Crapy Great

Standard

This short story present as a gift. For my second anniversary with wordpress. Thank you for this 2 years. Dan ini hadiah buat Olivia yang minta saya ngisi blog dengan cerpen. Hmmm… Elgin, Ethan, Sara, dan Davi adalah tokoh yang tidak nyata. Tapi mereka hidup. They live in my imagination. And I hope you like it mum. And… happy reading peoples.

^^

“Siapa dia El?” Sara meletakkan pantatnya di atas kursi panjang di kantin yang ribut. Matanya tertuju pada seorang laki-laki dengan rambut yang ditata laksana seorang model majalah vogue.

Elgin menggelengkan wajah sambil tertawa kecil,”Dont know, but maybe you can tell him. This is school. Not catwalk.”

“Why should me?” Sara melotot. Elgin cekikikan kemudian memutar matanya sarkas.

“Because you like would be fit with him. You two must be awesome for cover fashion magazine as Vogue.”

“Damn it!” Sara melemparkan pulpen ke arah Elgin yang sekarang mulai tertawa terbahak-bahak.

~

“So, we fail huh?” Sara menatap kertas ujian fisika yang baru di bagi.

Elgin memasukkan kertasnya ke dalam tas, kemudian mengeluarkannya lagi, menggulungnnya dan melemparnya ke tempat sampah,”I wont work with physyc.”

“But you apply for medical right?”

“Just because my mom not let me sign for design.”

Sara menarik nafas dalam dan membiarkan Elgin berlalu. Anak itu pasti lari ke ruang musik. Menabuh drumnya keras-keras. Mengeluarkan kekesalannya pada fisika. Atau pada keegoisan orang tuanya yang mengambil alih haknya sendiri untuk menentukan masa depan.

Sara memungut kertas ujian Elgin. Membukanya dan meremasnya ulang. Karena di sana bukan nilai 50 seperti miliknya yang tertera. Tapi 100. Elgin mendapat nilai sempurna. Dan Sara tahu itu membuat Elgin lebih sakit. Akan lebih mudah bagi Elgin untuk mendapat nilai 50 atau 0 sama sekali.

“Sulit menerima kenyataan, huh?” Sara melirik pria yang berdiri di pintu kelas. Menyandarkan badannya yang looks perfect, seratus delapan puluh sekian dan body shape yang cukup membuatnya menjadi ‘student I should be’ bagi cowok-cowok SMAnya yang too low too judge their self by body.

“Your welcome.” Sahut Sara sambil berlalu.

“Ethan.” Lelaki itu menatap Sara dalam, kakinya yang panjang menghalangi akses Sara keluar kelas.

“Dan, untuk kepentingan apa saya harus tahu nama anda?” Sara melayangkan tatapannya yang tajam, dan bulu matanya yang melengkung sempurna, dan matanya yang hijau terang ke arah Ethan.

Yang mau tidak mau membuat Ethan terpukau beberapa saat sebelum berhasil membuka mulutnya,”Ini dinamakan perkenalan dalam interaksi sosial, mam.”

Sara menarik nafas dalam, mendekap lengannya di dada, dan menunggu.

Ethan tersenyum, tapi kali ini, senyum bernilai komersil itu tidak menunjukkan efek yang sama sepeti sebelumnya. Sara tidak terkesima, atau terpikat, atau bahkan terlihat tertarik. Ia masih menunggu Ethan untuk menyingkirkan kakinya.

“I just want to know you. Do you like coffe?” tanya Ethan lembut.

“I not do cofee!” jawab Sara tegas.

“Good. So do I.” Tegasnya sambil berbalik, kemudian tanpa Sara sadari lelaki itu sudah menyergap lengannya, dan menariknya pergi.

Demi apapun juga, what the hell is he doing? Batin Sara berang.

~

“Jadi, itu aliranmu?” Elgin baru saja melepaskan headphone dari telinganya. Melempar sticknya ke sembarang tempat dan menyandarkan nyaris seluruh punggungnya ke dinding. Ia lelah. Dan ia tidak butuh seseorang yang mengomentari permainannya.

“The Elgin, Putri Kartini sekolah ini memainkan TCR daripada mozart. Menarik.” Elgin tidak membuka matanya untuk tahu siapa itu. karena dia tahu. Tahu benar kalau itu adalah Davi, preman sekolahnya. Preman which means in this fabolous Queking High School adalah the rhicest, the most handshome, and the most bad guy. Even he is the star here, Elgin tidak pernah tertarik dengan pria berotak kosong. Dan Davi adalah orang itu.

“Go away, Dav! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Elgin memutar kursinya dan menyandarkan keningnya ke dinding.

Tidak ada suara. Ketika ia membuka mata, Davi sudah ada di sisinya, bersandar ke dinding dengan tangan bertumpu santai di lututnya yang terbuka.

“All right. Thank you for help.” Elgin mengerang sambil meraih tasnya dan melangkah pergi. Tapi Elgin lupa kalau Davi cerdas. Dia memang bukan top student in math, tapi pria itu cukup cerdas untuk mengunci pintu studio. Yang demi apapun kedap suara. Dengan prilaku dan kericuhan yang dibuat Davi selama ini. Elgin tahu kalau dia bisa saja ditemukan telah menjadi mayat esok pagi.

“Mana kuncinya Ad?” Elgin bertanya dengan santai.

“Somewhere in my stomatch.”

“Kau menelannya? Lucu!”

Elgin bersiap untuk menendang pintu, tahu bahwa dia mungkin tidak berhasil, paling tidak mencoba.

“Simpan tenagamu El. I wont be badass. I just want talk.”

Elgin menatap Davi. Kemudian ia meletakkan tasnya lagi. Dan duduk bersila.

“I’m hearing.”

Davi menatap Elgin datar,”Kau mendaftar untuk Yale Medical School?”

Elgin tidak menjawab.

“Trust me El. You dont want to. You love draw. You’ll get in to design.”

Elgin sedikit terkejut. Ia tidak tahu kalau Davi memperhatikannya selama ini. Yang ia tahu Davi sibuk membuat kekacauan di sekolah. Berkelahi, membuat sekumpulan preman, dan membuat banyak luka. Tapi Davi bukan orang yang peduli padanya. Maksudnya Davi bukan Alfredo, atau Gin, atau Jack yang mengejar-ngejarnya satu kali dua puluh empat jam. Davi tidak menghiraukannya saat mereka berpapasan. Mereka berbicara seperlunya dalam tugas kelompok. Mereka bahkan nyaris tidak mengenal.

“I dont want to. But I have to.”

“You havent.” Ucap Davi nyaris berbisik.

Elgin tersenyum, ia menarik nafas dalam,”Kau Davi, you can do all you want. But I. I have to do what I need to do.”

Davi tersenyum, dan Elgin baru sadar kalau Davi punya dua lesung pipit di pipinya yang mulus.

“You dont need. Bukan kebutuhanmu untuk menyenangkan kedua orang tuamu.”

Elgin tersenyum,”Jadi bagaimana kau bisa tahu? Semacam stalker?” tanya Elgin.

Davi tersenyum,”Bukan. Im not your stalker. I am your Hero. Trust me. I am.”

Elgin ingin tertawa, tapi dia hanya tersenyum, karena seberapa besar pun ia ingin menolak, satu bagian dari hati kecilnya kali ini Davi tidak mengada-ada. Entah apa maksudnya. Ia tidak tahu. Tapi ia ingin percaya.

Davi bangkit dari duduknya, mengusap kepala Elgin pelan, dan membuka pintu dengan kunci di sakunya. Ia pergi. Elgin tinggal. Merasakan usapan tangan besar Davi tadi membuatnya jauh lebih tenang. Jauh lebih baik dari efek menggebuk drum habis-habisan yang dilakukannya sampai nyaris pingsan. Love is heal. Tapi ia tidak ingin setuju dengan itu sekarang. Dia tidak sedang jatuh cinta. Tidak.

~

Elgin tahu seharusnya ia tidak pulang. Seharusnya ia menginap saja di rumah Sara seperti malam-malam sebelumnya. Pulang membuatnya harus menghadapi nasib. Atau takdir memang telah menyergapnya. Atau ini adalah yang harus ia lakukan. Tapi telah diputuskan. Elgin Prananta ditunangkan dengan Davi Sagara. Oh crap.

“What? Davi? Davi yang itu?” Sara menatap Elgin bulat-bulat. Tangannya mengguncang bahu Elgin. Sedangkan perempuan dengan rambut kuncir kuda yang dikuncir sembarangan itu hanya menatap Sara dengan tatapan ‘terus Davi yang mana lagi?’

Sara menghela nafas dalam dan menunduk sedih,”I’m so sorry to hear that.”

Elgin mencengkram meja erat. Rasa kasihan Sara tidak berarti apa-apa baginya. Baginya nasib sudah diputuskan. Aneh. Aneh karena sekarang dia tidak mengalami emosi seperti kemarin. Jika ia bisa memainkan drum dengan ganas selama satu jam penuh karena nilai fisika itu, dia bisa menghancurkan drum dalam satu menit karena masalah ini. But she is calm right now. Like… like nothing happen.

“Sar, why is he here?” Elgin mendesis pelan. Sementara Sara melayangkan pandangannya ke pintu kelas. Mendapati Ethan yang berdiri dengan pesonannya yang sekarang mulai meng-afek Sara.

Ethan melangkah ke dalam ruangan, sesuatu yang tidak akan dilakukan anak lain. Karena in case, ketika Sara dan Elgin butuh berdua, tidak ada yang bisa mengganggu mereka.

“Life is crap princess?”

Tatapannya mengarah pada Elgin, sedikin mengejek.

“Hmmm… just when you step in.”

Ethan tertawa dan bersandar pada meja di hadapan Elgin, bahunya menyentuh Sara.

“He is not bad as you see. You just need open your eyes larger, and you will know that you are a lucky girl.” Ucapnya dengan lebih bersahabat. Bahunya yang bidang terlihat kokoh di samping Sara yang cenderung cantik, namun rapuh.

“Kau anak baru kan? Why you speak like you know everything?”

Ethan tertawa pelan, kemudian menunjuk jari manis di tangan kiri Elgin.

“The diamond speak, and by the way, I’m his cousin.”

Ethan membuka lengannya, menampakkan nametagnya yang sangat jelas besulam ‘Ethan Prananta’.

“Yes, life is crap.” Seru Elgin sambil mengangguk-angguk kecil. Ia kemudian melangkah pergi, berlalu tanpa menatap Sara,”I’ll pick you at four.”

“Just drive easy.” Ucap Sara khawatir.

Elgin hanya melambai tanpa berbalik.

“She is great, so thats way Davi easy on her.”

Sara menatap Ethan dan menarik napas dalam,”Okay Ethan, just tell me all that you know.”

Ethan tersenyum senang dan menatap Sara dalam,”before that, I want know all about you.”

Sara mengerang sebal dan menghepaskan dirinya di kursi. Menutupi wajahnya dengan tangan. Yeah, life is crap.

~

Elgin sudah siap menginjak gas outlander nya, jemarinya memutih karena menggenggam setir terlalu erat. Tapi Davi menghalangi mobilnya dengan lexus hitamnya.

Elgin menghempaskan dirinya di kursi supir dan mengerang pelan.

Davi keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca penumpang. Elgin membuka kunci pintunya.

“What now?” tanya Elgin kesal.

“What? I just wanna meet my engage.”

Elgin mendengus pelan,”Lucu Dav.”

Davi menatap Elgin.

“Kau harus memperbaiki devinisi lucumu itu El.”

~

Elgin menyandarkan dagunya di pintu kaca penumpang lexus yang terbuka. Davi membawanya pergi. Entah di mana ini. Setahu Elgin, mereka tidak lagi di jakarta. Suatu daerah di sekitar banten. Entah di mana. Tapi Elgin suka. Suka udara segar yang berhembus. Suka rumah-rumah kecil yang terlihat tentram di pinggir jalan. Suka suasananya. Dan suka Davi.

Elgin merasa kehadiran Davi membuatnya lebih baik. Walaupun kenyataan bahwa Davi adalah sebuah keputusan paksa yang di buat oleh orang tuanya untuknya. Tapi Davi yang memberinya kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri membuatnya merasa nyaman.

Handphone di sakunya bergetar.

“Ya mam?”

“Hmm..”

“Sama Davi.”

“Iya, bye.”

Dan yeah, Davi sudah cukup untuk membuat mamanya tidak bertanya macam-macam. Davi telah menerima semua kepercayaan yang bahkan tidak pernah ia dapatkan.

Elgin menatap Davi yang tampak tampan di balik setirnya. Elgin tidak pernah mengira di balik sifat keras Davi ia adalah pria yang nyaman dengan dirinya sendiri. Rambut Davi memiliki potongan yang rapi namun terlihat messy, membuatnya nampak manly. Kemejanya melekat dengan sopan di otot-otot lengannya yang muncul karena ia sedang menggenggam setir dengan santai.

“So, who is Ethan?”

Davi menoleh dengan santai, sebelah sudut bibirnya terangkat,”Dia tidak membuat masalah dengan Sara kan? Ethan bukan tipe pengacau.”

Elgin menatap Davi heran,”He is your cousin?”

“Yeah, and he like Sara. Dia menunjukkannya dengan jelas. Sejak hari pertama ia datang ke queking ia selalu menanyakan tentang Sara. Like I know saja.”

Elgin tertawa pelan,”Yeah, like you know.”

Davi kembali menatapnya. Tatapan yang lembut,”But I know you. And I like you Elgin.”

Seharusnya ia tidak gugup. Seharusnya tangannya tidak sedingin ini. Tapi cara Davi menyebut namanya. Mengatakan bahwa ia suka. Membuat respon yang tidak wajar pada tubuhnya.

“ Where we go?”tanya Elgin dalam usahanya untuk menutupi kegugupannya.

“Wait longer. Dan mama sudah bilang oke kan waktu kau bilang pergi denganku.”

“Mama tampak tidak ingin aku pulang terlalu cepat.”

“Dan itulah yang akan kita lakukan. Is it okay for you to night trafic?”

Elgin menggeleng,”Its okay. Asalkan aku tidak kurang satu apapun.”

“No less El. But more. You will more like me. Like me that much.”

“Kau punya harga diri yang tinggi tuan prananta.”

“Begitulah cara prananta dibesarkan.”

Elgin suka, suka cara Davi menghargai dirinya seperti ini.

~

Elgin melihat rumah itu sudah nampak tua, namun masih kokoh dan terawat. Lampu-lampunya menyala. Davi mendampinginya turun dan mengetuk pintu tua itu. seorang ibu paruh baya membuka pintunya dan mengecup pipi Davi dengan sayang.

“Ah, mereka pasti senang kau datang Davi. Dan… ini… pasti si cantik Elgin. Oh, Davi tidak melebih-lebihkan kecantikanmu. You sweet dear.”

Elgin sedikit kaget melihat bagaimana Davi disambut. Dan ia semakin terkejut karena tiba-tiba belasan anak kecil berlarian dari ruang belakang dan berebutan memeluk Davi. Davi menyapa mereka satu persatu. Mengelus kepala mereka dengan lembut.

“Ka Davi, ini siapa?” tanya seorang anak laki-laki dengan piyama biru.

“Itu pacarnya ka Davi. Yang sering ka Davi ceritakan.” Sahut anak perempuan yang rambutnya dikepang dua.

“Oh yang jago drum itu.” sahut anak perempuan yang memeluk boneka teddy bear.

“Yang jago gambar itu.” sahut anak lain yang lebih kecil.

“Yang jadi kesayangan nomor satu nya ka Davi.” Kata anak lain yang demi apapun membuat jantung Elgin nyaris melompat keluar dari tempatnya.

Davi menatap mereka sambil tertawa.

“Baik anak-anak, kembali ke meja makan. Ayo Davi Elgin, kita makan dulu.” Ibu pengasuh itu menggiring anak-anak ke dapur.

Setelah mereka pergi Elgin menatap Davi lembut,”Kesayangan nomor satu?” tanyanya pelan.

Davi tersenyum tampak sedikit malu, namun kemudian menggandeng Elgin untuk berjalan ke dapur.

~

“Pangeran dan putri hidup bahagia.” Elgin menutup buku dongengnya dan menatap anak-anak perempuan yang berkerumun di sekelilingnya dan menatapnya dengan mulut terbuka.

“Ceritanya sudah selesai. Ayo sekarang kalian harus tidur.”

“Kata Ka Davi ka Elgin lebih cantik dari princess ini, ternyata bener.” Anak kecil yang bernama viona menunjuk sampul buku dongeng putri salju yang baru di baca Elgin.

“Ka Elgin juga lebih baik, lebih kuat, belajarnya semangat.”

“Ka Davi bilang kita harus bisa kaya ka Elgin.”

“Mika mau jadi kaya ka Elgin. Kuat dan baik. Dan cantik.”

“Tapi gigi kamu kan hilang satu.”

“Tapi nanti tumbuh lagi, ya kan ka Elgin?”

Elgin tersenyum mendengarkan percakapan anak itu. ia memeluk mereka, mendekapnya dengan erat,”Kalian lebih kuat dari kakak, nanti suatu hari kalau kalian sudah seumur kakak, kalian akan tumbuh jauh lebih cantik dari kakak. Jauh lebih kuat. Jauh lebih hebat.”

Air matanya menetes. Bisa-bisanya ia menganggap hidupnya sulit. Sementara di sini. Anak-anak ini hidup tanpa pernah mengenal orang tua. Tapi mereka bahagia. Mereka optimis. Mereka memiliki mimpi.

~

Elgin membuka matanya saat Davi membangunkannya dengan menyentuh keningnya.

“Home.” Bisik Davi.

Elgin menegakkan tubuhnya dan menatap rumahnya yang berdiri megah. Jauh berbeda dengan rumah anak kecil tadi. Rumah yang tua dan hidup sekamar sembilan orang.

“Maaf ya pulangnya kemalaman.”

Elgin menatap jam di dashbor. Jam satu pagi. Kalau ia tidak pergi dengan Davi, mungkin mama sudah menelpon polisi untuk mencarinya.

“Besok pagi kujemput ya.” Ucap Davi sambil menatapnya lembut.

Elgin mengangguk dan memberikan jaket Davi kembali. Sebelum ia membuka pintu ia menatap Davi yang masih menatapnya,”I shouldnt like this, but I feel I like you Dav.”

Davi hanya menatapnya dan mengelus pipinya lembut,”dont be hurry, like me slowly.”

Elgin mengangguk,”I try to.”

Davi membuka pintu, Elgin turun. Davi menunggu sampai Elgin sudah masuk ke rumah. Kemudian berlalu.

~

“Gin, mama mau bicara dulu.” Mama meminta Elgin duduk saat perempuan itu meneguk susu coklatnya dengan cepat dan siap kabur.

Elgin menuruti mamanya dan duduk di kursi makan.

“ehm..” ibunya meletakkan sendok dan memulai dengan kesan eksklusif seperti biasanya,”Mama dan papa sudah memutuskan, kamu boleh mengambil kuliah fashion.”

Elgin nyaris bersorak girang tapi ia hanya melontarkan pertanyaan,”Kenapa ma?”

Mama mengambil sendoknya lagi dan berkata dengan cepat,”Yah, mama kira tidak ada bedanya. Kau akan bersama Davi nantinya, jadi tidak ada salahnya jika Davi merasa tidak masalah dengan bidang yang kau ambil.”

Davi? Jadi Davi yang berbicara pada orang tuanya? Elgin nyaris memeluk mamanya dengan erat. Tapi ia hanya mengecup pipi mama dan papanya dengan cepat.

“Thanks ma, pa.”

Thank youuuu Daviiii!! Soraknya dalam hati.

~

“Okey, Davi do this for you.” Ucap Sara sambil menatap Elgin yang mengumpulkan formulirnya ke meja TU. Sekolahnyalah yang akan mendaftarkannya ke fashion collage di new york.

Elgin tersenyum dan mengangguk.

“So, you are in to him?” tanya Sara sambil menatap Elgin tajam.

Elgin menarik nafas dalam,”And… you fall deep to HIM.” Elgin menekankan kata terakhir sambil melirik Ethan yang berjalan mendekati mereka.

“Sejak kapan Sara, we cant just talk two?”

Ethan meletakkan lengannya di bahu Sara,”Sejak the diamond speak.”

Ethan kembali mengejek cincin pertunangan di jari Elgin. Membuat Elgin menahan kemarahannya dan memilih untuk meninggalkan mereka berdua.

~

Life change from crape to great. Elgin tidak lagi frustasi karena orang tuanya membebaskannya. Karena kemanapun ia pergi, toh ia akan pergi bersama Davi, atau Sara. Jadi mereka tidak pernah mengurusinya kelewatan lagi. Sementara Elgin sendiri menikmati kebersamaannya dengan Davi. Mereka belajar bersama. Elgin menunggui Davi bermain futsal bersama teman-temannya, sementara ia dan Sara tanya jawab tentang soal-soal masuk perguruan tinggi. Sara mengambil international relation, dan yeah, she is with Ethan now. Ethan memilih international bussiness. Sedangkan Davi memilih arsitektur.

Elgin menemani Davi bermain basket. Davi menemaninya bermain musik. Menemaninya membaca novel-novel klasik di halaman belakang. Sedangkan Sara dan Ethan cekikikan menonton anime di ruang keluarga. Elgin, Ethan, Sara, dan Davi sering bermain uno hingga larut setelah memenuhi kepala mereka dengan soal-soal standar internasional yang rumit namun menyenangkan.

Elgin suka cara Davi memperhatikannya. Cara Davi minta diperhatikan. Davi sering menyediakan air putih untuknya di mobil. Sementara Elgin dengan sukarela menyiapakan peralatan Davi bermain tenis. Davi sering menyiapkan jaketnya untuk Elgin yang alergi dingin dan lupa memakai jaket. Dan Elgin suka menyiapkan makan siang untuk mereka di hari libur.

Elgin suka cara Davi memutar lagu kesukaannya di lexus mereka, dan Elgin dengan sukarela menemani Davi menonton bola sampai larut. Elgin suka cara Davi menghormati papa mamanya dan Elgin dengan riang menemani ibu Davi berbelanja keperluan bulanan berdua.

Ujian telah usai. Hasil kelulusan universitas juga sudah keluar. Mereka semua lulus. Ethan dan Sara di universitas colombia, sementara Davi dan Elgin di yale.

“We should buy winter clothes,” Elgin dan Davi sedang duduk di dalam mobil Elgin di parkiran. Mereka baru saja menerima surat penerimaan.

“Ibu bilang dia sudah menyiapkan tiket untuk kita,” seru Elgin riang.

Davi tidak bergerak atau membuka mulutnya.

Elgin menyentuh bahunya pelan,”What dear?”

Davi menatapnya, memegang jemarinya dan meletakkan tangannya ke atas pangkuan Elgin.

“Thanks for this time.” Bisiknya dari balik kemudi.

“What?” tanya Elgin bingung.

“We over.”

Elgin tidak berhasil menemukan suaranya.

“You have to catch your dream, and I catch mine.”

“Why over? we can go together.” Bisik Elgin.

Davi menahan dirinya untuk tidak menyentuh wanita yang ia cintai itu,”I should go to germany. Medical faculty.”

“What? Medical?”

Davi mengangguk,”Itu mimpiku El.”

“Why you dont tell me?” tanya Elgin.

“Karena kemarin, mimpimu lebih penting untuk diselamatkan. Now, you can go to reach it. You already take path. And I’ll take mine.” Davi menatapnya dengan senyum dingin. Senyum yang biasa ditemukan Elgin sebelum mereka bertunangan. Ketika Davi asing untuknya.

“So… you plan this?” tanya Elgin.

“To make you hurt?” tanya Davi, Elgin tidak menjawab, tapi Davi menjawabnya sendiri.”Yes, I plan this.”

Elgin menahan air matanya. Ia tidak menangis di hadapan laki-laki ini.

“Thank you, and good bye.” Ucap Davi sambil membuka pintu mobil Elgin. Namun sebelum pria itu ia berbalik dan mengulurkan tangannya.

Elgin menatapnya bingung.

”The ring please…?” pinta Davi dingin.

Elgin tidak mampu untuk mengucapkan apa-apa dan melepaskan cincin itu dan menyerahkannya pada Davi. Kemudian Davi menutup pintu supir. Meninggalkan Elgin yang diam di sana. Hingga Sara menemukannya dalam keadaan yang sama saat Davi meninggalkannya. Diam dan membeku.

~

“He is crap. But, not really…” Ethan duduk di sisi Elgin di kamar Elgin. Sara yang meminta Ethan datang, karena Elgin benar-benar tidak mengatakan apa-apa sejak hari itu. sudah tiga hari. Elgin belum mengucapkan satu kata pun. Hanya diam dan membisu.

“Dia selalu jadi yang membuat onar. Tapi dia juga selalu si pembuat solusi.” Ethan mengetukkan jarinya di atas bantal sofa.

“Selama ini dia memukuli anak Queking yang mencoba terlibat atau terjebak dengan sisi gelap pergaulan jakarta. Ia memberi pelajaran pada anak-anak yang mencoba memakai narkoba atau menjadi pengedar. Ia menjaga agar pergaulan di sekitar Queking dan sekolah sekitar bersih dari barang nista itu. Memang dari luar ia terlihat seperti si pembuat onar. Tapi sebenarnya dialah guardiannya.”

Ethan menjelaskan meski Elgin tidak meliriknya sama sekali.

“Ia sering membawa anak Queking yang manja ke panti asuhan. Mengajak mereka untuk merasakan betapa selama ini hidup kita serba cukup. Sementara di sana, yah banyak yang tertatih dengan masa depan tidak jelas. Ia melakukannya karena kau El.”

Ethan menarik napas dalam.

“Sejak kecil aku selalu bersama Davi, tapi saat smp aku harus pergi ke London. Sejak saat itu Davi selalu mengirimiku email. Ia bercerita tentang Elgin nya. Elgin si perempuan baja berhati salju. Dingin namun di sayangi semua orang. Keras tapi peduli. Ceria sekaligus muram. Ia memperhatikanmu sejak pertama kali ia bertemu denganmu. Dan ia menyukaimu bahkan sejak ia tidak bisa mendefinisikan arti suka itu.

“Ketika ayah dan ibunya memintanya untuk bertunangan denganmu, ia menolak. Tapi dari Sara aku tahu kalau kau butuh dia. Dan akhirnya dia setuju. Dia mau asalkan kau bisa memilih masa depanmu, fashion.

“And, I know how much you hate him right now. Yeah, he is crap because throw you like this. But I just know he do this for you. Apapun alasannya, kau tetap kesayangan Davi nomor satu.”

Untuk pertama kalinya setelah hari itu Elgin meneteskan air matanya, dan kemudian ia menangis, menangis dengan keras di pelukan Ethan.

~

7 years later…

“Iya Sara, ini udah cepet-cepet,” seorang perempuan dengan sneakers dan dress peach berlari kecil menerobos keramaian tokyo. Menuju sebuah butik dengan tulisan Creat di atasnya.

Ia terengah engah sambil menatap sahabatnya yang berdiri dengan gaun pengantin berwarna putih yang mengembang cantik. Sahabatnya yang bermata hijau mendengus sebal.

“Gimana sih El, kau niat tidak sih jadi designer gaun pengantnku?”

Elgin tertawa dan menoyor kepala Sara lembut,”Calon pengantin ga boleh marah-marah, pamali.” Ucapnya sambil meminta asistennya mengambilkan jarum untuk menandai lipatan yang membuat gaun itu semakin cantik di badan Sara.

“Si Ethan kapan ngepasin setelannya Sar? Masa ia nggak bisa ninggalin kantor sebentar.”

“Dia pengen semua beres sebelum hari H. jadi kita bisa liburan habis itu tanpa mikirin satu bisnis pun.”

“Ah, kalo Ethan nutup kantornya kalian juga udah bisa liburan sampai punya cicit.”

Kali ini giliran Sara yang menoyor kepala Elgin,”Memangnya hanya kau yang gila kerja. Sampai kabur ke Tokyo segala. Masa tega sama negara sendiri. Nyebar butik ke seantero dunia, tapi di negeri sendiri cuma ada satu. Nggak pernah ditengok lagi.”

Elgin tertawa menatap sahabatnya yang cemberut. Ah, dia rindu Sara. Rindu jakarta. Rindu rumah. Tapi terlalu banyak kenangan yang tidak ingin ia ingat. Ia sudah berhasil meraih mimpinya, mama papa juga sangat bangga padanya. Tapi ia masih belum bisa pulang, karena laki-laki itu juga hilang. Lenyap. Tanpa pernah mencarinya.

~

“El, bantu aku ngambil pesanan cincin ya, aku harus liat pesanan kue nih. Takut ada yang kelewat.” Sara mengecup pipi Elgin saat mereka sudah beres dengan urusan gaun.

Elgin hanya mengangguk dan beranjak pergi. Beginilah kalau punya sahabat yang cerewet. Semuanya minta di bantuin. Tapi dia senang. Ini untuk kebahagiaan Sara. Lagipula ia tidak perlu mengurusi bisnisnya. Ia punya asisten yang bisa di andalkan di setiap butiknya.

Elgin melangkah ke toko permata di lantai sepuluh mall of Tokyo.

“Pesanan dari Ethan Prananta ya pak,” ia menyebutkan nama Ethan pada pemilik toko.

“sudah diambil sama tuan.”

Elgin  mendengus sebal. kalau Ethan yang ngambil kenapa dia juga harus datang. Elgin mengucapkan terimakasih dan beranjak pergi. Saat itulah ia menemukan laki-laki itu di sana. Berdiri di depan mesin penjual air mineral, laki-laki itu berjalan ke arahnya dan menyerahkan air mineral.

Elgin  bergeming, Davi tidak berubah. Masih searogan dulu. Masih gagah seperti dulu. Dia tampak lebih tinggi. Lebih tinggi dari Ethan. Rambutnya lebih rapi namun masih terkesan berantakan. Dan matanya masih coklat lembut. Dan wanginya masih sama, tenang.

Davi menyerahkan air mineral pada Elgin yang tidak mengambilnya. Davi meraih tangan Elgin dan meletakkan botol mineral itu di sana.

“Dasar bodoh.” Ucapnya dengan decakan.

Elgin menatapnya tanpa bergerak, menatapnya dengan penuh kemarahan yang terkontrol.

“Aku mengambil cincin itu darimu supaya kau bisa membangun hubungan dengan orang lain selama aku pergi. Bukannya jadi perempuan sok tegar seperti itu.”

Astaga rasanya Elgin ingin menyiramkan air di genggamannya pada Davi. Setelah penantiannya selama ini. Setelah tujuh tahun yang panjang dan berat tanpa kehadiran Davi. Laki-laki itu malah menghinanya.

Davi menarik nafas dalam dan menatap Elgin lembut,”I miss you miss Elgin.”

Senyuman itu menghadirkan lesung pipit yang dalam. Yang menjadi kesukaan nomor satu Elgin. Yang ia rindukan selama ini.

“Lucu sekali Dav, lucu sekali…” geram Elgin kesal.

Davi tergelak. Kemudian setelah tawanya reda ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Kotak dengan lapisan kain brokat peach. Davi menyerahkannya pada Elgin. Elgin membuka kotak itu, dan cincin yang dulu Davi minta kini bertengger manis di sana.

“Kenap__?

“Marry me,” ucap Davi.

Elgin menatap Davi dengan mata bulat yang menggemaskan. Jantungnya berdegup kencang.

“Elgin Sagara, Marry me please…”

~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s