I am Home

Standard

Tahukah rumah yang kau tuju? Itu aku.

 

 Gambar

 

Bagi anak kos seperti kami, rumah adalah tempat yang seringkali kami rindu. Frase yang seringkali membuat kelenjar lakrimal bekerja lebih aktif. Tempat di mana orang-orang yang kami cintai tinggal. Tempat di mana harapan-harapan tumbuh.

Tapi kadang, kami lupa. Kami lupa, bahwa di mana saja itu adalah rumah.

Sekarang, di sini. Bersama 101 kaki yang lain. Ruangan 8×8 meter itu adalah rumah. Kursi-kursi hitam dengan angin yang berdebur, dan jendela kaca yang jarang di buka, itu adalah rumah. Rumah yang kelak kami rindukan. Rumah yang akan kami kenang selamanya. Rumah yang sekarang, tempat kami bertemu mereka.

Bagi angin yang baru saja patah hati, rumah baginya adalah sahabat yang mendengarkan. Rumah baginya adalah tempat ia bisa membagi luka. Meski kadang, sahabat tidak bisa merasakan. Hanya mengasihani dalam kata, dan memberi semangat yang tak putus. Itulah intinya sahabat. Semangat yang tidak pernah putus.

Separah apapun luka yang kita rasakan. Seberat apapun masalahnya. Sahabat tidak akan mengatakan kita tidak mampu. Karena dia adalah rumah. Dengan bentuk benteng yang tinggi dan kokoh. Dia melindungi dan juga meneropong jauh, menerobos masa depan yang indah. Walau itu hanya sebatas keyakinan.

Sahabat adalah rumah.

Bagi dingin yang sedang belajar jatuh cinta. Rumah baginya adalah kesibukan. Mencintai pria yang tidak melihatnya adalah sesuatu yang sangat sulit. Dan mencintai pria yang enggan membentuk kata jauh lebih sulit. Kesibukan baginya adalah penyelamat. Tempat otaknya bisa memikirkan hal-hal lain. Tempat ia menyesakinya dengan berbagai macam pathogenesis dan patofisiologis, dan rancangan acara, dan cerita-cerita yang masih belum lunas.

Ia ingin belajar mencintai, ia ingin belajar di cintai. Tapi menghadapi laki-laki ini. Dia harus banyak bersabar. Kesibukan adalah rumah. Berbentuk pohon rindang dengan angin kencang dan suhu dingin. Melindungi, kadang juga menyakiti. Tapi dia percaya, tidak ada yang percuma.

Rumah adalah kamu. Dirimu sendiri. Yang kerap kali kau abaikan. Yang kerap kali kehilangan kepercayaanmu. Yang kerap kali merindukanmu. Yang kerap kali ingin bermesraan denganmu.

Rumah adalah jiwamu. Rumah adalah tubuhmu. Sadari keberadaannya. Dan nikmati ia dengan secangkir teh dengan sedikit gula di senja yang menjingga.

 

Ditulis dalam dekapan dingin yang menggigit

~@hayputrii

 Foto di ambil bersamaan dengan angin yang membelai lembut

~@punyaolivia

 

 

Advertisements

To My Grand Grand Grand Son

Standard

I’ve though that. This world. The net world. Will keep us more than this body can. Even your worse, your good, and experiences. If you share it in this ‘world’, it couldnt be erase. Except you delete and left it behind.

And this world, keep the memories better than our brain. Base on what we write and shared. Everybody will die. And wolrd will end. But since the day come, I just asking for how long this ‘world’ survive.

Will my grand grand grand son can open this write. And find that 100 years ago. His grand grand grand ma write this though in her room, in dark of Banjarmasin city, the city that very mess out. I talk about the garbage everywhere, people throw garbage in street, and spit the ‘sputum’ ‘yeiks’ in street. Will he read this and imagine how mess this city would be? And he compare with the sooo faaar more better Banjarmasin city right now in 100 later years. Or, he will just gaspering and say, ‘it never change grand ma’.

I just hope people change. Because people change everytime. But the different is, how much better the changes?