Find A Way Home

Standard

It have been long since I write about you.

How are you dear?

Itu adalah sore yang biasa. Seperti hari yang meredup bersamaan dengan langit yang memekat. Aku dan kamu duduk di sana. Tidak berkata apa-apa. Hanya sekedar saling tatap, diantara orang-orang yang berteriak.

Entah kau sekedar melihatku atau bahkan tidak. Sore ini, aku melihatmu. Aku memandangmu. Aku membacamu. Seperti yang telah kulakukan bertahun-tahun yang lalu. Membaca pikiran yang kau tulis melalui sorot mata yang sayu. Pipi merona itu lenyap dan memucat. Wajah tirus itu tidak lagi bulat dan sehat. We are apart. I thaught you’ll be fine. But here, right now. I’m tottaly wrong. Kamu tidak baik-baik saja. Kamu tidak pernah baik-baik saja.

Dibalik senyuman manis yang didambakan para pria itu, kau menyimpan kecut yang juga mengandung pahit. Bagaimana hidup memperlakukanmu akhir-akhir ini sahabat? Apakah ia mengajarimu dengan cara yang keji. Dengan cubitan halus tak tampak namun teramat pedih?

Ah, aku lupa. Kau adalah perempuan itu. perempuan yang jatuh cinta. Kau mencintainya dan selalu begitu. Aku adalah si bodoh yang memikirkan semua dari sisi manfaat. Hingga aku memberi lampu merah dengan plang silang besar ketika kau memilihnya. Karena my small brain wishpering me, he dont give you better life. Dulu.

Dulu.

Sudah berapa lama kita menghabiskan lebih banyak waktu sendiri-sendiri. Dengan masalah yang tidak lagi kita bagi. Dengan kata yang hanya terselip lewat pesan-pesan digital pendek. Lewat bungkus-bungkus kado yang di buat di hari yang spesial.

Kau bertumbuh. Begitu pula aku. Kamu bukan lagi perempuan yang menyerah dan pasrah. Aku bukan lagi si pengecut yang takut waktu akan menelan kebahagiaan sahabatnya. Atau takut masa depan yang gelap akan menghisapmu bulat-bulat.

We’ve changed my dear.

We grow up.

Aku masih si pemikir yang menerka-nerka apa yang akan terjadi kemudian. Dan kamu masih si pelaku yang melakukan semuanya diam-diam dan membiarkan semuanya terjadi, dalam sistematika pikiran yang menurutku seribet konstelasi bintang. Tapi seperti angka-angka dikalender yang sudah lewat. Aku melepaskan semua ketakutan dengan alasan masa depan. Masa depanmu.

Karena hari-hari yang panjang di tahun ini pelan-pelan merajutkan kesadaran. Itu milikmu. Hidupmu. Cintamu. Harimu. Badanmu. Airmatamu. Tawamu. Senyummu. Sakitmu. Bahagiamu.

Semua yang berakhiran –mu- itu adalah tanggung jawabmu.

Dan aku sudah bertindak sok tau dan childish. Seperti baby sister yang mengawasimu kesana kemari, melarangmu ini itu, membuatmu berhenti tumbuh.

Jarak dan waktu mengajarkanku dengan sabar.

I set you free.

You love him? Yes do it.

You want to spent all your time with him? Do that.

Jalani hidupmu dan nikmati.

Hanya saja dear, pastikan bahwa pipimu cukup merah untuk membiarkan dunia tahu bahwa kau bahagia. Dan tulang-tulangmu yang sering ngilu itu dibungkus daging yang cukup tebal untuk membuatnya tidak terlihat ringkih. You are beauty as a barbie. But you dont need to be as thin as those dolls.

Whatever you feel and decide. Even in one day of rush. Saat kau bertengkar dengannya, atau mengurusinya dengan segala kebutuhan dan sifat naluriahmu untuk memenuhi kebutuhannya, please make sure darl, in the end of the day. Saat matahari turun menggelincir dari awan jingga-jingga, saat kau duduk di kamar, sendirian dan nyaris terlelap. Pastikan saat itu kau bahagia. Bahagia dengan segala hal yang tidak sempurna, atas liku kehidupan yang membantingmu seperti adonan martabak, atas hidup yang kejam sekaligus baik, baik karena mengizinkamu merasakan semuanya. Feels everything around.

And once more.

Please remember. I always stay here. Listening your life song with a smile, gratitude, pray, and love.

 

Hugs

I even cant determine who I am for you, a friend always maybe?

 

Note: congratulation for those high mark.🙂

One thought on “Find A Way Home

  1. Anggriawan

    Jangan lihat dan perlakukan cinta dari bagaimana dia memperlakukanmu, Tapi lihat dan perlakukanlah dari caranya mendidikmu.

    Jangan sedih karena sahabatmu diperlakukan dengan pahit, tapi bahagialah karna cinta telah mendidiknya hingga menjadi seperti ini.

    Saat kamu memberikan ketulusan dan tidak mengharap balasan dari cinta, suatu saat dia akan memberikan lebih dari yang kamu harapkan.

    Suatu saat nanti kamu akan merasakan apa yang dia rasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s