Bingkisan Tuhan Bagi yang Tersesat

Standard

Jadi ya, saya itu hobi banget kesasar. Apalagi semenjak hidup di banjarmasin. Mau ke mana-mana itu mesti sama temen. Kalau nggak bisa makan waktu dua sampai tiga kali lipat daripada waktu tempuh normal dalam satu perjalanan. Bahkan untuk ke mini market di jalan sebelah aja sempet kesasar. Gara-gara pembangunan fly over yang jadi biang kemacetan sampai bikin jalan di banjarmasin berantakan.

Nah hari itu sudah sore. Jam setengah enam mungkin. Saya pulang dari rumah temen di kayu tangi. Habis latihan osce, ujian angker yang bikin anak2 fk setengah mati menghadapinya. Dari veteran ke kayu tangi sebenarnya nggak jauh banget. Cuma ya itu banyak bundaran dan belokannya. Yang bikin orang ‘lost-way’ semacam saya gampang ke sasar. Harusnya saya belok di belokan kedua, tapi dengan pedenya ngambil belokan pertama. Alhasil harus lewatin dua lampu merah dulu sebelum bisa puter balik dan kembali ke jalan yang benar.

Biasanya saya ngedumel sendiri memaki kebodohan saya. Tapi kali ini bentangan lukisan di jalan yang sesat itu bikin hati saya adem. Langit banjarmasin tuh seyogyanya nggak bagus-bagus amat. Itu bagi mereka yang tidak memperhatikan. Seringkali saya menjadi bagian dari mereka itu.

Tapi sore itu. langit banjarmasin indah banget. Jingga. Saga. Biru muda. Biru basah. Biru jernih. Biru gelap. Menyatu dengan lalu lintas banjarmasin yang padat. Para perempuan dengan jilbab yang memangku bayinya di boncengan belakang motor yang di bawa suami-suami dengan wajah yang santai. Damai.

Sore itu saya tersesat. Tapi kedamaian menyelinap. Menelusuri ruang-ruang hati saya yang kalap. Menenangkannya. Membelainya dengan warna. Keindahan itu ada di mana-mana. Di jalan, di tengah macet, di pasar pengap, di  rimba, di tempat kita tersesat. Buka mata lebar-lebar. Terus hiru udara yang dalam. Rasakan. Lihatlah sekeliling yang bergerak. Kita bagian dari mereka. Mereka bergerak di sekitar kita. Meskipun kita bukan poros. Menjadi pengamat ternyata menyenangkan.

Dan ketika gelap jatuh di langit-langit Banjarmasin. Saya berbisik pelan pada Dia yang tidak terlihat namun dengan kuasaNya. Mengizinkan kita untuk melihat bahkan dalam gelap.

‘Subhanallah… Alhamdulillah… Allahuakbar…’.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s