Find A Way Home

Standard

It have been long since I write about you.

How are you dear?

Itu adalah sore yang biasa. Seperti hari yang meredup bersamaan dengan langit yang memekat. Aku dan kamu duduk di sana. Tidak berkata apa-apa. Hanya sekedar saling tatap, diantara orang-orang yang berteriak.

Entah kau sekedar melihatku atau bahkan tidak. Sore ini, aku melihatmu. Aku memandangmu. Aku membacamu. Seperti yang telah kulakukan bertahun-tahun yang lalu. Membaca pikiran yang kau tulis melalui sorot mata yang sayu. Continue reading

Bingkisan Tuhan Bagi yang Tersesat

Standard

Jadi ya, saya itu hobi banget kesasar. Apalagi semenjak hidup di banjarmasin. Mau ke mana-mana itu mesti sama temen. Kalau nggak bisa makan waktu dua sampai tiga kali lipat daripada waktu tempuh normal dalam satu perjalanan. Bahkan untuk ke mini market di jalan sebelah aja sempet kesasar. Gara-gara pembangunan fly over yang jadi biang kemacetan sampai bikin jalan di banjarmasin berantakan.

Nah hari itu sudah sore. Jam setengah enam mungkin. Saya pulang dari rumah temen di kayu tangi. Habis latihan osce, ujian angker yang bikin anak2 fk setengah mati menghadapinya. Dari veteran ke kayu tangi sebenarnya nggak jauh banget. Cuma ya itu banyak bundaran dan belokannya. Yang bikin orang ‘lost-way’ semacam saya gampang ke sasar. Harusnya saya belok di belokan kedua, tapi dengan pedenya ngambil belokan pertama. Alhasil harus lewatin dua lampu merah dulu sebelum bisa puter balik dan kembali ke jalan yang benar.

Biasanya saya ngedumel sendiri memaki kebodohan saya. Tapi kali ini bentangan lukisan di jalan yang sesat itu bikin hati saya adem. Langit banjarmasin tuh seyogyanya nggak bagus-bagus amat. Itu bagi mereka yang tidak memperhatikan. Seringkali saya menjadi bagian dari mereka itu.

Tapi sore itu. langit banjarmasin indah banget. Jingga. Saga. Biru muda. Biru basah. Biru jernih. Biru gelap. Menyatu dengan lalu lintas banjarmasin yang padat. Para perempuan dengan jilbab yang memangku bayinya di boncengan belakang motor yang di bawa suami-suami dengan wajah yang santai. Damai.

Sore itu saya tersesat. Tapi kedamaian menyelinap. Menelusuri ruang-ruang hati saya yang kalap. Menenangkannya. Membelainya dengan warna. Keindahan itu ada di mana-mana. Di jalan, di tengah macet, di pasar pengap, di  rimba, di tempat kita tersesat. Buka mata lebar-lebar. Terus hiru udara yang dalam. Rasakan. Lihatlah sekeliling yang bergerak. Kita bagian dari mereka. Mereka bergerak di sekitar kita. Meskipun kita bukan poros. Menjadi pengamat ternyata menyenangkan.

Dan ketika gelap jatuh di langit-langit Banjarmasin. Saya berbisik pelan pada Dia yang tidak terlihat namun dengan kuasaNya. Mengizinkan kita untuk melihat bahkan dalam gelap.

‘Subhanallah… Alhamdulillah… Allahuakbar…’.

 

Hey yeah! Batakan Beach!

Standard

IMG_9858

Batakan Beach

We plan this at least since first time we have to plan something as group. Pasir yang lembut dan air yang jernih bukanlah bayangan saya saat kaki ini menjejak di halaman kampus unlam Banjarbaru. Rasanya lama sekali sejak terakhir kali saya ke Batakan. Mungkin saat masih SD bersama orang tua. Selama ini, if we need to go to beach we goes to Tangkisung. Batakan memang perlu waktu tempuh yang lebih jauh. Namun ternyata apa yang disajikan memang jauh lebih ‘memesona’.

Sulit memang mengatakan bahwa pantai di sini bagus. Dalam sisi kenyamanan. But really. Tuhan tidak pernah membuat kesalahan dalam penciptaan. Dalam apapun.

IMG_9861

Waktu teman saya menginjak gas nya memasuki wilayah Batakan. Saya tertegun dan termangap-mangap melihat keindahan pantai ini. Biru. Sejauh mata memandang. Ada horizon! Hhahaha how cheesy I am. Saya benar-benar tidak membayangkan akan menemukan horizon di pantai ini.

Tapi pantai ini Continue reading