A Birthday To You Kakak…

Standard

pages

 

He is a brother I never have. He like a half wings that God let me know. He give me courage. He teach me to believe in my self.

Sudah nyaris delapan tahun berlalu saat hari pertama aku mengenalnya. Saat itu aku adalah anak dekil, dengan seragam putih biru yang kusam, jilbab yang berantakan, dan harga diri yang tercerai berai. Aku masih ingat, bagaimana aku mengawasinya dari lantai dua gedung sekolah tua kami. Kelasnya tepat di bawah kelasku. Saat baris, aku seringkali menyempatkan diri untuk mengintip ke bawah. He like to smile. He smile everytime.

Dia adalah yang populer di sekolah. Ketampanannya, kecerdasannya, kesopanannya, membuatnya di sukai guru dan teman-teman. But, I never have enough brave to know him. Bagiku, dia terlalu jauh untuk dicapai. Seorang teman yang cukup kukagumi dari jauh. Cukup untuk kulihat senyumannya setiap pagi. Cukup untuk mengawali suatu hari di tempat yang sama sekali asing.

Satu tahun berlalu. I’m lucky enaugh to meet him in one class in grade 2nd. Aku mulai mengenalnya. Mulai menjadi bagian dari hari-harinya, entah dia menyadari atau tidak. Dia orang baik. Peduli. Sedikit nakal. Seperti kebanyakan anak laki-laki. Tapi dia adalah sedikit dari anak laki-laki yang mau peduli pada gadis dengan seragam kusam dan sepatu bolong sepertiku.

Dia menjadi seperti sahabat. Dia ada dan begitu nyata. Kemudian di SMA. Dua tahun terakhir aku sudah cukup mengenalinya. Ada saat di mana dia adalah sahabat yang nyata. Ada saat di mana dia terjun di dunia miliknya yang bukan bagianku untuk mencampuri. Ada saatnya dia begitu familiar. Ada saatnya dia begitu asing. Bagaimanapun setiap kejadian yang terjadi di kelas itu. apapun yang terjadi, dia adalah yang pernah nyata dan masih nyata.

Dia adalah jawaban Tuhan pada doa-doaku yang menginginkan kakak laki-laki. Dia adalah hadiah yang tak ternilai dengan harga. Dia adalah kesejukan jika hidup terlalu pengap. Dia adalah kehangatan jika keheningan yang dingin tengah membelenggu. Dia adalah kakak, yang siap ada untukku. Yang menyanyikanku lagu-lagu pengantar tidur. Yang bersedia bangun tengah malam. Terjaga. Untuk menemaniku. Dia adalah laki-laki yang bisa kucari ketika aku sangat membutuhkan bantuan. Dia memberi pendapat, dia mendengar, dia menghargai, dan dia juga sedikit berbagi.

Ada kalanya aku merasa tak adil. Begitu sering aku mencarinya. Begitu sering ia menjadi peneguh ketika aku goyah. Menjadi penopang ketika aku membutuhkan bantuan. Tapi aku tidak membantunya sama sekali. Ia tidak membagi masalahnya denganku. Sedikit sekali yang aku tahu tentang harinya menyesakkan. Sedikit sekali yang aku tahu tentang bebannya sebagai putra sulung keluarga. Sedikit sekali yang dia bagi mengenai kerasnya kehidupan yang ia jalani.

Aku hanya bisa memantau. Kadang berharap dia mau sedikit saja berbagi masalahnya. Seperti bagaimana aku menumpahkan tangis dan amarah di pundaknya. Tidak benar-benar seperti itu. Tapi dia mendengar. Mendengar dan peduli. Dan aku berharap juga bisa memainkan peran yang sama ketika ia membutuhkan dorongan.

Aku ingin menjadi satu alasan kecil ia tersenyum. Walaupun aku bukan adik yang manis dan bisa dibanggakan. Tapi aku berharap ia bisa merasakan semangat yang kubagi untuknya. Harapan dan doa-doa yang terlantun untuknya. Kepercayaan penuh padanya.

Ia adalah laki-laki yang tangguh. Laki-laki berpotensi besar. Pemuda aset bangsa yang bernilai tinggi. Hanya saja jika ia tahu betapa besar potensi yang dimilikinya. Betapa besar tujuan yang bisa ia raih. Seberapa besar perubahan yang bisa ia lakukan untuk bangsa ini.

Hidup tidak bersikap manis pada mereka yang masih harus berjuang. Hidup tidak bersikap manis pada kakak dan aku. Tapi hidup menyimpan kebaikan-kebaikan yang bisa kita temukan di dalam hari-hari yang penuh berkah. Dan hari-hari yang bisa kubagi bersama kakak, adalah hari-hari seperti itu.

Aku bersyukur pada Tuhan karena diberi kesempatan untuk mengenalnya, pernah menjadi bagian dari hari-harinya, dan ada jutaan keping doa yang masih terhantar setiap hari. Mengiringinya dari jauh, dari kota tua yang panas dan pengap ini, ada harapan dari bilik kecil di hati seorang gadis, yang percaya, percaya bahwa kakak bisa. Percaya bahwa kakak bisa meraih mimpi-mimpinya.

Gadis dengan seragam kusam itu sudah beranjak dewasa. Tidak ada lagi gedung sekolah tua yang menjadi tepat untuknya mengagumi sang pria.

Pria itu telah tumbuh dewasa. Telah cukup banyak asam garam hidup yang ia cicip. Tapi ia tidak berhenti. Karena ia bukan laki-laki yang mudah menyerah. Ia bukan laki-laki yang mudah berhenti. Ia laki-laki yang percaya pada mimpi.

Selamat ulang tahun Mochamad Wirdan. Selamat ulang tahun kakak.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s