Light Up

Standard

1

 

Untuk Olivia: mungkin kau sudah menemukan ‘Ethan’-mu. Mungkin juga belum. But yeah, life is hard. And you did all the time. Kau sudah sampai sejauh ini. Dan perjalanan masih jauh. So, you will try again and again. This life is crap, but lovely too. Happy Ethan day. {jangan tanya, saya juga ga ngerti maksudnya apa, random ngetik dari langit masih biru tiba2 udah item aja. I finish this story in 4 hours}. Happy reading.😀

~

“Hei kecil, apa-apaan ini pulang-pulang malah nikah?” aku menatap Elgin yang masih menyurukkan dirinya di sofa sambil menyelimuti dirinya dengan selimut tebal putih pemberianku.

Elgin tertawa kecil,”Lucu ya mbak? Aku pergi buat sekolah. Taunya malah dapet calon suami?”

Aku menatap hujan yang jatuh di jendela Elgin yang tebal dan lebar, tes-tes-tes, menancap-nancap di hatiku.

“Not at all.. dia… baik.”

Aku merefer pada Kenzi, laki-laki hujan-nya Elgin. Elgin sekolah design ke Jepang, mengejar gelar fashion designer nya dan di tahun pertama dia malah kembali ke Indonesia. Karena dia bertemu Kenzi, dosen tamu, seorang arsitek yang mengajari tentang perspektif ruang. Aneh sekali.

Elgin tersenyum, sedikit lega, karena senyum itu berarti dia sudah benar-benar bahagia. Kehilangan cinta pertama bukan hal yang bagus. Dia beruntung cinta pertamanya kembali secepat ini.

“Oh mbak, besok Ethan sama Kenzi ngajakin naik gunung, ikutan ya?”

Aku mengernyit,”Your dream. Bisa-bisa asma ku kambuh.”

“Nggak lah, wong kita nggak nginep kok, Cuma nyampe danau singgan, abis itu balik. Mama juga pasti ngamuk kalau kita nginep.”

“Ya lagian, mustinya kan kamu di pingit.”

Elgin ketawa lagi,”You so old mbak. And by the way. I miss you so much” Elgin melemparkan dirinya ke dalam pelukanku.

Membuatku sesak dan berteriak,”El! I cant breath!”

“Biarin!” seru Elgin sambil mengeratkan pelukannya. DaSar anak ini!

~

“Nggak pulang Sar?” aku sedang mencuci piring setelah makan malam bersama Elgin dan keluarganya. Ethan, kakak satu-satunya Elgin. Si pembuat onar itu baru saja tiba.

“Kenapa sih mau ngusir aja?”

“Siapa yang ngusir sih Sar?” Ethan tersenyum menatapku sambil duduk di balik pantry. Badannya penuh peluh. Pasti habis sepedaan keliling kota bareng temen-temen jalannya.

“Eh Sar, masa kamu mau sih keduluan Elgin? Padahal aku selalu yakin kalo kamu duluan yang bakal nikah? Randy belum ngajakin ya?” sumpah ni orang satu emang minta dilempari piring kayaknya, bicara nggak ada remnya.

Aku berbalik sambil berkacak pinggang,”Hallo Ethan? Bukan aku yang hampir duapuluh tujuh tahun dan masih pengangguran dan nggak pernah pacaran seumur hidup!”

Ethan tertawa. Tawa yang renyah. Rambutnya yang basah karena keringat tampak berkilau di timpa lampu pantry yang kuning. Senyumnya penuh pesona. Astaga, Ethan masih belum berubah. Masih si Big Brother yang lovable dan bisa diandalkan. Walau sekarang dia pengangguran dan ga jelas juntrungannya.

“Iya deh bu dokter. Aku sih wajar Sar, laki mah tiga puluh belum nikah juga nggak papa. Lah kamu? Yakin nggak keduluan menopous?”

Aku menghela nafas panjang, orang ini benar-benar menguji kesabaranku,”Ethan Adam, denger ya, aku mau nikah kapan, punya anak kapan, menopouse kapan, itu bukan urusanmu! Jadi mending kamu mandi daripada nyebar kuman nggak jelas di dapur ini.”

“DaSar sok higine! Pantesan Randy males ngelamar kamu!”

“Ethaaaannnnnnnn!!!!!”

~

Aku meregangkan tubuhku, menghempaskannya ke ranjang di apartemenku di kawasan pinggir kota. Bertugas delapan belas jam sehari bukan ide yang bagus.

“Mbak, nggak ikut sih, seru tau! Danau nya oke banget!” aku menerima bbm itu jam empat tadi, tapi belum sempat membukanya karena hari ini pasien datang bertubi-tubi.

Elgin juga mengirimkan fotonya bareng Kenzi yang manis dan jangkung. Dibelakang mereka Ethan memeluk mereka dengan hangat dan penuh kasih sayang.

Ah laki-laki itu, kenapa sih aku mikirin kata-katanya kemarin. Bukan. Bukan aku tidak ingin menikah. Hanya saja Randy belum siap. Ia belum siap dengan segala macam tanggung jawab sebagai suami dan ayah. Aku nyaman-nyaman saja menjalani hubungan ini. Kami baik-baik saja. Dan semua baik-baik saja. Tapi si Ethan itu datang dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menembak tepat pada saSaran.

Aku masih mencintai Randy. Sangat mencintainya. Konyol jika mengakhiri hubungan ini hanya karena Randy belum siap. Karena akan tiba saatnya Randy siap, dan kami menikah, punya anak. Apa saat itu aku belum menapouse? Sial! Kenapa sih Ethan memunculkan ide-ide amin-amit begitu. Aku mematikan handphone menyingkirkan wajah Ethan dari hadapanku. Menutup mata. Mencoba tidur. Tapi bahkan dalam tidur. Ethanlah yang mengisi seluruh mimpiku. Sungguh menyebalkan.

~

Aku terbangun pagi itu dan mengecek koran di depan apartemen ketika kutemukan sebuah undangan. Warnanya putih, agak sedikit ranum, dengan ukiran bunga yang membosankan. Tapi tetap saja itu undangan pernikahan yang indah. Aku merapatkan jaketku dan membawanya masuk ke dalam.

Tidak berniat menghandiri undangan pernikahan siapapun hari minggu ini karena aku harus berada di tempat Elgin. Di kebun belakangnya, dengan mengenakan gaun peach yang sudah di rancang Elgin khusus untukku. Sedangkan ia sendiri mengenakan gaun rancangan mamanya Kenzi.

Aku mandi dan bersiap untuk pergi ke RS ketika aku tergerak untuk melihat undangan itu. membukanya. Aku tidak membaca yang lain-lain. Hanya dua kata yang berbaris di sana dengan tinta warna coklat yang sama membosankannya dengan ukiran bunga.

Randy Atmojo & Winna Byrne

Aku memaku beberapa detik sebelum meletakkan kembali undangan itu. juga tasku. Sepatuku. Dan semuanya. Aku tidak kerumah sakit hari ini.

Pintu apartemen terbuka pukul sepuluh pagi. Dua jam setelah aku membuka undangan itu. Elgin yang datang. Tampak terburu karena hanya mengenakan kaus dan kardigan yang biasa iya pakai di rumah. Memelukku. Diam. Dan memelukku.

“Mbak…” ucapnya.

“Nanti saja ya El.” Ucapku tanpa ekspresi.

Elgin mengangguk dan menggiringku ke kamar tidur. Aku berbaring dan tidak bangkit untuk waktu yang lama.

Saat aku bangkit dari ranjang untuk buang air kecil. Aku tidak menemukan Elgin di sana. Tadi samar kudengar dia pamit. Tidak ada Elgin. Hanya ada Ethan yang duduk manis di sofa membaca koran. Seperti seorang pialang saham saja. Padahal dia kan pengangguran kelas kakap.

Aku duduk di pantri dan meminum segelas air putih ketika menyadari serantang makanan di hadapanku.

Ethan menatapku sambil tersenyum,”Hei Sar, you look terrible. Sorry.” Ucapnya sambil tergelak. Ia kemudian mengeluarkan makanan dari rantang. Memindahnya ke piring-piring.

“Ayo makan,” ucapnya tampak seperti papa. Papa. Aku rindu papa.

Aku menggeleng,”Kau saja.”

Aku bangkit dan berjalan kembali ke kamar, kembali ke ranjangku. Tidak tidur. Terjaga dan memikirkan. Apa masalahku yang membuat Randy setega itu.

Ethan meraih tanganku dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Ia tinggi sekali. Aku hanya melihat dadanya yang bidang. Bidang? Ah, aku tidak cukup peduli padanya selama ini. Tubuh Randy cenderung pendek, aku sejajar dengannya, dan sedikit gemuk. Tidak ada otot yang menonjol seperti Ethan. Otot yang terbentuk karena dia suka olah raga.

Ethan meraih daguku,”sorry for disturbing your sadness, princess. But mom will kill me if you dont eat dinner tonight. She cooking with full efort.” Ethan tersenyum.

Mata Ethan coklat. Aku tidak pernah tahu kalau matanya coklat. Coklat lezat yang memikat.

Aku berjalan ke meja makan dan makan. Ethan menemaniku. Memakan bagiannya seolah tidak ada yang terjadi. Dia tidak menggodaku lagi, mengejekku, atau membuatku ingin marah. Sejujurnya itu yang kubutuhkan sekarang. Alasan untuk marah yang tidak terlihat konyol.

“Malam ini aku tidur di sini ya. Tenang saja, aku tidak akan dekat-dekat kamarmu. I sleep at sofa.” Ethan menatapku dengan lembut.

“Why? Kamu takut aku bunuh diri dengan lompat dari lantai 28 ini?”

Ethan mengernyitkan keningnya, menatapku dalam, dan memiringkan kepalanya. Seolah menilai.

“Apa?” tanyaku.

“Kurasa kau harus berpikir ulang dengan cara itu. kau takut ketinggian Sara.”

Aku terdiam. Seharusnya aku marah. Tapi cara Ethan mengucapkan namaku. Caranya mengucapkan Sara. Membuat hatiku menghangat. Hangat yang nyaman. Hangat di tengah bekunya es kutub selatan yang sunyi tak berpenghuni.

Dan fakta bahwa dia tahu aku takut ketinggian. Itu satu lagi alasan yang membuatku merasa berbunga. Tuhan. Pacarku baru saja mengirimkan undangan pernikahannya padaku. Dengan wanita lain yang aku tidak tahu siapa. Pacarku yang dua tahun ini mengumbar kemesraan dan janji-janji manis telah mematahkan semuanya. Meninggalkanku. Tapi sekarang. Aku malah berbunga-bunga karena laki-laki lain peduli padaku. Karena pria lain ini menemaniku. Tidak meninggalkanku seperti dia.

“So, its okay if I sleep here?” Ethan bertanya lagi sambil mengupas apel dan memotongnya, meletakkannya di atas piringku.

“Memangnya kau butuh izinku?”

Ethan tertawa pelan,”Tidak. Tentu saja aku akan menginap with out without your permission mam.”

Tante pasti sudah mengancam Ethan. Mungkin mengusirya dari rumah. Mengeluarkannya dari daftar warisan jika ia tidak menungguiku malam ini. Aku tahu tante, mama Ethan dan Elgin sangat menyayangiku. Menyayangiku layaknya seorang ibu. Dan kehilangan warisan bagi Ethan adalah masalah beSar. Diakan pengangguran.

~

“Pagi sleeping lady.” Ethan duduk di pantry dengan segelas teh entah darimana. Laptopnya terbuka di depan sofa. Menyala. Dan dia tampak segar dengan rambut yang basah setelah mandi. Ah, rupanya dia membawa banyak persiapan. Karena saat aku masuk kamar mandi tadi, aku menemukan sikat giginya bertengger manis di samping sikat gigiku. Hijau di samping orange. Manis.

Aku duduk di pantry dengan wajah yang basah. Ethan mengulurkan handuk kecil yang ada di sisinya. Aku meraihnya dan mengusapkannya di wajahku. Wangi Ethan segera menguar dan menempel di sana. Aku menarik nafas dalam, seolah itu adalah sesuatu yang harus kulakukan.

“So? Sudah siap jadi superhero lagi?” Ethan mengaduk teh yang ia siapkan untukku. Mendorongnya ke arahku.

Ethan selalu mengatakan pekerjaanku sebagai dokter adalah superhero.

Aku menggeleng,”Not now Ethan.”

Ethan tersenyum,”Okey. Kalau begitu you free right? We will go now.”

“Kemana?” tanyaku,”I just need sleep.”

Ethan menggelengkan kepalanya pelan,”No sleep more lady… we have a vacation. A secret vacation.”

Mungkin karena senyum yang mengembang di pipinya. Senyum yang menghiasi rahangnya yang tegas. Atau mata coklat nya yang lezat. Atau cara dia memanggilku lady. Entah apa, tapi rasanya yang kubutuhkan hanyalah mengikuti Ethan. Bersama Ethan. Jadi aku menurut saat ia memintaku mengganti pakaian dan menaiki Harrier yang dibelikan papanya dua bulan lalu.

~

Ethan sialan. Harusnya tadi aku menolak saat dia mengajakku pergi. Lihatlah sekarang. Aku sudah bertabur tanah. Celana katun warna khaki, kaus putih dan brokat coklat yang dibelikan Elgin diulang tahunku yang ke 24 tahun lalu.

Harriernya terparkir manis di pelatar kantor desa entah apa namanya. Sedangkan kami berjalan menapaki sebuah jalan sempit di tengah hutan. Ethan berjalan sabar di depanku. Memegang tanganku erat. Tangannya beSar. Dan hangat. Dan nyaman. Sial. Aku kan sedang marah padanya.

“Masih jauh nggak sih than?” desakku untuk ke seribu kalinya.

“Nggak, udah dekat kok Sar, sampai pohon yang gede itu.” dia menunjuk pohon besar dua ratus meter di depan kami. Dan itu sudah seribu kalinya dia manjawab seperti itu. sampai pohon gede itu. pohon di sini gede semua Ethan bego.

“Capek ya Sar. Sabar ya, kebayar lunas kok ntar.” Ethan tersenyum dengan alis yang menaungi matanya yang teduh. Ah kenapa aku nggak bisa marah sih sama cowok satu ini.

“Kalo nggak kebayar lunas, Harrier mu buat aku.”

Ethan tersenyum,”Deal, kalo mau sekalian rumah dan seluruh isinya.” Ucap Ethan yakin.

“Kayak kamu punya aja.” Aku tertawa miris.

Ethan tersenyum miris,”Ya kan seandainya aku punya Sar.”

Aku mengangguk-angguk,”Kenapa sih than nggak kerja, kamu kan lulusan cumlaud. Harvard bussines lagi. Paling nggak bantuin usaha om.” Papa Elgin dan Ethan punya perusahaan minyak dan permata yang merajai asia.

“Nggak ah, capek. Mending di rumah. Nemenin mama.”

“Tante kan juga suka temenin om pergi. Lagian om juga nggak sering pergi-pergi. Kantor juga deket kan.”

Ethan menatapku lembut,”Aku nggak tertarik sama penghasilan Sar, yang penting apa yang bisa kita lakukan dengan uang itu. nilai moralnya.”

Susah memang bicara sama pengangguran tuh. Belibet. Lari kemana-mana.

“Sampai nih Sar.”

Aku mengalihkan pandanganku pada Ethan dan melemparkannya ke pemandangan di depanku. Aku lupa bernafas untuk beberapa saat karena ini luar biasa. Kami berada di atas awan. Awan-awan mengambang di bawah kami. Memayungi bukit-bukit dan hamparan hijau yang membentang tak terbatas. Indah. Memukau.

“Sar, nafas dong Sar.” Ethan meremas tanganku dalam genggamannya. Aku mengerjap dan menarik nafas dalam.

“Bagus banget Than.”

Ethan tersenyum,”Sudah kubilang pasti kebayar lunas.”

Ini sih bukan lunas lagi. Tapi pake bunga. Bunga-bunga lili terhampar di bawah kakiku. Ungu di mana-mana. Indah sekali.

Ethan mengambil satu lili untukku, menyerahkannya padaku,”Sara, mungkin aku bukan orang yang pas buat bilang gini. Tapi yah, here I am.”

Ethan menatapku dalam,”Kadang, hidup memberi kita pukulan-pukulan berat yang kita pikir nggak sanggup buat lewatin. Kadang hidup kasih jalan yang sulit buat kita lewatin. Tapi hidup nggak sejahat itu kok Sar. Dia baik sama orang yang mau usaha. Kalo kamu nyerah di tengah jalan tadi. Dan memutuskan untuk balik sebelum sampai sini. Kamu nggak bakal bisa liat ini Sar. Ini hadiah kecil dari hidup buat kamu. Yang dia sembunyiin di balik perjalanan berat. Jadi Sara Tanashi, life is so beauty for beauty lady like you.”

Aku mengerjap dengan mata berkaca. Ethan yang berdiri di depanku. Lili ungu wangi diantara kami. Dan pemandangan indah di sekitar kami. Aku tidak melupakan Randy. Semua tentangnya masih ada dalam pikiranku. Tapi aku ikhlas. Aku ikhlas jika dia memilih yang lain. Aku ikhlas dia meninggalkanku. Mencampakkanku. Karena ya, hidup menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang Randy. Ada jutaan hal indah di dunia ini yang bisa kunikmati selain seorang Randy. Banyak sekali.

Sekuntum bunga. Jutaan kuntum bunga. Segumpal awan. Awan-awan yang berarak. Rumput hijau. Bukit-bukit. Hidupku. Tubuhku yang sempurna. Pekerjaanku. Itu semua cukup.

“Liat aku ya Sar,” Ethan berkata lagi, membuatku menatapnya.

“Ya?” tanyaku.

“Kalau sudah selesai sama Randy, liat aku ya. Aku di sini, masih suka sama kamu. Masih mau kamu jadi pendamping aku. Mendampingiku seumur hidupku. Di dunia manapun. Di alam apapun. Keinginan yang masih sama seperti dua puluh tahun belakangan ini Sar.” Aku membuka mulutku, apa? Dia menungguku selama 20 tahun? Jadi, dia sudah menyukaiku sejak pertama kali aku mengenalnya. Saat aku pindah ke rumah paman bibiku dan menjadi tetangganya. Sejak aku menggenggam tangan Elgin yang terjatuh karena dia mengejar Ethan yang menggodanya. Ah. Ethan. Kenapa aku tidak pernah melihatmu? Kenapa aku tidak pernah menyadari keberadaanmu?

“Makasih ya Than,” ucapku.

“Apapun buat kamu Sar.” Ucapnya.

“Apapun?” tanyaku.

Ethan mengangguk.

”Aku ingin terbang lebih tinggi than. Aku pingin merentangkan sayapku. Sama kamu, dan liat pemandangan ini dari tempat yang lebih tinggi.”

Ethan menggaruk tengkuknya,”Sebenarnya sih Sar, kalau diliat dari tempat yang tinggi banget nggak bakal keliatan sebagus ini, tapi kalau itu yang kamu mau, yah aku pikir-pikir dulu ya.”

“Ethann..” ucapku sambil merajuk.

“Eh, kok gitu sih, curang ah. Pulang sendirian nih?” Ethan mengancamku.

“Ih tega banget! Laporin tante loh!”

Ethan segera meringis,”Please dont try it Sar.”

Aku tergelak. Tentu. Tante akan membelaku daripada anaknya yang nakal ini. Tante akan dengan senang hati memarahinya jika tahu dia menyakitiku. Tante menyayangiku, seperti seorang ibu. Ibu yang sudah lama tak kutemui. Aku rindu ibu.

~

Pernikahan Elgin sudah seperti arisan keluarga saja. Sangat humble, sederhana, classic dan ceria. Sangat khas Elgin. Dan aku bahagia ketika Kenzi mencium keningnya. Merangkulnya hangat. Aku tahu pria Jepang itu akan menjaganya dengan baik. Aku menghembuskan nafas lega.

Sementara Ethan aneh sekali. Dia sibuk sekali melayani tamu-tamu yang tidak kukenal. Ia berbincang akrab dengan teman bisnis om. Dan teman-teman parlente nya yang lain. Tampak tidak seperti Ethan. Ethan yang ini tampak sangan berwibawa dan kebapakan.

Aku duduk di sofa sambil memeluk Anny, keponakannya Kenzi yang berumur dua tahun. Keluarganya Kenzi baik sekali. Mereka adalah konglomerat Jepang yang berpikiran terbuka. Mereka ramah dan tidak kaku seperti sifat orang Jepang biasanya.

“Eh, sejak kapan jadi baby sister,” aku mendapati Ethan yang nyengir lebar sambil melonggarkan dasinya. Duduk di sampingku.

“Ih, jangan ribut, Anny lagi tidur nih,” aku mencubit lengannya karena keributan yang dibuatnya.

“Eh Sar, kamu cocok juga jadi ibu. Nikah yuk, biar bisa punya anak?” sial. Kan Ethan mulai lagi.

Aku mencubitnya lebih keras,”Kamu pikir nikah gampang?”

“Gampang kok, liat aja si kecil Elgin, pulang, seminggu kemudian nikah.”

Aku memutar mataku,”Itu karena Kenzi adalah laki-laki hujannya. Lah kalo kita?”

“Kita kenapa Sar?” tanya Ethan. Matanya intens menatapku.

“Nikah kan butuh banyak persiapan untuk kehidupan setelah nikah Than. Kita butuh rumah, butuh tempat yang nyaman buat anak-anak kita, tabungan yang cukup buat masa depan mereka.”

Ethan menatapku dalam.

Aku menghela nafas,”Kamu kan tahu apartemenku kecil than. Ya masa kita mau desak-desakin anak kita di sana.”

Ethan menatapku lagi,”Kalau gitu yang bikin sulit cuma persiapan materi ya Sar, kalo perasaan, kamu nya udah siap lahir batin ya sama aku?”

Aku tidak mengiayakan. Hanya menatapnya datar. Senyumnya mengembang lebar.

“Kalo gitu masalah selesai.”

“Apa sih than? Kamu aneh deh.” Seruku sebal. karena sikapnya yang meledak-ledak.

“Ssssttt. Nanti Anny bangun.” Bisiknya. Ethan mencubit lenganku lembut, kemudian mengecup keningku pelan,”Latihan ngerawat anaknya yang rajin ya, biar cepet ketularan.”

Astaga. Aku hampir meleleh. Kalau saja Tuhan menciptakanku dari lilin, aku pasti sudah meleleh. Dan kalaupun Tuhan menciptakanku dari benda sekeras es batu. Aku pasti juga sudah meleleh. Karena ini Ethan. Ethan yang mencintaiku selama dua puluh tahun. Ethan si pembuat onar yang sayang sama mamanya. Ethan kakak yang usil tapi ngejagain adiknya banget. Ethan yang menungguku selama dua puluh tahun dengan sabar. Ethanku. Ethan yang kucintai dengan seluruh kesadaranku.

~

Setelah malam itu aku tidak menemukan Ethan. Tidak di apartemenku. Tidak pula di rumahnya. Biasanya Ethan bisa kau temukan di rumah. Karena kerjaannya Cuma bangun. Main sepeda. Sarapan. Berenang. Nonton CNN atau BBC. Menemani mama memasak. Tidur siang yang lama. Main tenis. Pulang. Di depan TV lagi. Begadang semalam suntuk di kamar di depan laptop yang kebuka. Entah melakukan apa. Itu hidupnya selama ini. Tapi setelah hari itu Ethan tidak ada di rumah. Tidak ada juga yang tahu kemana dia pergi. Elgin dan Kenzi sibuk mengunjungi sanak keluarga, Elgin bilang kakaknya lagi ngambil cuti ngusilin dia. Dasar adik durhaka. Tante dan om pun tidak tahu ketika kutanya. Ethan Cuma izin pergi. Biasanya dia mendaki bersama teman-teman mapalanya.

Sudah dua minggu. Aku memutuskan untuk mengunjungi mama papa di Jepang. Bagaimanapun aku merindukan mereka. Walaupun mereka memutuskan untuk menitipkanku pada paman dan bibi. Mereka tetap orang tuaku. Elgin cerewet banget ngingetin aku untuk bawa barang-barang keperluan selama di Jepang. Padahal biasanya aku yang riweuh nyiapin barang-barangnya kalo pergi-pergi. Menikah dengan Kenzi membuatnya lebih peduli, pada dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin perhatian dari Kenzi sudah cukup untuknya. Sehingga dia melimpahkan perhatian pada orang-orang di sekelilingnya.

Aku sedang berjalan dari kamar mandi untuk memasukkan sikat gigiku yang lupa kumasukkan ke tas kemarin waktu packing. Elgin mengingatkanku lewat sms keduapuluhnya sepagi ini. Ketika itu aku menemukan sikat gigi Ethan. Entah kenapa aku memasukkannya juga ke dalam tas. Aku sangat merindukannya.

Aku berjalan ke kamar untuk mengambil koperku yang sudah siap, ketika televisi di ruang tengah yang menemaniku mengemasi barang-barang sisa sepagian tadi membuatku mematung.

Siaran berita tv swasta yang menayangkan seorang pengusaha muda indonesia, yang masuk dalam jajaran 100 pemuda terkaya di dunia menurut forbes, mengakusisi tambang minyak terbesar di dunia yang terletak di eropa dan australia. Aku terhenyak selama beberapa saat. Pengusaha muda itu juga merupakan raksasa di bidang real estate, pertambangan, dan usaha-usaha lain yang aku tidak lagi cukup bisa mendengarnya. Karena aku terpaku pada pria yang ada di layar. Yang sedang bersalaman dengan Bill Gates, dan memberi kuliah di harvard bussiness school. Itu Ethan, pria yang kurindukan.

Terjawab sudah apa yang dilakukannya selama ini, mengurung diri di kamar semalaman suntuk bersama laptop di depannya. Kegemarannya menonton siaran berita. Dia adalah pemain dalam keheningan. Dia bermain dalam diam. Dan yap. Dia tidak bisa selamanya menyembunyikan. Karena prestasi pemuda semacan itu di indonesia belum ada sama sekali. Dan dia. Dia membuktikan bahwa di balik kepahitan hidup. Ada hadiah kecil yang indah.

Pengangguran itu ternyata pekerja keras. Pendaki itu ternyata multi jutawan. Pemuda itu ternyata pangeran.

Ah tapi dia sudah memilih meninggalkanku. Aku menghembuskan nafas. Mematikan televisi. Dan menyeret koperku. Aku ingin pulang. Aku butuh pulang.

~

Penerbangan ke Jepang membuatku tidur cukup banyak. Aku terbangun ketika pramugari membangunkanku dan menawariku makanan. Aku meminta air putih dan menegakkan lagi kursiku. Aku duduk di tepi jendela. Awan-awan di bawah kami. Langit biru membentang.

Di mana Ethan? Aku memimpikannya tadi. Aku memikirkannya setiap saat. Apa dia masih di amerika?

Apa dia jatuh cinta pada gadis bule bertubuh indah dan menikahinya seperti cara Randy meninggalkanku?

Aku tersenyum pada pramugari yang memberiku minuman dan berterimakasih padanya. Dia cantik. Dari nametag nya aku tahu namanya Arunda Keithwin.

Aku membuka tutup botol mineral itu dan mereguk airnya. Tenggerokanku terasa lega. Tapi hatiku tidak.

“Perhatian untuk para penumpang, saya captain Ethan Adam.” Aku mengenal suara itu, dan menahan nafas.

Ethan? Pilot pesawat ini Ethan?

“Sekarang kita berada 8000kaki di atas  kepulauan Higashi. Kita akan terbang rendah setinggi 2000 kaki.” Ia melanjutkan.

Aku masih belum bisa mencerna dengan benar. Melogikakan dengan baik apakah itu benar-benar Ethan adam? Ethan adam yang kerjaannya mengarungi hutan. Apakah dia sudah menaklukan angkasa sekarang?

Pengeras suara itu berbunyi lagi, “Seorang gadis yang suka tidur meminta satu hal pada saya. Suatu hari di bukit penuh lili, dia ingin melihat pemandangan itu di tempat yang lebih tinggi. Saya bilang padanya tidak akan terlihat kalau kita terbang di tempat yang tinggi sekali. Bukit itu hanya akan terlihat seperti ujung korek api. Tapi dia berkeras. Jadi saya berusaha untuk membuatnya sedikit lebih besar. Miss Sara Tanashi di bangku 22F, this is what you ask to me. A bunch of lili.”

Aku memandang ke bawah. Membentang pulau-pulau hijau yang indah. Dan di satu pulau yang paling besar, terlihat padang lili yang di tata, padang lili yang rimbun dan ungu, dan membentuk tiga kata, Marry Me Sara.

Aku terhenyak untuk beberapa saat. Tidak menghiraukan penumpang yang menatap takjub padaku. Aku terpaku pada pemandangan di bawah sana.

Pramugari bernama Arunda tadi menghampiriku, dan menyerahkan selembar kertas berwarna coklat muda klasik, aku menerimanya.

“Dear Sara, I do love you. Will you marry me?”

Aku terhenyak. Ethan. Seolah kejutannya belum cukup saja. Sial sekali. Aku menggoreskan pulpen di atas kertas itu dan menjawab.

“Ethan sayang, apapun untukmu.”

Aku menyerahkannya pada Arunda dan mengucapkan terimakasih. Arunda tersenyum padaku dan berbisik,”Selamat ya Mbak.”

Aku mengangguk. Terimakasih Arunda. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku sekarang.

~

“Jadi penumpang pesawat itu teman-teman bisnismu?” tanyaku.

Ethan mengangguk, tangannya bersandar ringan di atas lexus peraknya. Kami baru saja pulang dari mengunjungi orang tuaku. Ethan melamarku lagi di depan mereka. Dan mereka setuju saja. Selama aku bahagia, mereka setuju. Walaupun mereka tidak tahu siapa Ethan. Mama memelukku bahagia. Aku tahu mama menunggu saat-saat ini. Saat aku meminta izin padanya untuk menikah.

“Iya, mereka memaksa ikut. Jadi Gama, sahabatku mengurus semuanya. Dia yang mengatur tiketmu.”

“Jadi itu pesawatnya di sewa? Kamu nyewa pesawat cuma buat ngelamar aku? Astaga Ethan, aku tahu kamu kaya raya, tapi please, jangan buang-buang uang seenaknya gitu. Masih banyak yang butuh.”

Ethan memutar matanya dan tertawa pelan,”Dasar, kupikir pers sudah membeberkan banyak hal. Aku tidak ingin orang tahu apa yang sudah kuraih. Tapi gara-gara forbes itu. ck. Dan Mrs Sara Tanashi Adam. Aku tidak menyewa. Maskapai World Airland itu kubangun empat tahun lalu.”

Aku membuka mulutku lebar-lebar. Sialan sialan. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang calon suamiku ini.

“Jadi kau tidak menyewanya?”

Ethan menggeleng,”Tidak, hmm dan Sar, aku tahu kau ingin rumah yang besar untuk anak-anak kita nanti. Tapi, apa tidak masalah kalau kita tinggal di rumah mama saja. Kau tahu kan Kenzi dan Elgin akan menetap di Jepang. Rumah pasti sepi sekali kalau aku juga pergi. Tapi terserah kau saja, kalau kau tidak nyaman tinggal sama mama..”

“Ethan. Tante sudah menjadi ibuku selama 20 tahun ini. Dan ia lebih tahu aku daripada mamaku sendiri. Dan kalau tinggal bersamanya, kau pasti tidak akan macam-macam denganku, karena tante pasti tidak segan-segan menghajarmu.”

Ethan mengelus kepalaku pelan,”Tidak macam-macam? Aku tidak janji ya.” Ucapnya.

“Ethan!” seruku sebal. tapi aku tertawa.

Ethan ikut tertawa,”Apa tidak masalah ya kalau kita menikah minggu depan, nggak papa kan kalo kita pake perlengkapan bekas Elgin?”

Aku mengernyit, semua hal yang berbau pink, vintage, dan classic,”Aku tidak yakin bertahan di resepsi seperti itu.”

Ethan tergelak,”No baby, we will held a party of us. Base on us. Party that you love and arrange.”

Aku tersenyum,”Jadi nggak masalah kan kalo persiapannya lama, hmmm dua bulan lagi gimana?”

Ethan mengerang,”Aku tidak yakin bisa bertahan selama itu.”

“What?”

“Yah, I’m biliuner baby, I can get woman everywhere.”

“But not like me.”

Ethan tersenyum,”Ya, Cuma ada satu Sara yang kuinginkan.”

“Dan dua bulan lagi?” tawarku.

“No! Minggu depan!” Ethan berkeras

“Kamu kan udah nunggu 20 tahun, masa nunggu 2 bulan lagi aja nggak mau?” ucapku sebal.

“Pokoknya nggak ada nunggu lagi. 1 minggu aja bisanya.”

“Gimana persiapannya?”

“We have Elgin. Si kembang api yang pasti dengan senang hati mau ngurusin dan kita bisa bayar orang!”

“Save your money, Mr. Adam!”

“Minggu depan!” ia tidak goyah.

“2 bulan lagi!” seruku berkeras.

“Dont try Sara…!” erangnya pelan.

“iya iya… minggu depan.”

“I love you.” Bisiknya.

Aku tersenyum menatapnya.

“Love you Ethan Adam. I do love you.”

Jalanan Jepang yang mulus. Langit Jepang yang hitam. Dan pria Indonesia di sisiku. This is the greatest gift from world to me.

~

4 thoughts on “Light Up

  1. aku mau koprol, gangnam, nari tradisional, goyang itik, joged disko..apapun itu..
    ini udah jingkrak-jingkrak gaje kayak orang yang lagi grand mal gitu…
    lagi lagi lagi lagi lagi..
    aku akan dengan sangat antusias sekali nunggu cerita selanjutnya :3
    walopun itu nd nyangkut aku -.-…yang ini cukup

  2. Grand mal? hhhaha diazepam ma.
    iya, aku jd seneng cerpen nih gara2 mama. FF ku pada terbengkalai semua. oke oke.
    I do love you. thanks to support me doing this.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s