi sahabat yang ada. Maaf karena sekali lagi aku gagal.

Aku merasa sangat bodoh dan menderita. Pertama aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan waktuku. Liburku. Tapi yang kudapat hanyalah setumpuk tugas yang tidak kunjung selesai. Karena kelalaianku. Kebodohanku. Maaf karena menjadi terlalu lemah untuk memaksa diriku bekerja lebih keras.

Maaf karena aku tidak memilih untuk memacu motor tuaku ke rumahmu dan ke kamarmu yang nyaman. Walaupun di situ aku tahu, tempat di mana aku bisa meringkung memeluk waktu. Mendapati dirimu di sisiku. Cukup untuk mengisi jiwa yang lapar akan persahabatan.

Maaf jika aku terlalu bodoh dalam memilih. Sehingga si otak kelabu yang lemah ini terlalu sulit untuk menyelesaikan tugas. Otot-otot kaku ini terlalu lambat menyelesaikan tugas. Maaf jika aku menjadi pemalas dan tidak bisa menghampirimu.

Orang lain akan meninggalkanku.

Orang lain melewatiku seperti waktu.

Tapi kau adalah sahabatku.

Yang kukecewakan berulang kali namun tetap menawarkan senyummu.

Karena satu hal yang mampu menghancurkanku hanyalah, ketika kau membalikkan badanmu.

Meninggalkanku seperti yang lain.

Seperti aku, si bodoh yang tidak menaati waktu.

-a Fool

ppt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s